Equity World Futures - JAKARTA - Pemprov DKI Jakarta
dan Polda Metro Jaya memundurkan waktu ujicoba genap-ganjil yang semula
dilaksanakan pada 20 Juli menjadi 27 Juli hingga 26 Agustus 2016
mendatang.
Kasubdit BinGakum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP
Budiyanto mengatakan, penundaan uji coba tersebut dikarenakan masih
melakukan sosialisasi dan masih melakukan kelengkapan-kelengkapan
fasilitas atau sarana dan prasaranan yang akan digunakan pada uji coba
nanti. "Jadi ditunda, supaya ada waktu yang cukup untuk sosialisasi dan
penyiapan sarana prasarana itu. Kami lengkapi dulu semuanya. Biar semua
berjalan efisien," kata Budiyanto lkepada wartawan Kamis, 23 Juni 2016
kemarin.
Budiyanto menegaskan, penerapan sistem ganjil genap
tersebut nantinya akan berlangsung sesuai tanggal dan waktu yang telah
ditentukan. "Metode pelaksanaannya yaitu untuk kendaraan dengan plat
nomor ganjil beroperasi pada tanggal ganjil, sedangkan kendaraan genap
sebaliknya," tegasnya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi
Setiyono menegasan, Adapun jam operasional, ungkap Awi, yakni pada pagi
hari mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan 10.00 WIB, dan sore hari mulai
pukul 16.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. "Pelaksanaannya itu pada saat
jam sibuk," tukasnya. Equity World Futures
Jumat, 24 Juni 2016
Kamis, 23 Juni 2016
Ketimbang Brexit, Bankir Lebih Waspadai Risiko The Fed
Equity World Futures - Jakarta, CNN Indonesia --
Sentimen naiknya suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The
Federal Reserve (The Fed) agaknya lebih mengkhawatirkan pelaku perbankan
di Indonesia ketimbang isu hengkangnya Inggris dari persekutuan
negara-negara Uni Eropa (Brexit).
Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menuturkan, dampak The Fed lebih mempengaruhi perekonomian Indonesia dibandingkan referendum Inggris yang akan dilakukan Kamis (23/6) waktu setempat.
Kemungkinan Gubernur The Fed Janet Yellen mengerek Fed Fund Rate, kata Jahja, menjadi salah satu ukuran bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan suku bunga acuannya (BI rate). Apabila Fed tetap dipertahankan dalam waktu relatif lebih lama, ada peluang BI rate turun lagi.
"Namun, kalau Fed rate tidak naik-naik, saya kira, BI rate bisa turun lagi. Sejauh, inflasinya bisa dijaga tetap rendah," ujarnya, Kamis (23/6).
Sementara itu, Iman Noegroho Soeko, Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memprediksi, aksi Brexit hanya akan berdampak signifikan terhadap negara-negara di Eropa. Berbeda dengan dengan The Fed yang dinilai sangat memengaruhi kondisi pasar keuangan dalam negeri, salah satunya nilai tukar mata uang.
Kenaikan Fed fund rate dinilai membawa dampak langsung pada aliran modal asing yang keluar secara tiba-tiba (sudden reversal) yang selama ini berputar di pasar modal Indonesia. Hal itu akan mendorong nilai tukar rupiah terjerembab terhadap dolar.
Sementara, menurut Iman, keputusan Brexit hanya akan berdampak pada industri di Inggris yang kemungkinan akan ditinggal sebagian investornya akibat mengecilnya skala ekonomi negeri Ratu Elizabeth tersebut.
"Kebetulan Indonesia tidak banyak memasok kebutuhan sumber-sumber yang diperlukan industri dan jasa di Inggris. Jadi, dampak langsungnya kepada perekonomian Indonesia masih kecil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," pungkasnya. Equity World Futures
Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menuturkan, dampak The Fed lebih mempengaruhi perekonomian Indonesia dibandingkan referendum Inggris yang akan dilakukan Kamis (23/6) waktu setempat.
Kemungkinan Gubernur The Fed Janet Yellen mengerek Fed Fund Rate, kata Jahja, menjadi salah satu ukuran bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan suku bunga acuannya (BI rate). Apabila Fed tetap dipertahankan dalam waktu relatif lebih lama, ada peluang BI rate turun lagi.
"Namun, kalau Fed rate tidak naik-naik, saya kira, BI rate bisa turun lagi. Sejauh, inflasinya bisa dijaga tetap rendah," ujarnya, Kamis (23/6).
