Jumat, 12 Mei 2023

Equity World | Harga emas masih kembali melemah setelah dolar Amerika Serikat (AS) perkasa lagi.

Equity World | Harga emas masih kembali melemah setelah dolar Amerika Serikat (AS) perkasa lagi.

Equity World | Pada perdagangan Kamis (11//5/2023) harga emas di pasar spot ditutup di posisi US$ 2.015,55 per troy ons. Harganya melandai 0,69%.

Pelemahan kemarin memperpanjang tren negatif sang logam mulia yang juga melandai pada hari sebelumnya. Dalam dua hari terakhir, emas sudah melemah 0,92%.

Emas nyaris tidak bergerak pada hari ini.

Pada perdagangan Jumat (12/5/2023) pukul 06:30 WIB, harga emas di pasar spot internasional ada di posisi US$ 2.015,66 per troy ons. Harganya menguat sangat tipis yakni 0,005%.

Emas melemah setelah dolar AS kembali perkasa. Indeks dolar ditutup pada posisi 102,06 kemarin. Posisi tersebut adalah yang tertinggi dalam delapan hari terakhir.

Dolar AS adalah "musuh terbesar dan abadi" bagi emas. Keduanya bergerak saling berlawanan.  Penguatan dolar AS akan membuat emas semakin mahal dibeli dan tidak terjangkau sehingga tidak menarik. Begitu juga sebaliknya.

Dolar AS menguat karena pasar belum yakin dengan perubahan kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Pasalnya, inflasi dan indeks harga produsen menguat dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).

Pasar tenaga kerja memang sudah mendingin seperti terlihat dalam kenaikan jumlah klaim pengangguran.

Klaim pengangguran meningkat menjadi 245,25 ribu pada pekan yang berakhir pada 6 Mei 2023, dari 239,25 ribu pada pekan sebelumnya.

Inflasi AS memang melandai (year on year/yoy) menjadi 4,9% (year on year/yoy) pada April. Inflasi lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 5% juga dari Maret 2023 yang tercatat 5%.

Namun, inflasi justru meningkat bila dilihat dari bulan sebelumnya atau secara month to month (mtm). Inflasi pada April tercatat 0,4% (mtm), jauh lebih tinggi dibandingkan Maret (0,1%).
Indeks Harga Produsen (IPP) pada April melandai menjadi 2,3% (yoy) dari 2,7% (Yoy) pada Maret 2023.  Namun, IPP justru menguat mejadi 0,2% (mtm) pada April dibandingkan 0,2% pada Maret.

Dengan kondisi ini pasar pun ragu jika The Fed akan segera menahan apalagi memangkas suku bunga acuan pada Juni mendatang. Kondisi ini tentu saja menguntungkan dolar.

"Emas kesulitan menembus kisaran US$ 2.050 karena kondisinya justru mengarah ke bearish," tutur analis FX Daily, Zain Vawda.

Kamis, 11 Mei 2023

Equity World | Bursa Saham Asia Bervariasi Ikuti Wall Street Usai Rilis Data Inflasi Amerika Serikat

Equity World | Bursa Saham Asia Bervariasi Ikuti Wall Street Usai Rilis Data Inflasi Amerika Serikat

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik beragam pada perdagangan Kamis, (11/5/2023). Bursa saham Asia Pasifik yang bervariasi ini seiring wall street melihat reli saham teknologi karena inflasi Amerika Serikat yang naik, tetapi lebih rendah dari prediksi untuk April 2023.

Dikutip dari CNBC, indeks harga konsumen atau inflasi berada di posisi 4,9 persen. Inflasi tersebut lebih rendah dari prediksi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 5 persen. Secara bulan ke bulan, inflasi sesuai harapan dengan kenaikan 0,4 persen.

Investor di Asia akan mengamati dengan cermat inflasi dari China pada April, diprediksi mencapai 0,3 persen menurut jajak pendapat Reuters.

Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,46 persen, dan indeks Kosdaq bertambah 0,74 persen. Di Australia, indeks ASX 200 naik 0,12 persen. Di Jepang, indeks Nikkei mendatar, sedangkan indeks Topix melemah.

Sementara itu, indeks Hang Seng berjangka berada di posisi 19.725, angka ini lebih rendah dari penutupan terakhir di posisi 19.762.

Di Amerika Serikat, pada penutupan perdagangan wall street  indeks Nasdaq menguat 1,04 persen didorong kenaikan sektor saham teknologi. Hal ini seiring investor kembali melirik saham teknologi setelah inflasi melambat Amerika Serikat melambat. Indeks S&P 500 naik 0,45 persen, dan indeks Dow Jones melemah 0,09 persen.

