Equityworld Futures | Harga Emas Naik Gila-gilaan, Tembus Level Tertinggi Sepekan
Equityworld Futures | Harga emas naik gila-gilaan hingga menembus level tertinggi dalam sepekan pada perdagangan Senin (5/1/2026). Penguatan itu seiring meningkatnya permintaan aset safe haven setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer ke Venezuela.
Equityworld Futures | Harga Emas Naik Tajam usai Intervensi AS di Venezuela
Harga emas spot tercatat naik 2,57% ke level US$ 4.441,76 per ons troi, setelah sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 29 Desember di awal perdagangan. Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 4.550 per ons troi pada 26 Desember lalu.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup menguat 2,83% ke level US$ 4.452,2 per ons troi.
Analis menyebut eskalasi geopolitik terbaru kembali menguatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus Metals Germany, mengatakan situasi Venezuela menjadi katalis tambahan di tengah ketidakpastian global yang sudah ada.
“Situasi di Venezuela jelas mengaktifkan kembali permintaan safe haven. Ini terjadi di tengah kekhawatiran yang sudah berlangsung terkait geopolitik, pasokan energi, dan arah kebijakan moneter,” ujar Zumpfe dikutip dari CNBC internasional.
Pada Sabtu (3/1/2026), AS melancarkan serangan langsung ke Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro, yang menjadi intervensi paling terbuka Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan serangan lanjutan jika Caracas menolak membuka industri minyaknya dan gagal menghentikan perdagangan narkoba. Trump juga menyinggung potensi tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko terkait aliran narkotika ilegal.
Selasa, 06 Januari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Naik Gila-gilaan, Tembus Level Tertinggi Sepekan
Senin, 05 Januari 2026
Equityworld Futures | Sentimen Bullish Kuat, Harga Emas Berpotensi Tembus US$ 4.600 Pekan Ini
Equityworld Futures | Sentimen Bullish Kuat, Harga Emas Berpotensi Tembus US$ 4.600 Pekan Ini
Equityworld Futures | Pergerakan harga emas dunia masih menunjukkan bias positif dan membuka peluang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru pada pekan ini. Dukungan sentimen komunitas trader serta tingginya ketidakpastian global terus memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Equityworld Futures | Ramalan Terbaru Harga Emas Usai AS Invasi Venezuela, Naik ke Berapa?
Pada perdagangan Jumat (2/1/2026), harga emas spot ditutup menguat 0,36% ke level US$ 4.330,5 per ons troi. Sementara itu, rekor tertinggi sepanjang masa harga emas tercatat di US$ 4.550,11, yang dicapai pada 29 Desember 2025.
Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tren bullish emas masih berpotensi berlanjut selama tekanan beli tetap terjaga. Dalam skenario utama, harga emas diproyeksikan bergerak naik menuju area US$ 4.600 dalam sepekan ke depan.
“Level tersebut merupakan target psikologis penting yang berpotensi diuji jika harga mampu bertahan di atas area support kunci dan minat beli tetap solid,” ujar Andy dalam risetnya, baru-baru ini.
Waspadai Skenario Koreksi
Meski prospek penguatan masih terbuka, Andy mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati skenario alternatif. Jika harga emas berbalik arah dan menembus level kunci US$ 4.139, tekanan jual diperkirakan meningkat dan membuka peluang koreksi menuju US$ 4.025 dalam jangka waktu satu minggu.
Dari sisi sentimen pasar, data komunitas trader menunjukkan sekitar 61% pelaku pasar berada di posisi long (bullish), sementara 39% lainnya mengambil posisi short.
“Kondisi ini mencerminkan dominasi optimisme di kalangan trader ritel, meskipun porsi posisi short yang masih cukup besar berpotensi memicu volatilitas tinggi jika terjadi breakout harga,” jelasnya.
Menurut Andy, komposisi sentimen tersebut mengindikasikan pasar masih memiliki ruang pergerakan signifikan, baik menuju penguatan lanjutan maupun koreksi tajam jika terjadi perubahan sentimen secara cepat.
