Senin, 13 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Tergelincir di tengah Rencana AS Memblokade Selat Hormuz

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Tergelincir di tengah Rencana AS Memblokade Selat Hormuz

Equityworld Futures | Harga emas hari ini di pasar global tergelincir, karena rencana AS untuk memblokade Selat Hormuz meningkatkan risiko inflasi.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun ke Level Terendah Sepekan, Dolar Menguat dan Minyak Tembus US$100

Mengutip Bloomberg, Senin (13/4), harga emas spot turun 0,65% menjadi US$ 4.718,67 per troi ons pada pukul 17.05 WIB.

Harga emas sempat turun 2,2% ke bawah US$ 4.650 per troi ons, sebelum memangkas kerugian pada Senin sore. Kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi meningkat setelah perundingan perdamaian AS-Iran berakhir tanpa resolusi, dan rencana Washington untuk memblokade Selat Hormuz memperdalam guncangan pasokan energi global.

Militer AS mengatakan akan mulai memblokade pada pukul 10 pagi waktu wilayah Timur, setelah negosiasi akhir pekan dengan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengubah gencatan senjata menjadi perdamaian abadi.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan AS akan mencegat kapal apa pun yang telah membayar biaya kepada Iran untuk jalur aman melalui Hormuz.  

Lonjakan harga energi sejak konflik dimulai telah meningkatkan risiko inflasi, sehingga bank sentral lebih cenderung menunda pemangkasan suku bunga, atau bahkan menaikkannya. Ini berdampak negatif bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil. 

Nilai tukar dollar AS naik pada Senin, yang juga menjadi hambatan bagi harga emas, yang diperdagangkan dalam mata uang AS.

Paras Gupta, Kepala Manajemen Portofolio Asia di Union Bancaire Privee, mengatakan, peristiwa selama akhir pekan jelas membahayakan gencatan senjata yang rapuh dan kemungkinan akan memperpanjang konflik. "Namun, pergerakan harga emas kurang signifikan dibandingkan awal perang," imbuhnya mengutip Bloomberg, hari ini.

Dalam analisis awal mengenai dampak perang terhadap perekonomian Uncle Sam, inflasi Maret naik terbesar dalam hampir empat tahun. 

Menurut Manav Modi, Analis Di Motilal Oswal Financial Services Ltd., ekspektasi inflasi yang tinggi memperumit prospek kebijakan Federal Reserves, memperkuat lingkungan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. "Emas tetap terjebak di antara dukungan geopolitik dan hambatan makroekonomi," jelasnya, melansir Bloomberg, Senin (13/4). 

Harga emas telah turun sekitar 10% sejak konflik Timur Tengah dimulai pada akhir Februari. Krisis likuiditas pada minggu-minggu awal, mendorong investor menjual emas untuk menutupi kerugian pada aset lain. Baru-baru ini, emas telah pulih sebagian dari penurunan, karena fokus yang semakin meningkat pada perlambatan pertumbuhan ekonomi, mengimbangi risiko kenaikan suku bunga.

Daniel Hayes, Ahli Strategi Komoditas Senior di ANZ Banking Group Ltd., mengatakan, pergeseran ini seharusnya terus memberikan dukungan bagi harga emas meskipun terjadi penurunan pada Senin. Dia menduga harga emas bisa terancam ke level terendah pekan lalu di US$ 4.650 per troi ons, tetapi pada akhirnya akan bertahan di level ini. 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Kamis, 09 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Stabil di US$4.715 Kamis (9/4) Pagi, Menunggu Kejelasan Gencatan Senjata

Equityworld Futures | Harga Emas Stabil di US$4.715 Kamis (9/4) Pagi, Menunggu Kejelasan Gencatan Senjata

Equityworld Futures | Harga emas bergerak stabil pada Kamis (9/4/2026), seiring investor memilih menahan posisi sambil menunggu kejelasan terkait perkembangan pembicaraan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta rilis data inflasi utama AS.

