Equity World | Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 758.000
Equity World | Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk pada Jumat (18/10/2019) bertahan di angka Rp 758.000 per gram. Sementara itu, harga buyback atau harga yang didapat jika pemegang emas Antam mau menjual emas batangan tersebut naik Rp 1.000 menjadi Rp 680.000.
Sebagai catatan, harga emas Antam tersebut berlaku di kantor Antam Pulogadung, Jakarta. Sementara di gerai penjualan emas Antam lain bisa berbeda. Adapun sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017 pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9 persen. Jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yaitu sebesar 0,45 persen, sertakan nomor NPWP setiap kali transaksi. Setiap pembelian emas batangan akan disertai dengan bukti potong PPh 22.
Equity World
Isu Resesi Muncul Lagi, Emas Kembali Bersinar | Equity World
Berikut rincian harga emas Antam hari ini.
0,5 gram Rp 403.500
1 gram Rp 758.000
2 gram Rp 1.465.000
3 gram Rp 2.176.000
5 gram Rp 3.610.000
10 gram Rp 7.155.000
25 gram Rp 17.780.000
50 gram Rp 35.485.000
100 gram Rp 70.900.000
Jumat, 18 Oktober 2019
Kamis, 17 Oktober 2019
Equity World | Proyeksi IMF Bikin Harga Emas Antam Melesat Rp 6.000/gram
Equity World | Proyeksi IMF Bikin Harga Emas Antam Melesat Rp 6.000/gram
Equity World | Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp 6.000 (0,85%) menjadi Rp 709.000 per gram pada perdagangan Kamis ini (17/10/2019), dari Rp 703.000 per gram Rabu kemarin.
Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 70,9 juta dari harga kemarin Rp 70,3 juta per batang.
Naiknya harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global yang didorong naik kemarin oleh sentimen negatif dari pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh Dana Moneter Internasional atau IMF dan turunnya data penjualan ritel Negeri Paman Sam.
Equity World
Emas Naik Lagi, AS Mau Resesi kah? | Equity World
IMF sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini jadi 3%, dari sebelumnya 3,2%. Ini merupakan angka terendah sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu. Pemangkasan proyeksi ini akibat perang dagang yang terjadi antara AS dan China.
Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.
Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam hari ini belum berubah di situs Logam Mulia dari posisi kemarin Rp 673.000 per gram.
Equity World | Harga emas acuan yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp 6.000 (0,85%) menjadi Rp 709.000 per gram pada perdagangan Kamis ini (17/10/2019), dari Rp 703.000 per gram Rabu kemarin.
Berdasarkan harga Logam Mulia di gerai Butik Emas LM - Pulo Gadung di situs logammulia milik Antam hari ini, harga tiap gram emas Antam ukuran 100 gram menguat menjadi Rp 70,9 juta dari harga kemarin Rp 70,3 juta per batang.
Naiknya harga emas Antam itu mengekor harga emas di pasar spot global yang didorong naik kemarin oleh sentimen negatif dari pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh Dana Moneter Internasional atau IMF dan turunnya data penjualan ritel Negeri Paman Sam.
Equity World
Emas Naik Lagi, AS Mau Resesi kah? | Equity World
IMF sudah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun ini jadi 3%, dari sebelumnya 3,2%. Ini merupakan angka terendah sejak krisis keuangan global pada 2008 lalu. Pemangkasan proyeksi ini akibat perang dagang yang terjadi antara AS dan China.
Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.
Di sisi lain, harga beli kembali (buyback) emas Antam hari ini belum berubah di situs Logam Mulia dari posisi kemarin Rp 673.000 per gram.
Rabu, 16 Oktober 2019
Equity World | AS Masih Jauh dari Resesi, Bursa Saham Asia Tancap Gas!
Equity World | AS Masih Jauh dari Resesi, Bursa Saham Asia Tancap Gas!
Equity World | Bursa saham utama kawasan Asia kompak mengawali perdagangan hari ini, Rabu (16/10/2019), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei melejit 1,23%, indeks Shanghai menguat 0,05%, indeks Hang Seng naik 0,19%, indeks Straits Times terapresiasi 0,48%, dan indeks Kospi bertambah 0,62%.