Rabu, 10 Mei 2023

Equity World | Bursa Saham Asia Loyo Imbas Investor Menanti Rilis Data Inflasi AS

Equity World | Bursa Saham Asia Loyo Imbas Investor Menanti Rilis Data Inflasi AS

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Rabu, (10/5/2023) seiring investor menantikan inflasi Amerika Serikat (AS). Investor mencari petunjuk tentang jalur inflasi ke depan dan bagaimana selanjutnya langkah the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC, ekonom yang disurvei oleh Dow Jow prediksi inflasi meningkat 0,4 persen bulan ke bulan pada April 2023, dan 5 persen year over year. Inflasi inti yang tidak termasuk komponen makanan dan energi diperkirakan naik 0,4 persen.

Di Australia, indeks Australia ASX 200 melemah 0,31 persen setelah Australia sampaikan anggarannya pada Selasa malam. Australia mencatat surplus anggaran pertama sejak 2008. Indeks Nikkei Jepang dibuka susut 0,23 persen. Indeks Topix tergelincir 0,2 persen. Adapun Mitsubishis Corp mencatat rekor laba untuk tahun kedua berturut-turut, dengan laba bersih mencapai di atas 1 triliun yen untuk pertama kalinya, tepatnya mencapai USD 1,18 triliun yen atau setara USD 8,72 miliar.

Indeks Kospi Korea Selatan melemah tipis 0,14 persen. Kemudian menguat 0,3 persen.

Selain itu, indeks Hang Seng berjangka akan memperpanjang koreksi yang terjadi pada Selasa pekan ini. Indeks Hang Seng berjangka berada di posisi 1.960 dari penutupan perdagangan sebelumnya 19.867,58.

Di Amerika Serikat, tiga indeks acuan utama di wall street melemah. Indeks S&P 500 merosot 0,46 persen. Indeks Nasdaq terpangkas 0,6 persen. Indeks Dow Jones melemah 0,17 persen.

Sementara itu, analis Morgan Stanley prediksi saham A China akan memimpin fase berikutnya seiring pasar saham bullish di Asia.

“Harga setelah liburan Golden Week sangat menggembirakan. Indeks Shanghai mencapai level tertinggi dalam 10 bulan pada awal minggu,” tulis Morgan Stanley.

Morgan Stanley prediksi, CSI 300 mencapai 4.500 atau naik 11 persen. Pada perdagangan Selasa pekan ini, indeks CSI300 melemah 0,86 persen ke posisi 4.027,88, dengan penurunan dipimpin oleh sektor saham energi, teknologi dan industri.

Selasa, 09 Mei 2023

Equity World | Bursa Asia Pasifik Bervariasi, Investor Menanti Laporan Angka Perdagangan China

Equity World | Bursa Asia Pasifik Bervariasi, Investor Menanti Laporan Angka Perdagangan China

Equity World | Jakarta Bursa Asia dibuka bervariasi karena investor menunggu angka perdagangan China di bulan April yang akan dirilis.

Pasar saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi selain menjelang data perdagangan China bulan April, juga karena investor menantikan rilis angka inflasi AS akhir pekan ini.

China diproyeksikan mencatat surplus perdagangan sebesar USD 74,3 miliar, lebih rendah dari USD 88,2 miliar pada bulan Maret.

Melansir laman CNBC, Selasa (9/5/2023), di Australia, S&P/ASX 200 dibuka lebih rendah, dengan kontrak berjangka terikat pada indeks di 7.263 dibandingkan dengan penutupan terakhir di 7.276,5.

Di Jepang, kontrak berjangka Nikkei di Chicago berada di 29.045, sedangkan mitranya di Osaka berada di 29.040 melawan Nikkei 225. penutupan terakhir di 28.949.

Futures untuk indeks Hang Seng Hong Kong berdiri di 20.222, menandakan pembukaan yang lebih rendah dibandingkan dengan penutupan terakhir di 20.297,03.

Sebelumnya, wall street mengakhiri sesi bervariasi, dengan S&P 500 naik sedikit dan Nasdaq Composite naik 0,18 persen. Dow Jones Industrial Average tergelincir 0,17 persen.

Di sisi lain, surplus perdagangan Taiwan melonjak menjadi USD 6,71 miliar, level tertinggi sejak Oktober 2020 karena ekspor dari pulau itu turun kurang dari yang diharapkan untuk April, data pemerintah menunjukkan.

Ekspor turun 13,3 persen (yoy) menjadi USD 35,96 miliar, lebih rendah dari jajak pendapat ekonom Reuters yang memperkirakan penurunan 18,5 persen.

Sementara itu, impor turun lebih jauh sebesar 20,2 persen menjadi USD 29,25 miliar, tidak banyak berubah dari penurunan 20,1 persen yang terlihat di bulan sebelumnya.

Kementerian Keuangan Taiwan mengungkapkan bahwa pada bulan April, ekspor ke mitra dagang utamanya semuanya turun kecuali ke Jepang.

Ekspor ke Jepang tumbuh sebesar 19,8 persen, sementara ekspor ke China daratan dan Hong Kong mengalami penurunan terbesar dengan penurunan sebesar 22 persen.

Impor dari mitra dagang utamanya juga turun, dengan impor dari kawasan ASEAN memimpin kerugian dan turun 26,1 persen(yoy).