Faktor Fundamental Masih Mendukung
Secara fundamental, tren bullish emas tetap ditopang oleh ketidakpastian makroekonomi global serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Harga emas sebelumnya berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah seiring meningkatnya permintaan aset aman di tengah kekhawatiran ekonomi global.
Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve (The Fed) juga menjadi katalis positif. Spekulasi bahwa The Fed masih berpeluang memangkas suku bunga pada 2026 menopang minat beli emas, meskipun data ekonomi AS yang relatif solid berpotensi menunda kebijakan pelonggaran tersebut.
Dalam kondisi suku bunga rendah, emas menjadi semakin menarik karena menurunnya biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, meskipun sempat tertekan oleh aksi profit taking di akhir tahun, harga emas mampu bangkit dari level terendah dua pekan terakhir. Hal ini mencerminkan minat beli yang tetap kuat, terutama dari investor yang memanfaatkan koreksi sebagai momentum akumulasi.
“Selama support utama mampu dipertahankan, peluang harga emas untuk mencetak rekor tertinggi baru tetap terbuka, meski volatilitas jangka pendek diperkirakan masih tinggi,” tutup Andy.
Jumat, 02 Januari 2026
Equityworld Futures | Emas Awali 2026 di Zona Hijau, Mending Jual atau Beli?
Equityworld Futures | Emas Awali 2026 di Zona Hijau, Mending Jual atau Beli?
Equityworld Futures | Harga emas dunia mengawali perdagangan 2026 di zona hijau. Melanjutkan tren positif sepanjang 2025.
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak 64% sepanjang 2025, Bakal Terulang di 2026?
Pada Jumat (2/1/2026) pukul 07:22 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 4.336,1/troy ons. Naik 0,61% dibandingkan penutupan perdagangan sebelum libur Tahun Baru.
Harga emas masih berada di tren positif. Sepanjang tahun lalu, harga sang logam mulia meroket hampir 65%. Ini menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak 1979.
Sepertinya 2026 masih akan menjadi tahun yang gemilang bagi emas. Sejumlah institusi memperkirakan harga aset ini masih kuat menanjak.
Goldman Sachs Inc, misalnya, memperkirakan skenario dasar harga emas pada 2026 ada di US$ 4.900/troy ons. Bahkan ada potensi untuk lebih tinggi (upside).
Sementara Bob Michele dari JPMorgan Asset Management memperkirakan harga emas masih akan memberi kejutan pada 2026. Mengutip Bloomberg News, Michele memperkirakan harga emas tahun depan bisa menyentuh level US$ 5.000/troy ons.
Sedangkan ANZ Group Holdings Ltd dalam laporannya memperkirakan harga emas bisa memuncak di dekat US$ 4.800/troy ons sebelum akhir kuartal II-2026. Setelah itu, baru sepertinya harga emas bakal turun.
Kemudian, survei Bank of America Corp mengungkapkan bahwa emas akan menjadi pilihan investasi kedua terpopuler pada 2026 setelah yen Jepang. Emas bahkan mengalahkan aset-aset besar lainnya seperti dolar AS, euro, dan franc Swiss.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Jumat (2/1/2026)? Berapa saja target yang perlu dicermati pelaku pasar?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas bertengger di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 53.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dibilang cenderung netral.
Namun indikator Stochastic RSI sudah menyentuh 8. Jauh di bawah 20 yang berarti sangat jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, rasanya harga emas berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 4.341/troy ons.
Dari situ, harga emas berpotensi menguji resisten US$ 4.348/troy ons. Resisten lanjutan ada di US$ 4.413/troy ons.
Akan tetapi kalau harga emas malah turun, maka target support terdekat adalah US$ 4.331/troy ons. Penembusan di titik ini berisiko memangkas harga ke rentang US$ 4.324-4.314/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh adalah US$ 4.304/troy ons.