Rilis laporan keuangan yang oke dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham AS menjadi faktor utama yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Untuk diketahui, bulan Oktober menjadi waktu dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham AS untuk merilis kinerja keuangannya, baik untuk periode kuartal III (jika menggunakan tahun kalender) maupun untuk periode kuartal IV (jika menggunakan tahun fiskal).
Dari 500 perusahaan yang termasuk ke dalam indeks S&P 500, sebanyak 34 telah merilis kinerja keuangannya hingga Selasa pagi (15/10/2019) waktu setempat. Dari 34 perusahaan tersebut, sebanyak 29 berhasil mengalahkan ekspektasi analis, berdasarkan data dari The Earnings Scout yang kami lansir dari CNBC International.
Salah satu perusahaan yang membukukan kinerja kinclong adalah J.P. Morgan Chase yang merupakan bank terbesar di AS dari sisi aset. Pada kuartal III-2019, perusahaan membukukan pendapatan senilai US$ 30,1 miliar, mengalahkan ekspektasi yang senilai US$ 28,5 miliar. Sementara itu, laba bersih per saham tercatat berada di level US$ 2,68, juga di atas ekpektasi yang senilai US$ 2,45.
Dengan rilis kinerja keuangan yang oke, praktis kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi menjadi memudar. Apalagi, di sisi lain The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS masih diyakini akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada akhir bulan ini.
Equity World
Emas Susah Naik, Apa Benar Gejolak Dunia Sudah Selesai? | Equity World
Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 15 Oktober 2019, probabilitas The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada bulan ini berada di level 79,6%. Satu bulan yang lalu, probabilitasnya masih berada di level 33,5%.
Untuk diketahui, di sepanjang tahun 2019 The Fed telah memangkas tingkat suku bunga acuan sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 bps, yakni pada bulan Juli dan September. Jika ditotal, federal funds rate sudah dipangkas sebesar 50 bps oleh Jerome Powell (Gubernur The Fed) dan koleganya di bank sentral.
Jika tingkat suku bunga acuan dipangkas lebih lanjut, bank akan semakin terdorong untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit sehingga memacu dunia usaha untuk melakukan ekspansi. Selain itu, masyarakat juga akan terdorong untuk meningkatkan konsumsinya. Pada akhirnya, roda perekonomian akan berputar lebih kencang.
Kala roda perekonomian AS berputar dengan lebih kencang, tentulah roda perekonomian dunia juga akan ikut berputar dengan lebih kencang, mengingat posisi AS selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi.
Equity World | Bursa saham utama kawasan Asia kompak mengawali perdagangan hari ini, Rabu (16/10/2019), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei melejit 1,23%, indeks Shanghai menguat 0,05%, indeks Hang Seng naik 0,19%, indeks Straits Times terapresiasi 0,48%, dan indeks Kospi bertambah 0,62%.
Rilis laporan keuangan yang oke dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham AS menjadi faktor utama yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Untuk diketahui, bulan Oktober menjadi waktu dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham AS untuk merilis kinerja keuangannya, baik untuk periode kuartal III (jika menggunakan tahun kalender) maupun untuk periode kuartal IV (jika menggunakan tahun fiskal).
Dari 500 perusahaan yang termasuk ke dalam indeks S&P 500, sebanyak 34 telah merilis kinerja keuangannya hingga Selasa pagi (15/10/2019) waktu setempat. Dari 34 perusahaan tersebut, sebanyak 29 berhasil mengalahkan ekspektasi analis, berdasarkan data dari The Earnings Scout yang kami lansir dari CNBC International.
Salah satu perusahaan yang membukukan kinerja kinclong adalah J.P. Morgan Chase yang merupakan bank terbesar di AS dari sisi aset. Pada kuartal III-2019, perusahaan membukukan pendapatan senilai US$ 30,1 miliar, mengalahkan ekspektasi yang senilai US$ 28,5 miliar. Sementara itu, laba bersih per saham tercatat berada di level US$ 2,68, juga di atas ekpektasi yang senilai US$ 2,45.
Dengan rilis kinerja keuangan yang oke, praktis kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi menjadi memudar. Apalagi, di sisi lain The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS masih diyakini akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada akhir bulan ini.
Equity World
Emas Susah Naik, Apa Benar Gejolak Dunia Sudah Selesai? | Equity World
Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 15 Oktober 2019, probabilitas The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada bulan ini berada di level 79,6%. Satu bulan yang lalu, probabilitasnya masih berada di level 33,5%.
Untuk diketahui, di sepanjang tahun 2019 The Fed telah memangkas tingkat suku bunga acuan sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 bps, yakni pada bulan Juli dan September. Jika ditotal, federal funds rate sudah dipangkas sebesar 50 bps oleh Jerome Powell (Gubernur The Fed) dan koleganya di bank sentral.
Jika tingkat suku bunga acuan dipangkas lebih lanjut, bank akan semakin terdorong untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit sehingga memacu dunia usaha untuk melakukan ekspansi. Selain itu, masyarakat juga akan terdorong untuk meningkatkan konsumsinya. Pada akhirnya, roda perekonomian akan berputar lebih kencang.
Kala roda perekonomian AS berputar dengan lebih kencang, tentulah roda perekonomian dunia juga akan ikut berputar dengan lebih kencang, mengingat posisi AS selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi.
Selasa, 15 Oktober 2019
Equity World | Was-was dengan Hasil Perang Dagang, Wall Street Nyungsep
Equity World | Was-was dengan Hasil Perang Dagang, Wall Street Nyungsep
Equity World | Wall Street, bursa saham Amerika Serikat, ditutup melemah pada perdagangan Senin (14/10/2019). Ketidakpastian menyusul negosiasi perdagangan AS-China menggerus sentimen investor.
Dow Jones turun 29,97 poin atau 0,11% ke 26.786,62. Sementara S&P 500 kehilangan 4,07 poin atau 0,14% menjadi 2.966,2 sedangkan Nasdaq turun 8,39 poin atau 0,1% menjadi 8.048,65.
Pada negosiasi 10-11 Oktober lalu, AS mengatakan akan menunda kenaikan tarif di Oktober. Namun sayangnya pemerintah Uncle Sam ini, tidak menyebutkan apakah penundaan berlaku untuk kenaikan tarif Desember.
Equity World
China Ogah Teken Deal dengan AS, Emas Balik ke US$ 1.500/Oz? | Equity World
China pun dikabarkan menginginkan pembicaraan tambahan dengan AS. Hal ini juga diamini Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin.
"Karena masih banyak pertanyaan yang tersisa, ada keraguan signifikan gencatan senjata ini akan berlangsung hingga 2020," kata Jason Pride, CIO sebuah private wealth di Glenmede.
"Kemungkinan, masalah ini akan muncul kembali sebelum pemilihan (Pilpres AS), mungkin dalam bentuk ancaman tarif yang diperbarui atau tindakan yang menargetkan masing-masing perusahaan China," katanya lagi.
Equity World | Wall Street, bursa saham Amerika Serikat, ditutup melemah pada perdagangan Senin (14/10/2019). Ketidakpastian menyusul negosiasi perdagangan AS-China menggerus sentimen investor.
Dow Jones turun 29,97 poin atau 0,11% ke 26.786,62. Sementara S&P 500 kehilangan 4,07 poin atau 0,14% menjadi 2.966,2 sedangkan Nasdaq turun 8,39 poin atau 0,1% menjadi 8.048,65.
Pada negosiasi 10-11 Oktober lalu, AS mengatakan akan menunda kenaikan tarif di Oktober. Namun sayangnya pemerintah Uncle Sam ini, tidak menyebutkan apakah penundaan berlaku untuk kenaikan tarif Desember.
Equity World
China Ogah Teken Deal dengan AS, Emas Balik ke US$ 1.500/Oz? | Equity World
China pun dikabarkan menginginkan pembicaraan tambahan dengan AS. Hal ini juga diamini Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin.
"Karena masih banyak pertanyaan yang tersisa, ada keraguan signifikan gencatan senjata ini akan berlangsung hingga 2020," kata Jason Pride, CIO sebuah private wealth di Glenmede.
"Kemungkinan, masalah ini akan muncul kembali sebelum pemilihan (Pilpres AS), mungkin dalam bentuk ancaman tarif yang diperbarui atau tindakan yang menargetkan masing-masing perusahaan China," katanya lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)