Selasa, 04 Oktober 2022

Equity World | Awal Kuartal IV-2022, Wall Street Dibuka Di Zona Hijau!

Equity World | Awal Kuartal IV-2022, Wall Street Dibuka Di Zona Hijau!

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Senin (03/10/2022), di mana bursa saham AS berusaha pulih untuk mengawali perdagangan pertama di kuartal IV-2022.

Dow Jones menguat tajam 1,02% di pembukaan menjadi 29.018,08. Hal serupa terjadi pada indeks S&P 500 naik 0,84% ke 3.618,6 dan Nasdaq terapresiasi 0,48% ke 10.620,53.

"Ini cukup sederhana pada titik ini, imbal hasil yield obligasi tenor 10 tahun naik dan ekuitas kemungkinan akan tetap di bawah tekanan," tutur Analis Raymond James Travis McCourt dikutip CNBC International.

Bursa saham Wall Street berusaha keluar dari penurunannya selama September 2022, di mana indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami terkoreksi tajam secara bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Pada perdagangan Jumat (30/9) pekan lalu, indeks Dow Jones juga ditutup di bawah level 29.000 untuk pertama kalinya sejak November 2020.

Di sepanjang September 2022, indeks Dow Jones melemah tajam 8,8%, sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq kehilangan masing-masing sebesar 9,3% dan 10,5%.

Secara kuartalan, indeks Dow Jones ambruk 6,6% dan mengalami penurunan selama tiga kuartal beruntun untuk pertama kalinya sejak kuartal III-2015. Senasib, indeks S&P 500 dan Nasdaq merosot masing-masing sebesar 5,28% dan 4,11% dan terkoreksi selama tiga kuartal beruntun pada tahun ini. Hal tersebut terjadi untuk pertama kalinya sejak 2009.

Analis Truist, Keith Lerner memprediksikan bahwa kinerja ekuitas masih akan terbebani oleh inflasi yang tetap tinggi dan komitmen bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menurunkan lonjakan harga.

Namun, dia juga menambahkan bahwa kondisi oversold juga membuat pasar rentan terhadap pemantulan tajam jangka pendek di tengah kabar baik.

"Menurut saya, kita bisa diatur untuk beberapa jenis penangguhan, tapi tren yang mendasari pada saat ini masih tren menurun dan berombak," tambahnya.

Hari ini, investor akan disuguhkan dengan rilis PMI Manufaktur.

Senin, 03 Oktober 2022

Equity World | Resesi Dunia di Depan Mata, Lebih Baik Nabung atau Investasi?

Equity World | Resesi Dunia di Depan Mata, Lebih Baik Nabung atau Investasi?

Equity World | Ekonomi global diwarnai risiko resesi yang diperkirakan bakal melanda dunia pada 2023. Resesi ini dipicu pengetatan moneter oleh banyak bank sentral, juga imbas perang Ukraina-Rusia, hingga kebijakan zero-Covid di China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sudah mengungkapkan resesi ini dipicu inflasi yang tinggi akibat melesatnya harga pangan dan energi di sejumlah negara, khususnya Eropa dan AS. Kondisi tersebut memicu bank sentral di negara maju menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas. Dampaknya akan dirasakan pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk negara-negara berkembang.

Lantas, instrumen investasi apa yang harus dipilih di tengah situasi ekonomi global yang penuh tekanan?

Perencanaan Keuangan Advisor Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy mengatakan kemungkinan resesi dalam waktu dekat bisa mempengaruhi market. Menurut dia, lebih baik jangan terlalu rakus mengambil keputusan, termasuk memilih instrumen investasi. Dia juga menyebut uang tunai bisa menjadi pilihan, karena tidak akan terlalu terpengaruh saat resesi.

"Karena cash sudah pasti uang nggak akan kemana mana dan bisa disiapkan saat resesi benar terjadi," kata Dandy mengutip CNN Indonesia.

Sedangkan untuk investasi obligasi bisa mengambil kupon tetap (seri FR-Fixed Rate), sehingga investasi tetap terjaga meski ada risiko resesi. Sementara untuk investasi saham harus memilih emiten yang tahan terhadap pelemahan ekonomi, seperti yang berada di jajaran LQ45.

