Equity World | IHSG Unjuk Gigi ke 6.862 Usai Rilis Data Inflasi
Equity World | Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup di level 6.862 pada Rabu (1/2). Indeks saham menguat 22,91 poin atau plus 0,34 persen dari perdagangan sebelumnya.
Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp11.039 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 18.721 miliar saham.
Pada penutupan kali ini, 283 saham menguat, 220 terkoreksi, dan 220 lainnya stagnan.
Selaras, indeks sektoral mayoritas hijau. delapan dari 11 sektor menguat dipimpin transportasi sebesar 1,86 persen. Sementara tiga sektor lainnya melemah dipimpin energi sebesar 0,42 persen.
Nilai tukar rupiah pada pukul 15.10 WIB tampak menguat 0,54 persen di level Rp14.970 per dolar AS.
Beralih ke bursa asing, bursa saham Amerika kompak perkasa. Indeks S&P 500 plus 1,46 persen disusul indeks NASDAQ Composite pun ikut bangkit 1,67 persen. Indeks NYSE Composite juga menguat 1,37 persen.
Serupa, bursa saham Eropa terpantau menguat. Hanya indeks FTSE 100 di Inggris minus 0,17 persen. Sementara, indeks DAX di Jerman bangkit tipis di 0,01 persen disusul indeks CAC 40 di Prancis dengan persentase 0,01 persen.
Kemudian, bursa saham Asia juga kompak loyo. Indeks Nikkei 225 di Jepang menguat di 0,07 persen. Sementara indeks Hang Seng Composite di Hong Kong perkasa di 1,19 persen disusul indeks Kospi di Korea Selatan ikut plus 1,02 persen.
Kamis, 02 Februari 2023
Equity World | IHSG Unjuk Gigi ke 6.862 Usai Rilis Data Inflasi
Rabu, 01 Februari 2023
Equity World | Harga Emas Naik 5% di Januari, Keputusan Suku Bunga Pekan Ini Menentukan Arah
Equity World | Harga Emas Naik 5% di Januari, Keputusan Suku Bunga Pekan Ini Menentukan Arah
Equity World | JAKARTA. Harga emas bergerak tipis-tipis di pekan pengumuman suku bunga tiga bank sentral utama dunia. Rabu (1/2), harga emas spot turun tipis 0,04% ke US$ 1.927,50 per ons troi.
Sedangkan harga emas kontrak April 2023 di Commodity Exchange melemah 0,12% ke US$ 1.942,9 per ons troi.
Harga emas spot melesat 5,72% sepanjang bulan Januari ke US$ 1.928,36 per ons troi dari posisi akhir 2022 yang masih ada di US$ 1.824,02 per ons troi. Sedangkan harga emas berjangka menguat 5,6% sepanjang Januari 2023.
Harga emas menguat dalam tiga bulan berturut-turut, dibantu oleh dolar yang lebih lemah secara keseluruhan dan ekspektasi seputar kenaikan suku bunga yang lebih lambat dari Federal Reserve AS. Sementara dolar menuju kerugian bulanan keempat berturut-turut, membuat emas batangan lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
"Pasar memiliki begitu banyak risiko yang didorong oleh peristiwa sepanjang minggu ini dan investor harus memperhatikan hal itu. Harga emas cenderung tidak stabil," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago kepada Reuters.
Keputusan kebijakan bank sentral AS dijadwalkan pada 02.00 WIB pada Kamis (2/1), diikuti oleh konferensi pers dari Gubernur Fed Jerome Powell.
Para trader memperkirakan kenaikan suku bunga Fed 25 basis poin ke kisaran 4,5%-4,75%. Mereka memperkirakan suku bunga akan mencapai puncaknya di 4,9% pada bulan Juni. Selain itu, European Central Bank (ECB) dan Bank of England diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada hari Kamis.
Suku bunga yang lebih rendah cenderung bermanfaat untuk emas batangan, mengurangi biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Sementara itu, analis dan pedagang telah menaikkan prediksi mereka untuk harga emas. Tetapi pelaku pasar memperkirakan suku bunga tinggi akan membatasi reli.
"Mengingat bagaimana pasar mengharapkan FOMC, BoE dan ECB untuk bergerak, fokusnya kemungkinan besar pada apa yang mereka katakan daripada tindakan yang mereka ambil," kata Lukman Otunuga, analis riset senior di FXTM, dalam sebuah catatan.
Pasar juga menunggu laporan penggajian AS hari Jumat untuk bulan Januari. Pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi menurunkan inflasi lebih lanjut.
Selasa, 31 Januari 2023
Equity World | Saham Asia-Pasifik Bergerak Beragam, Investor Tunggu Data Ekonomi
Equity World | Saham Asia-Pasifik Bergerak Beragam, Investor Tunggu Data Ekonomi
Equity World | Saham Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Selasa (31/01) karena investor menantikan berbagai data ekonomi dan potensi kenaikan suku bunga dari Federal Reserve.
S&P/ASX 200 Australia naik 0,33% karena investor menunggu data penjualan ritel untuk bulan Desember.