Equityworld Futures | Harga Emas Tembus Level Tertinggi Tiga Pekan

Melansir Reuters, harga emas spot tercatat relatif tidak berubah di level US$4.715,42 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,8% menjadi US$4.739,20 per ons troi. 

Pelaku pasar masih mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon, yang memicu ancaman balasan dari Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan menyebut bahwa melanjutkan perundingan damai dengan AS menjadi “tidak masuk akal” di tengah kondisi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa situasi kawasan masih sangat volatil meski Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan gencatan senjata.

Tertekan Inflasi dan Suku Bunga

Sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, harga emas tercatat telah turun lebih dari 10%.

Kenaikan harga energi mendorong kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Risalah rapat Federal Reserve pada 17-18 Maret menunjukkan semakin banyak pejabat yang mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna menahan inflasi yang masih berada di atas target 2%.

Investor kini menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) Februari serta klaim pengangguran mingguan AS yang akan dirilis dalam waktu dekat, untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. 

Prospek Emas


Meski dalam jangka pendek bergerak terbatas, prospek emas dinilai masih positif di tengah ketidakpastian geopolitik.

Standard Chartered memperkirakan, harga emas berpotensi kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.

Logam Lain Bergerak Variatif

Di pasar logam lainnya, harga perak turun 0,4% menjadi US$73,83 per ons troi. Platinum melemah 0,2% ke US$2.025,75, sementara paladium naik 0,3% ke US$1.559,29. 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Rabu, 08 April 2026

Equityworld Futures | Wall Street Dibuka Memerah Selasa (7/4), Jelang Tenggat Trump ke Iran

Equityworld Futures | Wall Street Dibuka Memerah Selasa (7/4), Jelang Tenggat Trump ke Iran

Equityworld Futures | Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada Selasa (7/4/2026) seiring investor mencermati perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Naik di Atas 2%, Dipicu Harapan Gencatan Senjata Iran dan AS

Menjelang tenggat yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Melansir Reuters, pada pembukaan perdagangan, Indeks Dow Jones Industrial Average naik tipis 74,9 poin (0,16%) ke 46.744,76, S&P 500 turun 9,9 poin (0,15%) ke 6.601,93, dan Nasdaq Composite melemah 69,2 poin (0,31%) ke 21.927,087. 

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya telah menyerang target militer di Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, meski tidak berdampak pada infrastruktur energi.

Iran kemudian menyatakan tidak lagi akan menahan diri untuk menyerang infrastruktur negara-negara Teluk.

Komentar tersebut muncul menjelang tenggat Trump, yang hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda akan dipenuhi oleh Iran.

Sumber senior Iran menyebut pembicaraan damai hanya bisa dimulai jika serangan dihentikan.

“Apa yang terlihat dari reaksi pasar adalah pengakuan bahwa akhir konflik tidak sedekat yang diharapkan,” kata Chris Zaccarelli, Chief Investment Officer Northlight Asset Management. 

Ia menambahkan, konflik kemungkinan masih akan berlanjut dengan serangan lanjutan dan retorika yang semakin memanas, sehingga membuat pelaku pasar berada dalam posisi tidak nyaman dan mengantisipasi skenario yang lebih buruk.

Di sisi lain, pemerintah AS pada Senin mengumumkan kenaikan pembayaran kepada perusahaan asuransi swasta yang menyediakan program Medicare Advantage sebesar 2,48% rata-rata untuk 2027.

Kabar ini mendorong saham perusahaan asuransi kesehatan melonjak di pre-market, dengan: UnitedHealth Group naik sekitar 7%, Humana melonjak 9,9%, dan CVS Health menguat 7,3%.

Sebelumnya, Wall Street ditutup menguat pada Senin, menandai penguatan empat hari beruntun bagi S&P 500 dan Nasdaq, seiring investor mulai memposisikan diri menjelang musim laporan keuangan kuartalan.