"Emiten yang lebih tahan dampak resesi itu yang punya fundamental kuat, seperti di LQ45, misalnya," kata Dandy.

Dandy juga merekomendasikan investasi emas, karena dikenal sebagai aset safe haven. Umumnya saat ekonomi terpuruk harga emas malah cenderung naik seperti yang terjadi saat krisis pandemi Covid-19.

Sementara itu, perencana keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan berpendapat reksadana juga masih bisa direkomendasikan sebagai instrumen investasi di tengah ancaman resesi. Dia merekomendasikan reksadana yang mendukung perputaran ekonomi domestik seperti reksadana pendapatan tetap.

"Less volatile, returnnya masih lebih tinggi dari inflasi, prospek setelah dua tahun lagi masih positif," katanya.

Jumat, 30 September 2022

Equity World | Wall Street Terjun Bebas, Indeks S&P 500 Sentuh Posisi Terendah dalam 2 Tahun

Equity World | Wall Street Terjun Bebas, Indeks S&P 500 Sentuh Posisi Terendah dalam 2 Tahun

Equity World | Wall Street ditutup melemah tajam di tengah kekhawatiran bahwa keagresifan Federal Reserve melawan inflasi dapat melumpuhkan ekonomi Amerika Serikat (AS). Tekanan bertambah karena investor khawatir tentang kekalahan di mata uang global dan pasar utang.

Kamis (29/9), indeks S&P 500 ditutup anjlok 2,11% ke 3.640,47, indeks Nasdaq Composite ambles 2,84% menjadi 10.737,51 dan indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,54% ke 29.225,61 poin.

Pada sesi ini, seluruh sektor pada indeks S&P 500 turun. Pelemahan terdalam dicetak sektor utilitas yang ambles 4,06%, diikuti oleh sektor konsumen yang anjlok 3,37%.

Indeks S&P 500 pun menyentuh posisi terendah yang terakhir terlihat pada November 2020. Saat ini, indeks S&P 500 sudah melemah lebih dari 8% pada September, dan berada di jalur untuk kinerja bulan September terburuk sejak 2008.

Kinerja pasar saham AS di sesi ini mendapat terseret oleh saham emiten kelas berat pada sektor teknologi. Di mana, Apple Inc dan Nvidia Corp yang merosot lebih dari 4%. Alhasil, indeks Nasdaq pun merosot mendekati level terendah di tahun 2022, yang ditetapkan pada pertengahan Juni lalu.

Pada sesi ini, aksi jual pada pasar obligasi AS berlanjut karena pejabat The Fed tidak memberikan indikasi bahwa bank sentral akan memoderasi atau mengubah rencananya untuk secara agresif menaikkan suku bunga untuk menurunkan inflasi yang tinggi.

Presiden The Fed Cleveland Loretta Mester mengatakan, dia tidak melihat tekanan di pasar keuangan AS yang akan mengubah kebijakan bank sentral untuk menurunkan inflasi melalui kenaikan suku bunga yang telah membawa suku bunga The Fed ke kisaran 3,0% hingga 3,25%.

Kekhawatiran pasar bertambah karena data terbaru menunjukkan jumlah orang AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun ke level terendah dalam lima bulan di pekan lalu. Ini menunjukkan, pasar tenaga kerja tetap tangguh meskipun The Fed menaikkan suku bunga secara agresif.

"Kabar baik adalah berita buruk karena angka pekerjaan hari ini kembali menegaskan bahwa perjalanan The Fed masih panjang," kata Phil Blancato, Head of Ladenburg Thalmann Asset Management di New York.

"Ketakutan di pasar adalah bahwa The Fed akan mendorong kita ke dalam resesi yang sangat dalam, yang akan menyebabkan resesi pendapatan, itulah sebabnya pasar menjual."

Saham yang paling banyak diperdagangkan di S&P 500 adalah Tesla Inc, dengan saham senilai US$ 20,8 miliar dipertukarkan selama sesi tersebut. Saham Tesla pun turun 6,8%.

Sejalan, saham Meta Platforms pun ditutup melemah 3,7% setelah Bloomberg melaporkan pemilik Facebook membekukan perekrutan dan memperingatkan karyawan akan lebih banyak perampingan yang akan datang.