Nikkei 225 Jepang diperdagangkan sedikit di atas garis datar dan Topix naik 0,28% karena Jepang melaporkan tingkat pengangguran 2,5% untuk Desember, sesuai dengan ekspektasi.
Benchmark Korea Selatan Kospi merosot 0,4%, sementara Kosdaq turun 0,72% setelah Korea Selatan mencatat penurunan 7,3% untuk hasil industri tahun-ke-tahun Desember, lebih curam dari ekspektasi Reuters penurunan 5,1%.
China akan merilis data Indeks Manajer Pembelian Manufaktur kompositnya. Investor juga menantikan data perdagangan dari Thailand.
Semalam di AS, indeks utama turun, bersiap untuk minggu tersibuk musim pendapatan dan pertemuan the Federal Open Market Committee pada hari Selasa dan Rabu, di mana Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase.
Saham ditutup lebih rendah pada hari Senin, Dow jatuh lebih dari 250 poin, menghentikan kenaikan beruntun enam hari.
Dow turun 260,99 poin atau 0,77% menjadi 33.717,09. S&P 500 turun 1,3% menjadi 4.017,77. Komposit Nasdaq turun 1,96% menjadi 11.393,81.
Senin, 30 Januari 2023
Equity World | China Melesat, Bursa Saham Asia Lainnya Malah Rontok!
Equity World | China Melesat, Bursa Saham Asia Lainnya Malah Rontok!
Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Senin (30/1/2023), di mana pasar saham China pada hari ini kembali dibuka setelah libur panjang dalam rangka Imlek 2023.
Pada pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,11% dan Shanghai Composite China melonjak 1,35%.
Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,48%, Straits Times Singapura turun 0,19%, ASX 200 Australia terpangkas 0,16%, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,88%.
Investor akan memantau pergerakan pasar saham China, setelah sebelumnya ditutup karena adanya libur panjang dalam rangka Imlek 2023.
Di lain sisi, pergerakan bursa Asia-Pasifik pada hari ini cenderung berlawanan dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu, yang ditutup cukup cerah.
Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik tipis 0,08%, S&P 500 menguat 0,25%, dan Nasdaq melesat 0,95%.
Pergerakan saham Wall Street pada pekan lalu dipengaruhi oleh kinerja keuangan perusahaan-perusahaan raksasa AS.
Sejauh ini, lebih dari 25% perusahaan di indeks S&P sudah melaporkan keuangan terbaru mereka. Dari jumlah tersebut, 69% mampu mencatatkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi.
Analis kini memperkirakan agregat earnings dari laporan keuangan kuartal IV-2022 akan turun 2,7%, lebih rendah dibandingkan koreksi 1,6% yang diproyeksikan pada 1 Januari lalu.
Di lain sisi, pada Jumat malam waktu Indonesia, data revisi indeks konsumsi masyarakat atau personal consumption expenditure (PCE) telah dirilis, di mana angkanya meningkat 5% (year-on-year/yoy) pada Desember 2022, terendah sejak September 2021.
Melandainya indeks PCE memberi harapan pasar jika The Fed akan melonggarkan kebijakan moneter mereka. Pasar memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin, lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya 50 basis poin.
Pada pekan lalu, data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal IV-2022 juga telah dirilis, di mana hasilnya cukup positif dan membuat pasar kembali optimis.
PDB AS pada kuartal IV-2022 dilaporkan tumbuh positif yakni 2,9% dan lebih tinggi dari ekspektasi 2,6%. Hal ini pun membuat pasar kembali optimis setelah mereka dikhawatirkan dengan adanya potensi resesi di AS.
Selain itu, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan data klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 21 Januari. Klaim yang diajukan sebanyak 186.000, menjadi yang terendah sejak April 2022.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih kuat, begitu juga dengan pasar tenaga kerja ada kemungkinan The Fed masih tetap agresif menaikkan suku bunga 50 basis poin pada pekan ini.
Sebagai catatan, The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 425 bps sejak Maret 2022 menjadi 4,25-4,50%.
The Fed menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 75 bp pada periode Juni, Juli, September, dan Oktober 2022. Kenaikan suku bunga diturunkan sebesar 50 bp pada Desember 2022.
Namun menurut kepala ekonom Spartan Capital Securities, Peter Cardillo, mengingatkan kendati ekonomi AS masih tumbuh cukup kuat, sinyal resesi masih terlihat. Kondisi ini tercermin dari banyaknya PHK serta aktivitas manufaktur yang masih lemah.
"Data bulanan jelas menunjukkan jika ekonomi AS kehilangan momentum pertumbuhan pada kuartal IV dan sepertinya akan berlanjut ke depan. Mungkin ini menjadi pertumbuhan positif terakhir sebelum ekonomi melemah. Kami masih memperkirakan jika ekonomi AS akan resesi di semester I," tutur Cardillo, dikutip dari Reuters.
Pada pekan ini, investor menanti rilis sejumlah data dan agenda penting seperti kebijakan suku bunga terbaru The Fed dan bank sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB) dan data aktivitas manufaktur di China dan AS.