Sementara itu, Iman Noegroho Soeko, Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk memprediksi, aksi Brexit hanya akan berdampak signifikan terhadap negara-negara di Eropa. Berbeda dengan dengan The Fed yang dinilai sangat memengaruhi kondisi pasar keuangan dalam negeri, salah satunya nilai tukar mata uang.
Lihat juga:Media Inggris Tak Netral soal Referendum Brexit |
Kenaikan Fed fund rate dinilai membawa dampak langsung pada aliran modal asing yang keluar secara tiba-tiba (sudden reversal) yang selama ini berputar di pasar modal Indonesia. Hal itu akan mendorong nilai tukar rupiah terjerembab terhadap dolar.
Sementara, menurut Iman, keputusan Brexit hanya akan berdampak pada industri di Inggris yang kemungkinan akan ditinggal sebagian investornya akibat mengecilnya skala ekonomi negeri Ratu Elizabeth tersebut.
"Kebetulan Indonesia tidak banyak memasok kebutuhan sumber-sumber yang diperlukan industri dan jasa di Inggris. Jadi, dampak langsungnya kepada perekonomian Indonesia masih kecil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," pungkasnya. Equity World Futures
BEI: Brexit Tak Berdampak Besar Bagi Bursa Saham Dalam Negeri
Equity World Futures - Jakarta, CNN Indonesia --
Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai rencana Inggris keluar dari
persekutuan negara-negara Uni Eropa (Brexit) tidak berdampak kentara
bagi pergerakan bursa saham dalam negeri.
Namun, Tito Sulistio, Direktur Utama BEI mengakui, referendum Inggris tersebut memang sempat memengaruhi bursa global pada beberapa hari belakangan.
"Saya rasa dampak Brexit tidak langsung dan tidak signifikan. Kalau membuat ekonomi dunia terganggu, maka secara global terasa sekali,” ujarnya, Kamis (23/6).
Menurut
Tito, efek hengkangnya Inggris dari Uni Eropa perlu diihat secara
menyeluruh. Apabila tidak ada perubahan drastis terhadap perekonomian
global, maka efek negatifnya masih bisa ditekan.
"Harus dilihat seberapa besar negara-negara Uni Eropa itu terganggu kalau Inggris jadi keluar," katanya.
Ia mencontohkan, Inggris memproduksi baju dengan kualitas dan harga sesuai standar Uni Eropa yang bisa efisien dan menguntungkan, dengan nilai mata uang dagang yang cukup tinggi. Jika Inggris jadi hengkang, maka efek transaksi dagang yang ada harus dilihat lagi.
"Menurut
saya jika Inggris keluar, maka Uni Eropa bisa saja pecah. Negara-negara
yang mata uangnya meningkat gara-gara Inggris di dalam Uni Eropa, akan
terkena efek negatif," terang Tito.
Di sisi lain, Tito menyatakan, polemik Brexit seharusnya menjadi pembelajaran bagi Indonesia terkait hubungannya dengan negara-negara di Asean. Harus ada kesepahaman antara sesama anggota Asean untuk saling menguntungkan.
"Ini pembelajaran bagi kita. Bagaimana caranya negara-negara dalam Asean benar-benar saling menguntungkan. Karena prinsipnya Brexit berawal dari orang Inggris yang merasa untung jika sendiri," pungkasnya.
David Sutyanto, Kepala Riset First Asia Capital menuturkan, pelaku pasar tidak terlalu menggubris isu Brexit setelah adanya keyakinan referendum akan menghasilkan Inggris tetap bersama Uni Eropa. "Fokus pasar saat ini bergeser ke rencana kebijakan moneter The Fed," imbuh David.
Menurut dia, kebijakan kenaikan suku bunga di AS akan berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, menyusul perkembangan ekonomi negara tersebut yang sedang menghadapi sejumlah tantangan.
"Dolar AS sepanjang bulan ini melemah sekitar 2,6 persen, setelah pasar meyakini The Fed tidak akan menaikkan tingkat bunganya dalam waktu dekat," jelasnya.
Sebagai informasi, sejak akhir pekan lalu hingga penutupan perdagangan pada Rabu (22/6), Indeks Harga Saham Gabungan telah menguat 1,26 persen ke level 4.896, dari level 4.835 pada Jumat (17/6). Equity World Futures
Namun, Tito Sulistio, Direktur Utama BEI mengakui, referendum Inggris tersebut memang sempat memengaruhi bursa global pada beberapa hari belakangan.
"Saya rasa dampak Brexit tidak langsung dan tidak signifikan. Kalau membuat ekonomi dunia terganggu, maka secara global terasa sekali,” ujarnya, Kamis (23/6).
"Harus dilihat seberapa besar negara-negara Uni Eropa itu terganggu kalau Inggris jadi keluar," katanya.