Saham CarMax Inc merosot hampir 25% setelah pengecer mobil bekas meleset dari ekspektasi untuk hasil kuartal kedua, dirugikan oleh konsumen yang memotong pengeluaran di tengah inflasi, kenaikan suku bunga dan harga mobil yang lebih tinggi.

Setali tiga uang, saham General Motors Co dan Ford Motor Co juga jatuh, masing-masing masing-masing turun lebih dari 5%.

Saham maskapai penerbangan dan operator pelayaran juga jatuh pada perjalanan yang dibatalkan atau ditunda setelah Badai Ian menghantam Pantai Teluk Florida dengan kekuatan bencana. Di mana saham American Airlines, United Airlines Holdings dan Delta Air Lines, masing-masing turun lebih dari 2%.

Operator kapal pesiar Norwegian Cruise Line Holdings Ltd ambles 5,3% dan Carnival Corp anjlok 6,8%.

Kamis, 29 September 2022

Equity World | Wall Street Akhirnya Rebound, Mampukah IHSG Ikut Bangkit?

Equity World | Wall Street Akhirnya Rebound, Mampukah IHSG Ikut Bangkit?

Equity World | Pasar keuangan Tanah Air kembali bergejolak pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambles dan sudah melemah 4 hari beruntun, rupiah masih saja anjlok melawan dolar AS, sementara SBN kembali melemah.

Indeks acuan utama bursa domestik pada perdagangan kemarin Rabu (28/9/2022), kembali terlempar dari level psikologis 7.100. IHSG ditutup ambles 0,5% di 7.077,03 di sesi II, padahal di sesi I IHSG sempat rebound dengan penguatan 0,26%.

Nilai transaksi indeks masih relatif sepi di sekitar Rp 12,45 triliun dan sebanyak 23 miliaran saham yang berpindah tangan 1,22 juta kali. Mayoritas perlemahan IHSG dipimpin oleh sektor basic materials, consumer, industri dan sektor energi.

Mayoritas saham kemarin terpantau masih mengalami penurunan. Statistik perdagangan mencatat ada 391 saham yang melemah dan 147 saham yang mengalami kenaikan dan sisanya sebanyak 148 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling besar nilai transaksinya siang ini, yakni mencapai Rp 744,8 miliar. Sedangkan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi mencapai Rp 731,3 miliar dan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di posisi ketiga sebesar Rp 626,4 miliar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin memang berhasil menguat setelah sempat dibuka melemah pagi tadi. Tapi, penguatan ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya sempat anjlok dalam.

Meski berhasil rebound, namun tidak ada yang bisa memastikan IHSG punya cukup tenaga untuk terus menguat. Terlebih, bursa Asia sendiri masih berguguran.

Bursa Asia-Pasifik ditutup kembali berjatuhan pada kemarin, di tengah kejatuhan mata uang Asia-Pasifik akibat makin perkasanya dolar Amerika Serikat (AS).

Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin koreksi bursa Asia-Pasifik pada hari ini, yakni ditutup ambruk 3,41% ke posisi 17.250,88. Sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan menyusul di posisi kedua yang ditutup anjlok 2,45% ke 2.169,29.

Pelemahan indeks saham masih diwarnai dengan kenaikan imbal hasil surat utang AS akibat Fed yang masih akan agresif menaikkan suku bunga acuan di tahun ini hingga tahun depan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun kini berada di 3,95% dan sudah sangat dekat dengan level psikologis 4%. Yield US treasury 10 tahun meningkat tajam mengindikasikan bahwa harganya sedang melemah merespons proyeksi Fed yang akan mengerek suku bunga acuan sampai 4,4% akhir tahun ini.

Sementara itu imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun bahkan sudah menyentuh posisi 4,5% yang menjadi posisi tertingginya sejak krisis keuangan global 2008.

Tahun 2022 menjadi tahun yang sulit bagi pelaku ekonomi maupun para pemodal. Investor dituntut untuk berpikir ekstra keras untuk menempatkan asetnya di tengah kenaikan inflasi dan suku bunga acuan yang agresif.

Bank sentral AS, Inggris dan Eropa kompak mengerek suku bunga acuan mereka. The Fed sebagai otoritas moneter paling kuat di dunia bahkan sudah mengerek suku bunga acuan sebanyak 300 basis poin (bps) sejak Maret 2022.