Rabu, 31 Desember 2025
Equityworld Futures | Harga Emas & Perak Meledak Lagi, Semua Karena Ulah China
Equityworld Futures | Harga Emas & Perak Meledak Lagi, Semua Karena Ulah China
Equityworld Futures | Harga emas dan perak berhasil rebound usai ambruk pada perdagangan sebelumnya. Kedua logam tersebut bersiap menutup tahun terbaik dalam lebih dari empat dekade.
Equityworld Futures | Perang Logam Dimulai: Harga Emas dan Perak Bangkit, Reli Masih Panjang?
Pada perdagangan Selasa (30/12/2025), harga emas dunia naik 0,34% di level US$4.346,20 per troy ons. Penguatan tersebut menjadi kabar baik usai ambruk tajam hingga 4% lebih pada Senin. Kenaikan salah satunya dipicu ketengan China-Taiwan.
Pada perdagangan hari ini Rabu (31/12/2025) hingga pukul 06.48 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,23% di posisi US$4.336,34 per troy ons.
Logam mulia pulih pada perdagangan Selasa, setelah jatuh tajam pada sesi sebelumnya, karena pasar kembali fokus pada risiko geopolitik dan ekonomi, menghidupkan kembali reli emas untuk menutup tahun terbaiknya sejak 1979.
Perkembangan geopolitik tetap menjadi fokus utama. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow akan merevisi posisi negosiasinya terhadap Ukraina setelah apa yang ia gambarkan sebagai dugaan serangan drone terhadap kediamannya, menambah ketidakpastian baru pada upaya perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat (AS) yang sudah goyah.
Komentar tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlanjut, mempertahankan permintaan safe-haven untuk emas dan logam mulia lainnya.
Ketegangan di Timur Tengah juga mendukung sentimen logam mulia setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa AS akan menyerang Iran lagi jika negara itu mencoba membangun kembali program nuklirnya.
"Saya harap mereka tidak mencoba membangun kekuatan militer lagi, karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan punya pilihan selain segera memberantas pembangunan kekuatan tersebut," ujar Trump.
Di Asia, sentimen risiko semakin diuji setelah China meluncurkan latihan militer dengan tembakan langsung selama sekitar 10 jam di sekitar Taiwan pada hari Selasa.
Emas telah menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik tahun ini, didukung oleh peran tradisionalnya sebagai lindung nilai terhadap gejolak geopolitik dan inflasi, serta oleh dolar yang lebih lemah.
"Kemarin kita melihat volatilitas yang sangat ekstrem di mana kita melihat pergerakan kuat dalam perdagangan Asia ke arah atas dan kemudian aksi ambil untung yang cukup besar, tetapi keadaan kembali stabil, perdagangan secara umum tetap menguntungkan," ujar Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Emas, yang dipandang sebagai aset safe-haven, telah melonjak 66% sepanjang tahun 2025, kenaikan paling tajam sejak 1979, didorong oleh kombinasi sempurna dari pelonggaran suku bunga, titik konflik geopolitik, pembelian yang kuat oleh bank sentral, dan aliran dana ke ETF yang didukung emas batangan.
Bank Sentral AS (The Federal Reserve) setuju untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Desember hanya setelah debat yang sangat bernuansa tentang risiko yang dihadapi ekonomi AS saat ini, menurut risalah sesi dua hari terakhir.
The Fed akan bertemu lagi pada 27-28 Januari, dengan investor saat ini memperkirakan suku bunga akan tetap tidak berubah.
Ekspektasi bahwa The Fed akan memberikan pemotongan suku bunga tambahan pada tahun 2026 juga telah mendukung logam mulia. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas, perak, dan platinum.
Terlepas dari faktor-faktor pendukung ini, penurunan tajam pada Senin mencerminkan konsolidasi yang sehat setelah reli yang panjang. Likuiditas yang tipis menjelang akhir tahun juga berkontribusi pada fluktuasi harga yang lebih tajam, memperkuat pergerakan yang didorong oleh aksi ambil untung di seluruh kompleks logam mulia.