Ia mencontohkan, Inggris memproduksi baju dengan kualitas dan harga sesuai standar Uni Eropa yang bisa efisien dan menguntungkan, dengan nilai mata uang dagang yang cukup tinggi. Jika Inggris jadi hengkang, maka efek transaksi dagang yang ada harus dilihat lagi.
Di sisi lain, Tito menyatakan, polemik Brexit seharusnya menjadi pembelajaran bagi Indonesia terkait hubungannya dengan negara-negara di Asean. Harus ada kesepahaman antara sesama anggota Asean untuk saling menguntungkan.
"Ini pembelajaran bagi kita. Bagaimana caranya negara-negara dalam Asean benar-benar saling menguntungkan. Karena prinsipnya Brexit berawal dari orang Inggris yang merasa untung jika sendiri," pungkasnya.
David Sutyanto, Kepala Riset First Asia Capital menuturkan, pelaku pasar tidak terlalu menggubris isu Brexit setelah adanya keyakinan referendum akan menghasilkan Inggris tetap bersama Uni Eropa. "Fokus pasar saat ini bergeser ke rencana kebijakan moneter The Fed," imbuh David.
Menurut dia, kebijakan kenaikan suku bunga di AS akan berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya, menyusul perkembangan ekonomi negara tersebut yang sedang menghadapi sejumlah tantangan.
"Dolar AS sepanjang bulan ini melemah sekitar 2,6 persen, setelah pasar meyakini The Fed tidak akan menaikkan tingkat bunganya dalam waktu dekat," jelasnya.
Sebagai informasi, sejak akhir pekan lalu hingga penutupan perdagangan pada Rabu (22/6), Indeks Harga Saham Gabungan telah menguat 1,26 persen ke level 4.896, dari level 4.835 pada Jumat (17/6). Equity World Futures
Bank Indonesia Akan Ubah Penghitungan BI Rate
Equity World Futures - JAKARTA - Bank Indonesia (BI)
berencana mengganti perhitungan suku bunga acuan (BI rate) saat ini,
dengan dasar perhitungan yang mengacu kepada bunga reserve repurchase agreement (reverse repo) tujuh hari. Saat ini acuan BI rate adalah suku bunga Bank Indonesia (SBI) 12 bulan.
Kabarnya, rencana penggantian acuan BI rate karena acuan tersebut dinilai tidak berkaitan langsung dengan pasar uang.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution menilai kebijakan ini dirancang lantaran selama ini, hubungan antara BI rate dengan inflasi tidak terlalu kuat. Karena itu, dibutuhkan instrumen baru untuk menjangkar inflasi. Equity World Futures
“Ya konsepnya. Memang kami sudah pernah membicarakan, bahwa misalnya tahun lalu itu kan inflasi cuma 3,35% dan BI ratenya 6,75% waktu itu. Padahal harusnya BI rate itu ada hubungannya dengan inflasi. Tapi kok bedanua sebanyak itu,” kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (14/4/2016).
Menurut bekas Gubernur BI ini, tidak sinkronnya antara BI rate dengan inflasi lantaran selama ini BI rate terlalu ditekan dari kurs rupiah dan aliran dana yang masuk (capital inflow).
"Artinya ada yang enggak ketangkap dengan baik, tapi ditekan dari kursnya. Akhirnya BI rate terlalu tertekan oleh urusan capital flow dan kurs," tandasnya. Equity World Futures
Kabarnya, rencana penggantian acuan BI rate karena acuan tersebut dinilai tidak berkaitan langsung dengan pasar uang.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution menilai kebijakan ini dirancang lantaran selama ini, hubungan antara BI rate dengan inflasi tidak terlalu kuat. Karena itu, dibutuhkan instrumen baru untuk menjangkar inflasi. Equity World Futures
“Ya konsepnya. Memang kami sudah pernah membicarakan, bahwa misalnya tahun lalu itu kan inflasi cuma 3,35% dan BI ratenya 6,75% waktu itu. Padahal harusnya BI rate itu ada hubungannya dengan inflasi. Tapi kok bedanua sebanyak itu,” kata dia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (14/4/2016).
Menurut bekas Gubernur BI ini, tidak sinkronnya antara BI rate dengan inflasi lantaran selama ini BI rate terlalu ditekan dari kurs rupiah dan aliran dana yang masuk (capital inflow).
"Artinya ada yang enggak ketangkap dengan baik, tapi ditekan dari kursnya. Akhirnya BI rate terlalu tertekan oleh urusan capital flow dan kurs," tandasnya. Equity World Futures
Langganan:
Postingan (Atom)