Namun, sejak konflik Timur Tengah memanas, indeks S&P 500 telah turun sekitar 4%, setelah sebelumnya sempat pulih dari tekanan, terutama di sektor kredit swasta dan perusahaan perangkat lunak akibat kekhawatiran disrupsi berbasis AI.

UBS juga memangkas proyeksi indeks S&P 500 akhir 2026 menjadi 7.500 dari sebelumnya 7.700.

Pekan ini, pasar akan mencermati sejumlah data inflasi untuk melihat dampak kenaikan harga minyak terhadap tekanan harga.

Konflik Iran juga memperumit prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve, di tengah kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat dan pasar tenaga kerja yang masih kuat.

Investor juga akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed seperti Austan Goolsbee, Philip Jefferson, dan Mary Daly untuk petunjuk arah kebijakan selanjutnya.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Selasa, 07 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Masuk Fase Tekanan, Masih Bisa Menguat Lagi?

Equityworld Futures | Harga Emas Masuk Fase Tekanan, Masih Bisa Menguat Lagi?

Equityworld Futures | Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan, seiring kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang cenderung negatif. XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bearish yang cukup kuat, setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di area resistance penting.

Equityworld Futures | Harga Emas Stabil, Tenggat Waktu Trump untuk Iran Membuat Pasar Waspada

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal, pergerakan emas memperlihatkan sinyal pelemahan yang semakin jelas. Harga tidak mampu menembus area resistance sebelumnya dan justru membentuk pola candlestick bearish yang dominan.

"Pola ini mengindikasikan tekanan jual masih menguasai pasar. Selain itu, posisi harga yang telah menembus ke bawah indikator Moving Average 21 dan 34 semakin memperkuat konfirmasi tren penurunan dalam jangka menengah," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.

Geraldo menjelaskan, struktur bearish yang terbentuk saat ini membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan penurunan menuju area support terdekat. Dalam proyeksinya, apabila tekanan jual terus berlanjut, maka XAU/USD berpotensi turun ke level support pertama di kisaran 4.581.

"Bahkan, jika tekanan semakin kuat, harga dapat melanjutkan pelemahan hingga menyentuh support berikutnya di level 4.492," ujar dia. 

Skenario alternatif perlu diperhatikan pelaku pasar
Jika harga emas gagal melanjutkan penurunan dan justru mendapatkan dorongan beli, maka terdapat peluang rebound menuju area resistance di kisaran 4.708 hingga 4.786. Meski begitu, selama harga masih berada di bawah area resistance kunci, bias pergerakan cenderung tetap bearish.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas saat ini turut dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dalam kondisi pasar yang penuh risiko, investor seringkali beralih ke dolar AS karena dianggap lebih likuid dan aman dalam jangka pendek.

"Hal ini menyebabkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai menjadi relatif berkurang," ungkap dia.
Konflik geopolitik global menambah tekanan terhadap pasar
Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi, yang pada akhirnya mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas.

Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil, seperti obligasi, menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield. Akibatnya, aliran dana cenderung beralih ke aset-aset berbunga, sehingga menekan harga emas lebih lanjut. Kombinasi antara penguatan dolar, kebijakan moneter yang ketat, serta tekanan inflasi ini memperkuat prospek pelemahan XAU/USD dalam jangka pendek.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan arah baru bagi pergerakan harga emas. Setiap rilis data yang berkaitan dengan inflasi maupun kebijakan moneter berpotensi memicu volatilitas yang cukup tinggi di pasar logam mulia.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures melalui analis Geraldo menilai bahwa tren bearish pada emas masih cukup dominan untuk saat ini. Selama tidak ada perubahan signifikan baik dari sisi teknikal maupun fundamental, peluang penurunan harga masih terbuka lebar.

"Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi lanjutan pelemahan, sembari memperhatikan level-level kunci yang dapat menjadi penentu arah pergerakan harga emas berikutnya," kata dia.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami