Equityworld Futures | Harga Minyak Balik ke Bawah US$100 Usai AS Izinkan Beli Minyak Rusia
Equityworld Futures | Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat (13/3) pagi setelah pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan izin sementara bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut selama 30 hari. Kebijakan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Melorot Tajam, Harga Perak Ikut Amblas
Mengutip Reuters, harga kontrak minyak mentah Brent turun 71 sen atau 0,71 persen menjadi US$99,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 88 sen atau 0,92 persen menjadi US$94,85 per barel.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan penerbitan lisensi tersebut merupakan langkah untuk menstabilkan pasar energi global yang bergejolak akibat perang di Iran.
Analis Haitong Futures, Yang An, menilai kebijakan itu memang membantu meredakan kekhawatiran pasar dalam jangka pendek, namun belum menyelesaikan masalah utama yang memicu ketidakpastian harga minyak.
"Penerbitan lisensi ini meredakan kekhawatiran pasar, tetapi tidak menyelesaikan masalah paling mendasar. Hal terpenting adalah pemulihan navigasi di Selat Hormuz," ujarnya.
Pengumuman terkait minyak Rusia itu muncul sehari setelah Departemen Energi AS menyatakan akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategis atau Strategic Petroleum Reserve untuk menahan lonjakan harga minyak akibat perang di Iran.
Langkah tersebut dikoordinasikan dengan International Energy Agency yang juga sepakat melepas total 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global, termasuk kontribusi dari Amerika Serikat.
Meski demikian, analis IG Tony Sycamore mengatakan dampak positif dari pelepasan cadangan minyak itu tidak berlangsung lama setelah risiko geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.
Sebelumnya pada Kamis (12/3), harga minyak melonjak lebih dari 9 persen dan mencapai level tertinggi sejak Agustus 2022. Ketegangan meningkat setelah pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan negaranya akan terus bertempur dan tetap menutup Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Jumat, 13 Maret 2026
Equityworld Futures | Harga Minyak Balik ke Bawah US$100 Usai AS Izinkan Beli Minyak Rusia
Kamis, 12 Maret 2026
Equityworld Futures | Iran: Siap-Siap Harga Minyak US$200 per Barel
Equityworld Futures | Iran: Siap-Siap Harga Minyak US$200 per Barel
Equityworld Futures | Pemerintah Iran memperingatkan dunia agar bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel, di tengah eskalasi perang yang makin luas dan gangguan serius terhadap jalur distribusi energi internasional.
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Turun ke USD 5.170 per Ons
Peringatan tersebut disampaikan setelah pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal dagang di perairan Teluk pada Rabu (11/3/2026), sementara Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) telah sepakat melepas cadangan minyak strategis hingga 400 juta barel untuk meredam guncangan pasokan energi yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk sejak krisis minyak 1970-an.
"Bersiaplah harga minyak menjadi US$200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari dalam pernyataan yang ditujukan kepada Washington, dilansir Reuters.
elain itu, setelah kantor sebuah bank di Teheran terkena serangan pada malam sebelumnya, Zolfaqari mengatakan Iran akan merespons dengan menyerang bank-bank yang melakukan bisnis dengan AS atau Israel.
Ia juga memperingatkan masyarakat di Timur Tengah agar menjaga jarak 1.000 meter dari bank-bank di kawasan tersebut.
Perang yang dipicu oleh serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel hampir dua pekan lalu telah menewaskan sekitar 2.000 orang. Konflik tersebut juga meluas ke wilayah Lebanon serta menyebabkan kekacauan di pasar energi global dan sektor transportasi.
Meskipun Pentagon menggambarkan operasi udara terhadap Iran sebagai yang paling intens sejak perang dimulai, Teheran menunjukkan bahwa mereka masih mampu melakukan serangan balasan.
Pada Rabu, Iran meluncurkan serangan ke Israel dan sejumlah target lain di Timur Tengah. Serangan ini menunjukkan bahwa kemampuan militernya masih aktif meskipun menghadapi tekanan militer besar.
Di perairan Teluk, tiga kapal dilaporkan terkena serangan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan mereka menembaki kapal-kapal di kawasan tersebut yang tidak mematuhi perintah mereka.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak global yang sempat melonjak hingga hampir US$120 per barel pada awal pekan kemudian turun kembali ke sekitar US$90. Namun pada Rabu, harga kembali naik hampir 5% akibat kekhawatiran gangguan pasokan.
Rabu, 11 Maret 2026
Equityworld Futures | Prakiraan Harga Emas: Akankah Data Inflasi IHK AS Mendorong Pembeli XAU/USD?
Equityworld Futures | Prakiraan Harga Emas: Akankah Data Inflasi IHK AS Mendorong Pembeli XAU/USD?
Equityworld Futures | Emas melanjutkan pemulihan di atas batas $5.200 dalam perdagangan sesi Asia pada hari Rabu, karena para pembeli tampak optimis menjelang rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS untuk mendapatkan daya dorong lebih lanjut.
Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?
Meski perang di Timur Tengah semakin meningkat, Emas kesulitan untuk bersinar sebagai penyimpan nilai tradisional, serta sebagai lindung nilai inflasi.
Namun, pembaruan aksi jual dalam harga Minyak, setelah laporan Reuters bahwa "International Energy Agency (IEA) telah mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya untuk menurunkan harga minyak mentah, mengangkat sentimen risiko dan mengurangi daya tarik safe-haven Dolar AS (USD). Hal ini, pada gilirannya, mendukung kelanjutan rebound dalam Emas dari dekat area $5.000.
Pasar sangat menantikan data inflasi IHK AS untuk bulan Februari untuk menentukan apakah pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) masih menjadi opsi di tahun ini. Laporan inflasi bisa menjadi katalis penting yang dicari para pembeli Emas untuk mengembalikan tren naik.
IHK inti AS diprakirakan stabil di 2,5% pada basis tahunan pada bulan Februari. IHK inti bulanan diprakirakan naik sebesar 0,2% di bulan Februari setelah pertumbuhan 0,3% di bulan Januari. Sementara itu, inflasi IHK tahunan diprakirakan tetap di 2,4% pada periode yang sama.
Reaksi terhadap data inflasi AS bisa bersifat sementara dan berlangsung singkat di tengah pembaruan perang di Timur Tengah dan volatilitas harga Minyak, yang dapat membayangi sentimen para investor.
Relative Strength Index (RSI) terbaru yang mendekati 57 tetap nyaman di atas garis tengah 50, mengindikasikan momentum positif tetapi tidak terlalu tertekan setelah pullback baru-baru ini dari puncak akhir Mei.
Jika data IHK tahunan dan bulanan inti menunjukkan kenaikan yang mengejutkan, hal ini dapat menghilangkan potensi pemotongan suku bunga The Fed untuk tahun ini, menghidupkan kembali tren naik Dolar AS. Dalam kasus ini, Emas bisa jatuh kembali menuju area support $5.000 sebelum melepaskan penurunan tambahan menuju SMA 50-hari di $4.915.
Sebaliknya, Emas bisa mempertahankan momentum pemulihan jika inflasi melambat dengan laju yang lebih cepat dari yang diprakirakan. Skenario ini akan mendorong Emas lebih jauh menuju resistance Fibonacci 78,6% di $5.342 jika batas psikologis $5.250 berhasil ditembus secara tegas.
Selasa, 10 Maret 2026
Equityworld Futures | Kata Trump Harga Minyak Naik karena Perang Cuma Urusan Kecil
Equityworld Futures | Kata Trump Harga Minyak Naik karena Perang Cuma Urusan Kecil
Equityworld Futures | Perang yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran membuat harga minyak dunia melambung. Namun, Presiden AS Donald Trump menganggap hal itu cuma masalah kecil.
Equityworld Futures | Harga Emas Turun Lagi, Enaknya Jual atau Beli?
Dirangkum detikcom, Senin (9/3/2026), AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada Sabtu (28/2). Serangan itu menyebabkan Ayatollah Ali Khamenei yang saat itu merupakan pemimpin tertinggi Iran gugur.
Iran langsung membalas serangan tersebut dengan meluncurkan drone serta rudal ke pangkalan militer AS dan fasilitas AS yang ada di sejumlah negara Asia Barat seperti Qatar, Irak, Bahrain hingga Arab Saudi. Iran juga meluncurkan serangan ke Israel.
Saling serang antara AS-Israel dengan Iran terus berlanjut. Kondisi itu menyebabkan kapal-kapal pengangkut minyak takut untuk melintasi Selat Hormuz yang merupakan jalur penting minyak dunia.
Harga minyak dunia pun langsung melonjak hingga di atas USD 100 per barel. Sejumlah negara penghasil minyak besar seperti, Kuwait dan Uni Emirat Arab, mengurangi produksi karena penyimpanan mereka cepat penuh akibat penutupan Selat Hormuz. Irak juga mulai menghentikan produksinya minggu lalu.
Trump lalu menanggapi lonjakan harga minyak imbas perang yang dikobarkannya itu. Trump menilai lonjakan harga minyak itu sebagai pergerakan jangka pendek dan merupakan 'harga yang sangat kecil untuk dibayar'.
Trump, seperti dilansir Bloomberg dan Al Arabiya, Senin (9/3/2026), mengatakan lonjakan harga minyak akan turun dengan cepat 'ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir'.
"Harga minyak jangka pendek, yang akan turun dengan cepat ketika penghancuran ancaman nuklir Iran berakhir, adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar bagi AS, dan dunia, dan keamanan dan perdamaian," tulis Trump dalam pernyataan via Truth Social.
"HANYA ORANG BODOH YANG AKAN BERPIKIR SECARA BERBEDA," ucap Presiden AS tersebut.
Dalam unggahan media sosial pada Sabtu (7/3) pagi, Trump mengatakan AS akan mempertimbangkan untuk menyerang area-area dan kelompok orang di Iran yang sebelumnya tidak dianggap sebagai target. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah untuk tidak mundur.
Sementara itu, Iran baru saja mengumumkan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Garda Revolusi Iran telah berjanji untuk patuh kepada pemimpin tertinggi yang baru.
Senin, 09 Maret 2026
Equityworld Futures | Proyeksi Sepekan: Harga Emas Berpotensi Naik Meski Sentimen Pasar Terbelah
Equityworld Futures | Proyeksi Sepekan: Harga Emas Berpotensi Naik Meski Sentimen Pasar Terbelah
Equityworld Futures | Harga emas dunia naik pada Jumat (6/3/2026) pekan lalu usai data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan menjaga harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed)
Equityworld Futures | Efek Domino Penutupan Selat Hormuz: Minyak Mahal, Inflasi hingga Harga Emas Terus Naik
Namun, logam mulia ini mencatatkan penurunan mingguan pertama dalam lima pekan terakhir seiring penguatan dolar AS menahan laju kenaikannya.
Emas spot naik 1,77 persen menjadi USD5.171,06 per troy ons pada Jumat, tetapi secara mingguan masih turun 2,06 persen.
Prospek Emas Sepekan
Survei Emas Mingguan terbaru dari Kitco News menunjukkan pelaku pasar di Wall Street masih terbelah mengenai arah emas dalam jangka pendek.
Sementara itu, optimisme investor ritel kembali ke level rata-rata setelah harga emas melemah sepanjang pekan lalu.
“Saya tetap mempertahankan bias bullish meskipun pekan ini cukup berat. Level dukungan USD 5.000 pada emas spot sejauh ini bertahan dengan baik, dan menurut saya ini bisa menjadi peluang nilai yang menarik menjelang pekan ini,” ujar analis senior pasar di Forex.com, James Stanley.
Di sisi lain, jajak pendapat daring Kitco News mencatat 340 suara dari investor ritel. Sentimen ritel kembali ke kisaran rendah 60 persen, level yang bertahan sejak aksi jual pada awal Februari.
Sebanyak 211 trader ritel atau 62 persen memperkirakan harga emas masih naik pada pekan ini. Sebanyak 56 responden atau 16 persen memprediksi harga logam mulia itu melemah.
Sementara 73 investor lainnya atau 22 persen memperkirakan harga bergerak konsolidatif.
Kalender data ekonomi pekan ini akan menampilkan sejumlah indikator penting terkait inflasi dan pertumbuhan ekonomi, serta gambaran lebih mendalam mengenai sektor perumahan dan kondisi konsumen di Amerika Serikat (AS).
Pada Selasa pagi, pasar akan menerima data penjualan rumah eksisting untuk Februari. Selanjutnya pada Rabu, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Februari akan dirilis.
Kemudian pada Kamis, pelaku pasar akan mencermati data klaim pengangguran mingguan serta laporan housing starts dan izin mendirikan bangunan untuk Januari.
Sementara pada Jumat pagi, sejumlah data penting akan dirilis, termasuk pesanan barang tahan lama, estimasi awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV, Core PCE, serta data lowongan kerja JOLTS, seluruhnya untuk periode Januari.
Jumat, 06 Maret 2026
Equitworld Futures | Harga Emas Ambruk 1% Lebih, Dihantam Sang "Musuh Abadi"
Equitworld Futures | Harga Emas Ambruk 1% Lebih, Dihantam Sang "Musuh Abadi"
Equitworld Futures | Harga emas dan perak ambruk lagi setelah dolar Amerika Serikat (AS) melesat.
Equityworld Futures | Harga Emas Turun Gara-gara Penguatan Dolar AS
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (5/3/2026) ditutup di posisi US$ 5.076,59 per troy ons. Harganya ambruk 1,14%. Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 19 Februari atau dua pekan terakhir.
Pelemahan harga juga menyeret emas ke bawah level US$ 5.100 per troy ons. Pelemahan ini membalikkan kenaikan sebesar 1% pada perdagangan Rabu.
Pada hari ini, harga emas sedikit membaik. Pada Jumat (6/3/2026) pukul 06.10 WIB, harga emas menguat 0,25% ke US$ 5.089 atau menguat 0,16%.
Harga emas melemah karena dolar AS melesat tajam. Indeks dolar ditutup di posisi 99,08 pada perdagangan kemarin, tertinggi sejak 19 Februari 2026.
Dolar AS adalah "musuh abadi" emas karena sangat menentukan permintaan.
Pembelian emas global dikonversi ke dolar AS sehingga kenaikan harga emas akan membuat emas makin mahal dibeli sehingga permintaan turun.
Ada dua faktor utama yang menopang penguatan dolar.
Pertama, harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi baru dalam satu tahun, setelah muncul laporan mengenai gangguan di Selat Hormuz serta serangan terhadap kapal di kawasan tersebut.
Kedua, data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup tangguh.
Laporan Challenger Job Cuts menunjukkan perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan 48.307 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Februari, turun 55% dibandingkan Januari yang mencapai 108.435 PHK.
Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran (Initial Jobless Claims) untuk pekan yang berakhir 28 Februari tercatat 213 ribu, sama dengan angka sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan pasar 215 ribu.
Di sisi lain, produktivitas tenaga kerja non-pertanian (Nonfarm Productivity) pada kuartal IV 2025 naik 2,8%, melambat dari sebelumnya 5,2%. Pada periode yang sama, biaya tenaga kerja per unit (Unit Labor Cost) meningkat 2,8%, berbalik dari penurunan -1,8% pada kuartal III.
Investor dan trader emas akan mencermati data lanjutan. AS akan merilis laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Februari pada hari ini, Jumat. Data ini diperkirakan menunjukkan ekonomi AS menambah 59 ribu lapangan kerja baru. Pada periode yang sama, tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,3%, tidak berubah dari Januari.
AS juga akan merilis data Penjualan Ritel Januari, yang sebelumnya tertunda akibat penutupan sebagian pemerintah (partial government shutdown) pada Februari lalu.
Kendati melemah, emas memiliki potensi naik karena perang.
Israel melancarkan gelombang besar serangan ke Teheran pada Kamis, menargetkan apa yang disebut sebagai infrastruktur milik otoritas Iran, setelah rudal Iran membuat jutaan warga Israel berlari menuju bunker perlindungan.
"Di satu sisi, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah bisa meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas. Namun di sisi lain, risiko periode harga energi tinggi yang berkepanjangan dapat membuat pemangkasan suku bunga menjadi tidak mungkin, bahkan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga, sehingga membatasi kenaikan harga emas lebih lanjut," kata Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics.
Dalam jangka panjang, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi logam mulia ini juga cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga lebih rendah, karena emas tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Kamis, 05 Maret 2026
Equityworld Futures | Bursa Asia Rebound pada Kamis (5/3) Pagi, Mengekor Kenaikan Wall Street
Equityworld Futures | Bursa Asia Rebound pada Kamis (5/3) Pagi, Mengekor Kenaikan Wall Street
Equityworld Futures | Bursa Asia bergerak rebound pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi, setelah anjlok kemarin.
Equityworld Futures | Harga Emas Bangkit, Saatnya Kumpulkan Tenaga ke Level Tertinggi
Mengutip Bloomberg, pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 naik 2.224,81 poin atau 4,13% ke 56.477,43, Hang Seng naik 335,17 poin atau 1,32% ke 25.583,65, Taiex naik 1.198,91 poin atau 3,65% ke 34.032,03, Kospi naik 577,22 poin atau 11,28% ke 5.668,28, ASX 200 naik 24,99 poin atau 0,28% ke 8.926,10, Straits Times naik 37,61 poin atau 0,79% ke 4.850,96 dan FTSE Malaysia naik 8,46 poin atau 0,50% ke 1.706,68.
Bursa Asia rebound setelah aksi jual kemarin, mengekor rebound di Wall Street yang didorong oleh optimisme data ekonomi.
Indeks Kospi melonjak 11%, pulih dari titik terendah dalam sejarah indikator tersebut. Indeks MSCI Asia Pasifik yang lebih luas naik 2,8%.
Kenaikan bursa Asia mengikuti rebound di Wall Street yang didukung reli saham perusahaan teknologi besar.
"Saya pikir para pelaku pasar sedang mengamati dan mencoba untuk mengatakan bagaimana ini aan berjalan? Apa tujuan akhirnya?" kata David Solomon, kepala eksekutif Goldman Sachs dalam wawancara dengan Bloomberg TV.
"Seiring dengan bertambahnya informasi yang dimiliki dalam beberapa hari mendatang, satu atau dua minggu mendatang, saya pikir ini akan berdampak pada premi risiko."
Di sisi lain, pasar tetap akan fokus pada minyak, karena lonjakan harga setelah perang Iran mengancam kenaikan inflasi.
Rabu, 04 Maret 2026
Equityworld Futures | Wall Street Anjlok 2% Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi
Equityworld Futures | Wall Street Anjlok 2% Selasa (3/3), Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Inflasi
Equityworld Futures | Indeks-indeks utama Wall Street merosot lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (3/3/2026), dengan S&P 500 menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.
Equityworld Futures | Peringatan Keras: Harga Emas Ambruk 4% dalam Sehari, Masih Bisa Naik?
Investor bersiap menghadapi dampak meluasnya konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan perdagangan global.
Melansir Reuters pada pukul 09.50 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 1.083,69 poin atau 2,22% ke 47.821,09. S&P 500 kehilangan 141,91 poin atau 2,06% ke 6.739,71, sedangkan Nasdaq Composite merosot 483,41 poin atau 2,12% ke 22.265,45.
Tekanan jual terjadi secara luas, dengan seluruh sektor utama di S&P 500 berada di zona merah.
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar melemah 1,9%, dengan Nvidia turun 1,7% setelah sebelumnya menguat pada sesi sebelumnya.
Indeks saham berkapitalisasi kecil turun 3,4%. Sementara itu, indeks volatilitas CBOE (VIX) – yang kerap disebut sebagai pengukur ketakutan pasar – melonjak ke level tertinggi tiga bulan di 27,30.
Manajer aset alternatif juga tertekan setelah lonjakan permintaan penarikan dana menghantam dana kredit andalan Blackstone, BCRED.
Saham Blackstone merosot 7,7%, sedangkan Ares Management dan Blue Owl Capital masing-masing turun sekitar 4%.
Ancaman Teheran untuk menyerang kapal mana pun yang melintasi Selat Hormuz, ditambah penghentian produksi oleh sejumlah produsen minyak dan gas di Timur Tengah, telah mendorong kenaikan tarif pengiriman global serta harga minyak mentah dan gas alam.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
“Investor khawatir akan tambahan tekanan inflasi ke depan. Kekhawatiran utama adalah jika harga minyak menembus US$100 per barel dan bertahan di sana,” ujar Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth.
“Semoga ini menjadi perang yang cepat dan menentukan. Namun masih banyak pertanyaan, jadi saya tidak akan mengambil risiko besar,” tambahnya.
Sektor-sektor yang sensitif terhadap harga minyak seperti maskapai dan pariwisata kembali tertekan untuk hari kedua. Saham Delta turun sekitar 3%, sementara Royal Caribbean melemah 4%.
Selasa, 03 Maret 2026
Equityworld Futures | Wall Street “Mixed”, Bursa Eropa Melemah
Equityworld Futures | Wall Street “Mixed”, Bursa Eropa Melemah
Equityworld Futures | Wall Street berakhir mixed pada Senin (2/3/2026) dengan indeks Dow Jones Industrial Average di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, berakhir di teritori negatif.
Equityworld Futures | Harga Emas Membara di Tengah Perang, Tembus Rekor Tertinggi Sebulan
Seperti dilaporkan Reuters, indeks Dow Jones turun 73,14 poin, atau sekitar 0,15 persen, menjadi 48.904,78. Indeks S&P 500 berakhir datar dengan pergerakan naik hanya 2,74 poin menjadi 6.881,62. Indeks komposit Nasdaq meningkat 80,65 poin, atau sekitar 0,36 persen, menjadi 22.748,86.
Pergerakan ketiga angka indeks terpengaruh serangan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan para pejabat tinggi negara tersebut.
Saham sektor energi naik dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan ke pasar minyak global setelah Iran menutup arus pelayaran di Selat Hormuz. Saham Chevron dan Exxon Mobil masing-masing melonjak 1,52 persen dan 1,13 persen.
Saham sektor teknologi menguat dengan saham Nvidia dan Microsoft masing-masing meningkat 3 persen dan 1,5 persen.
Saham maskapai penerbangan melemah dipicu terganggunya perjalanan udara di kawasan Timur Tengah. Saham Delta Airlines, United Airlines, dan American Airlines masing-masing anjlok 2,21 persen, 2,91 persen, dan 4,21 persen.
Harga emas berjangka di COMEX New York Mercantile Exchange naik dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran. Harga emas berjangka di COMEX New York Mercantile Exchange naik 2,7 persen menjadi US$5.389,2 per ons.
Peningkatan harga emas berjangka terbatasi penguatan nilai tukar dolar AS, dengan indeks dolar AS naik 0,96 persen.
Bursa saham Eropa melemah pada Senin, dengan indeks STOXX 600 Eropa turun 1,7 persen, dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran.
Indeks FTSE 100 di Bursa Efek London, Inggris, merosot 130,44 poin, atau sekitar 1,2 persen, menjadi 10.780,11. Indeks Dax 30 di Bursa Efek Frankfurt, Jerman, anjlok 646,26, atau sekitar 2,56 persen, menjadi 24.638.
Indeks Ibex 35 di Bolsa de Madrid, Spanyol, melemah 485 poin, atau sekitar 2,64 persen, menjadi 17.875,8. Indeks Cac 40 di Euronext, Paris, Perancis, turun 186,43 poin, atau sekitar 2,17 persen, menjadi 8.394,32.
Nilai tukar poundsterling melemah 0,68 persen terhadap dolar AS menjadi US$1,3393 dolar AS per pound. Sedangkan terhadap euro, nilai tukar pound berada di kisaran 1,1405 euro per pound.
Senin, 02 Maret 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Diproyeksi Naik Tajam Imbas Serangan AS-Israel ke Iran
Equityworld Futures | Harga Emas Diproyeksi Naik Tajam Imbas Serangan AS-Israel ke Iran
Equityworld Futures | Harga emas dan perak berpotensi menguat tajam pada pembukaan pasar Senin (2/3/2026), ditopang eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Equityworld Futures | 76% Investor Optimistis Harga Emas “To The Moon” di Tengah Ketidakpastian Global
Melansir dari Reuters, Sabtu (28/2), Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan menyeret kawasan tersebut ke babak konflik baru.
Situasi ini membuat negara-negara produsen minyak di Teluk Arab siaga, terutama setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel.
Empat sumber Reuters menyebut sejumlah perusahaan minyak besar dan rumah dagang utama menangguhkan pengiriman minyak mentah dan bahan bakar melalui Selat Hormuz menyusul serangan tersebut.
Jalur ini merupakan salah satu rute vital energi global, sehingga gangguan apa pun langsung memicu kekhawatiran pasar.
Di tengah ketidakpastian, investor kembali memburu aset safe haven.
Emas, yang telah mencatat reli panjang, naik 22,46 persen sejak awal 2026 dan melonjak 8,14 persen sepanjang Februari.
Pada perdagangan terakhir, harga emas menyentuh USD5.279,95 per troy ons, tertinggi sejak Januari 2026. Sepanjang 2025, logam mulia ini bahkan melesat 64 persen.
Perak juga mengikuti tren penguatan, meski pergerakannya cenderung lebih volatil.
AVP Commodity Research SMC Global Securities, Vandana Bharti, mengatakan emas biasanya naik cepat saat dunia dilanda ketidakstabilan karena dipandang sebagai penyimpan nilai.
“Dalam jangka pendek, harga kerap melonjak ketika berita muncul dan pelaku pasar bergegas melakukan lindung nilai. Namun seiring waktu, pasar cenderung stabil kembali dan harga bisa terkoreksi jika ketegangan mereda,” ujarnya, dikutip Money Control.
Jumat, 27 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Tertahan, Pasar Tunggu Hasil Negosiasi Nuklir AS-Iran
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Tertahan, Pasar Tunggu Hasil Negosiasi Nuklir AS-Iran
Equityworld Futures | Harga emas dunia bergerak stabil pada Kamis waktu setempat, seiring pelaku pasar memilih menunggu hasil putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait program nuklir di Jenewa. Investor berharap negosiasi tersebut dapat meredakan ketegangan geopolitik global.
Equityworld Futures | Harga Emas Menguat Tipis, Pasar Tunggu Hasil Perundingan Nuklir AS-Iran
Mengutip CNBC, Jumat (27/2/2026), harga emas spot tercatat di level USD 5.168,72 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April ditutup melemah 0,6% ke posisi USD 5.194,20 per ounce.
Analis pasar dari FOREX.com, Razan Hilal, menilai pergerakan emas dan perak masih menghadapi tantangan teknikal.
“Emas dan perak sedang berupaya menembus level resistance di USD 5.200 dan USD 90, namun sejauh pekan ini belum mampu mempertahankan penguatannya. Hal ini meningkatkan risiko penurunan harga apabila kesepakatan geopolitik jangka pendek benar-benar terwujud,” tulis Hilal dalam catatannya.
Menurut dia, emas dan perak mencoba menembus level resistensi masing-masing di USD 5.200 dan USD 90, namun belum mampu mempertahankan penguatan. Jika kesepakatan geopolitik tercapai dalam waktu dekat, risiko koreksi harga bisa meningkat.
Kamis, 26 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Minyak Hari Ini Bervariasi, Stok AS jadi Penyebabnya
Equityworld Futures | Harga Minyak Hari Ini Bervariasi, Stok AS jadi Penyebabnya
Equityworld Futures | Harga minyak bervariasi pada perdagangan Rabu, 25 Februari 2026 (Kamis waktu Jakarta). Pergerakan harga minyak itu seiring peningkatan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) jauh lebih besar dari perkiraan mengimbangi ancaman terhadap pasokan minyak dari potensi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Sentuh USD 5.200, Ini Pemicu Kenaikan Logam Mulia
Mengutip CNBC, harga minyak kontrak berjangka Brent naik 8 sen menjadi USD 70,85 per barel. Sementara itu, harga minyak kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 21 sen menjadi USD 65,42.
Badan Informasi Energi (EIA) atau the Energy Information Administration mengatakan, persediaan minyak mentah AS naik 16 juta barel pada minggu lalu seiring pemanfaatan kilang menurun dan impor meningkat. Angka itu dibandingkan dengan harapan analis dalam jajak pendapat Reuters untuk kenaikan 1,5 juta barel.
Namun, angka penyesuaian EIA, yang mencakup total perubahan stok minyak mentah yang tidak diperhitungkan, mencapai rekor tertinggi minggu lalu sebesar 2,7 juta barel per hari. “Laporan bearish (EIA) dengan peningkatan stok minyak mentah yang besar, tetapi dampaknya terhadap harga terbatas, karena pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Analis Komoditas UBS, Giovanni Staunovo.
Harga Brent mencapai level tertinggi sejak 31 Juli pada Jumat, sementara WTI mencapai level tertinggi sejak 4 Agustus pada Senin. Hal ini karena AS menempatkan pasukan militer di Timur Tengah untuk mencoba memaksa Iran bernegosiasi untuk mengakhiri program nuklir dan rudal balistiknya.
Konflik yang berkepanjangan dapat mengganggu pasokan dari Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan negara-negara lain di kawasan penghasil minyak utama Timur Tengah.
Rabu, 25 Februari 2026
Equityworld Futures | Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI
Equityworld Futures | Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI
Equityworld Futures | Indeks-indeks utama di bursa Amerika Serikat (AS) kompak mencatat kenaikan setelah saham-saham teknologi bangkit di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap dampak kecerdasan buatan (AI).
Equityworld Futures | Bruk! Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Hampir 2% dalam 24 Jam, Ada Apa?
Optimisme baru terhadap prospek AI membantu pasar pulih setelah sebelumnya sempat tertekan oleh fluktuasi sentimen risiko.
Dikutip dari Reuters, Kamis 25 Februari 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 370,44 poin atau 0,76 persen ke level 49.174,50. Indeks S&P 500 menguat 52,32 poin atau 0,77 persen ke 6.890,07. Sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 236,41 poin atau 1,05 persen ke 22.863,68.
Saham semikonduktor menjadi salah satu pendorong utama penguatan, sementara sektor consumer discretionary dan teknologi memimpin kenaikan di S&P 500. Sebaliknya, sektor kesehatan mencatat pelemahan terdalam.
Kenaikan ini terjadi setelah pasar pada hari sebelumnya mengalami tekanan tajam akibat spekulasi bahwa AI dapat mengganggu berbagai sektor industri. Namun pada perdagangan terbaru, investor memanfaatkan pelemahan tersebut untuk kembali masuk ke pasar.
“Pasar akan berada dalam periode ketidakpastian dan hari ini kita melihat aksi beli saat harga turun (buy on the dip),” kata Matthew Keator dari Keator Group.
Ia menambahkan bahwa pergerakan harian kemungkinan masih akan fluktuatif karena belum ada kejelasan apakah AI akan lebih bersifat mendukung atau justru mendisrupsi bisnis-bisnis yang ada.
Sentimen AI kembali menguat setelah perusahaan laboratorium AI Anthropic mengumumkan sejumlah plug-in baru yang menyasar sektor perbankan investasi dan sumber daya manusia. Plug-in tersebut dikembangkan bersama sejumlah perusahaan besar seperti Thomson Reuters, Salesforce, dan FactSet.
Di sisi lain, pejabat bank sentral AS juga menyoroti dampak AI terhadap pasar tenaga kerja. Gubernur The Fed Lisa Cook menyebut teknologi ini berpotensi mendorong kenaikan pengangguran, sementara Gubernur Christopher Waller menilai AI tidak akan terlalu mengganggu pasar kerja.
Ketidakpastian juga datang dari kebijakan perdagangan.
Putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan banyak tarif Presiden Donald Trump serta ancaman tarif baru menambah tanda tanya di pasar. Investor masih menunggu kejelasan apakah kesepakatan-kesepakatan dagang sebelumnya akan tetap berlaku.
Selasa, 24 Februari 2026
Equityworld Futures | Bursa Asia Menguat Meski Wall Street Anjlok, Tarif Trump dan Isu AI Jadi Sorotan
Equityworld Futures | Bursa Asia Menguat Meski Wall Street Anjlok, Tarif Trump dan Isu AI Jadi Sorotan
Equityworld Futures | Bursa Asia Pasifik menguat pada pembukaan perdagangan Selasa, berlawanan arah dengan Wall Street yang sebelumnya ditutup melemah. Investor mencermati kembali ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat mengganggu model bisnis perusahaan perangkat lunak.
Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Mengamuk, Tiba-Tiba Sudah Tembus US$5.200 Lagi
Dikutip dari CNBC, Selasa (24/2/2026), Trump melalui platform Truth Social pada Senin menyatakan bahwa negara mana pun yang ingin “bermain-main” dengan putusan Mahkamah Agung akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi.
Komentar tersebut muncul setelah Supreme Court of the United States pada Jumat membatalkan tarif yang diberlakukan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act. Sebagai respons, Trump mengatakan akan menerapkan tarif global sebesar 15% berdasarkan Section 122 dari Trade Act 1974.
Meski demikian, pelaku pasar Asia tampak lebih fokus pada dinamika regional dan peluang kebijakan moneter, sehingga indeks-indeks utama bergerak di zona hijau.
Senin, 23 Februari 2026
Equityworld Futures | Laporan Laba Nvidia Hantui Wall Street, Reli AI Terancam?
Equityworld Futures | Laporan Laba Nvidia Hantui Wall Street, Reli AI Terancam?
Equityworld Futures | Wall Street menaruh perhatian besar pada laporan laba Nvidia Corp. yang akan dirilis pekan ini. Kekhawatiran pasar terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) memicu spekulasi bahwa laporan keuangan raksasa chip tersebut, seberapapun positifnya, berpotensi menekan harga sahamnya.
Equityworld Futures | Harga Emas Memperpanjang Kenaikan
Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia menjadi motor penggerak utama yang membawa pasar saham mencetak rekor tertinggi. Namun, sentimen pasar kini berubah seiring meningkatnya skeptisisme terhadap AI.
Performa saham Nvidia belakangan ini kurang memuaskan. Sejak awal kuartal keempat, harga sahamnya hanya naik 1,7%, sedikit di bawah kenaikan indeks S&P 500 yang mencapai 3,3% dalam periode yang sama. Bahkan, pergerakan saham perusahaan nyaris stagnan sepanjang tahun ini, menempatkannya di paruh bawah indeks ekuitas utama pada awal tahun 2026. Kondisi ini menandai penurunan signifikan dibandingkan masa kejayaan Nvidia sebagai salah satu pemimpin indeks dengan pertumbuhan persentase tahunan tiga digit.
Matt Stucky, kepala manajer portofolio ekuitas di Northwestern Mutual Wealth Management, menjelaskan bahwa fundamental Nvidia sebenarnya masih kuat. "Secara fundamental, kisah Nvidia tetap kuat, hanya saja pertanyaannya adalah apakah sentimen pasar akan tetap kuat juga. Tingkat kecemasan meningkat di berbagai bagian dari perdagangan tersebut," ujarnya.
Salah satu penyebab utama performa Nvidia yang kurang memuaskan adalah peralihan fokus investor dari saham teknologi berkapitalisasi besar. Kekhawatiran soal investasi ratusan miliar dolar AS dalam pengembangan teknologi AI turut membebani sentimen pasar. Selain itu, pasar saham juga menghadapi berbagai risiko eksternal yang membayangi pergerakan harga saham secara keseluruhan.
Jumat, 20 Februari 2026
Equityworld Futures | Laju Wall Street Terhenti, Saham Teknologi Tekan Indeks Setelah Reli Beberapa Hari
Equityworld Futures | Laju Wall Street Terhenti, Saham Teknologi Tekan Indeks Setelah Reli Beberapa Hari
Equityworld Futures | Laju kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS) terhenti pada perdagnagna Kamis (19/2/2026), setelah tiga hari berturut-turut Indeks S&P 500 mencatat kenaikan.
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak Dua Hari Beruntun, Tembus US$4.997/Troy Ons di Tengah Tensi Geopolitik
Pelemahan terjadi akibat turunnya saham teknologi besar, sementara beberapa saham lain justru menguat mengikuti laporan kuartalan yang positif.
Pada pukul 09:43 waktu New York, Dow Jones Industrial Average turun 223,51 poin atau 0,45% ke 49.431,52, S&P 500 melemah 25,10 poin atau 0,36% menjadi 6.856,21, dan Nasdaq Composite kehilangan 131,75 poin atau 0,58% ke 22.621,89.
Saham teknologi kelas berat seperti Apple, Nvidia, dan Meta Platforms kembali melemah setelah sesi sebelumnya mencatat kenaikan. Indeks Semikonduktor Philadelphia turun 1,6%, sedangkan indeks teknologi S&P 500 yang lebih luas turun 0,9%.
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi di sektor teknologi, termasuk perusahaan yang terlibat dalam kecerdasan buatan (AI), meski investasi besar dalam AI sejauh ini belum terbukti secara signifikan mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba.
"Bias berubah sangat cepat, dan ini menunjukkan kegelisahan investor secara keseluruhan," kata Kim Forrest, pendiri dan kepala investasi di Bokeh Capital.
Sementara itu, sektor ritel menunjukkan kinerja positif. Saham Walmart naik 2,4% setelah CEO baru John Furner memperkenalkan perkiraan fiskal konservatif untuk 2027 serta rencana pembelian kembali saham senilai US$30 miliar.
DoorDash menguat hampir 2% menyusul prospek nilai pesanan bruto kuartal pertama yang lebih tinggi dari perkiraan Wall Street. EBay naik 3,3% setelah mengumumkan perkiraan pendapatan kuartal pertama yang positif dan rencana akuisisi pasar mode Depop dari Etsy.
Di sisi lain, beberapa perusahaan mengalami tekanan. Carvana turun 4,3% karena gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat akibat meningkatnya biaya, sedangkan EPAM Systems merosot 19% karena prospek kuartal pertama yang hati-hati mengecewakan investor.
Sektor energi justru mencatat kenaikan signifikan, dengan indeks energi S&P 500 naik 1,7% didorong naiknya harga minyak mentah di tengah kekhawatiran atas potensi konflik militer antara AS dan Iran. Saham Occidental Petroleum melesat 9,2% setelah melampaui ekspektasi laba kuartal keempat.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah pertemuan Federal Reserve terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan mayoritas sepakat mempertahankan suku bunga tetap.
Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai arah kebijakan akhir tahun ini, dengan beberapa pejabat mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain mendukung penurunan lebih lanjut jika inflasi menurun.
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman dijadwalkan berbicara sepanjang hari.
Data klaim pengangguran mingguan menunjukkan pasar tenaga kerja stabil, dengan jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran turun lebih dari perkiraan.
Investor kini menantikan laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi, indikator inflasi utama Fed, yang akan dirilis Jumat ini sebagai acuan prospek suku bunga.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun masih melebihi yang naik, dengan rasio 2 banding 1 di NYSE dan 2,66 banding 1 di Nasdaq. Indeks S&P 500 mencatat 16 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 20 rekor tertinggi baru dan 62 rekor terendah baru.
Kamis, 19 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Mengamuk Lagi: Terbang 2%, Dekati US$ 5000
Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Mengamuk Lagi: Terbang 2%, Dekati US$ 5000
Equityworld Futures | Harga emas dan perak mengganas lagi usai terpuruk dalam dua hari beruntun. Harga emas melonjak lebih dari 2% karena kekhawatiran geopolitik meskipun The Federal Reserve (The Fed) terpecah pendapat mengenai jalur suku bunga.
Equityworld Futures | Harga Emas Diramal Bakal Menguat, Balik Lagi ke Level USD5.000
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), harga emas dunia melonjak 2,09% di US$4.979,07 per troy ons. Penguatan ini mematahkan pelemahan harga emas selama dua hari beruntun.
Pada perdagangan hari ini Kamis (19/2/2026) hingga pukul 06.19 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,06% di posisi US$4.976,2 per troy ons.
Harga emas naik lebih dari 2% pada perdagangan Rabu, karena investor menilai risiko geopolitik yang memanas, bahkan ketika risalah dari pertemuan The Federal Reserve AS bulan Januari menunjukkan para pejabat terpecah pendapat mengenai apakah suku bunga perlu dinaikkan lagi atau harus tetap dipertahankan.
"Ada beberapa kekhawatiran tentang ketegangan geopolitik yang ada baik dengan Iran maupun AS," ujar analis Marex, Edward Meir.
"Kita telah berada dalam kisaran perdagangan yang sangat ketat selama sebagian besar bulan Februari. Anda tidak dapat benar-benar mengatakan ada arah yang jelas pada saat ini." imbuhnya.
Di bidang geopolitik, pembicaraan perdamaian selama dua hari di Jenewa antara Ukraina dan Rusia berakhir pada hari Rabu tanpa terobosan. Gedung Putih juga mengatakan diskusi dengan Iran di Jenewa hanya menghasilkan kemajuan terbatas, dengan kesenjangan yang masih ada dan Teheran diperkirakan akan kembali dengan lebih banyak detail dalam beberapa minggu mendatang.
Risalah dari pertemuan The Fed Januari menunjukkan para pejabat hampir semua sepakat untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan lalu, tetapi tetap terpecah pendapat mengenai prospek, dengan beberapa memperingatkan bahwa suku bunga dapat naik lagi jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain memperdebatkan apakah dan kapan pemotongan lebih lanjut mungkin diperlukan.
"Emas kemungkinan akan kembali ke US$5.000 per troy ons meskipun risalah Fed sedikit hawkish; sebagian besar pasar tidak melihat pergerakan suku bunga hingga Juni," kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen.
Sementara itu, inflasi harga konsumen untuk Januari lebih lemah dari yang diperkirakan, namun pertumbuhan lapangan kerja untuk bulan tersebut melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran turun.
Investor juga akan memperhatikan laporan pengeluaran konsumsi pribadi AS pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan The Fed, untuk mendapatkan petunjuk tentang inflasi dan potensi dampaknya terhadap biaya pinjaman.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil, aset safe-haven tradisional, cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Rabu, 18 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Bakal Dapat Momentum dari Sentimen Ini
Equityworld Futures | Harga Emas Bakal Dapat Momentum dari Sentimen Ini
Equityworld Futures | Analis mengaku tetap optimis bahwa harga emas dunia akan kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang, didukung oleh pembelian bank-bank sentral global, meningkatnya sentimen terkait ketidakpastian geopolitik, serta aliran investor ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Equityworld Futures | Harga Emas Mengenaskan: Jatuh ke Level US$ 4.800, Terendah 2 Minggu
“Meskipun terjadi volatilitas baru-baru ini, kami tidak berpikir siklus kenaikan ini telah berakhir,” ungkap analis pertambangan di Scotiabank yang dipimpin oleh Tanya Jakusconek, dikutip dari Kitco News, Rabu (18/2/2026).
“Menurut pendapat kami, pendorong historis tetap ada, termasuk ketidakpastian perdagangan yang tinggi, ketegangan geopolitik yang meningkat, yang tampaknya tidak akan berkurang dalam jangka pendek," katanya.
Harga emas spot melemah sekitar 2,7% ke kisaran US$ 4.855,92 per ons pada Selasa sore (17/2), menurut data Trading Economics. Penurunan tersebut memangkas kenaikan year-to-date harga emas menjadi sekitar 13%, setelah lonjakan lebih dari 60% 2025 lalu.
Sejak Jumat (13/2), harga emas dunia telah melemah sekitar 3,5%.
Meski mengalami koreksi, analis mengungkapkan, harga emas masih berpeluang mendapat momentum dari sentimen tentang meningkatnya utang pemerintah federal AS yang memicu kekhawatiran terhadap posisi dolar AS di kalangan investor institusional global dan bank sentral.
"Hal ini, pada gilirannya, memicu de-dolarisasi, atau setidaknya pergeseran preferensi cadangan global," ungkap analis di Jefferies.
Jakusconek juga menilai, dengan sejumlah negara yang terus mengalami defisit anggaran selama lima tahun tanpa adanya pembatasan fiskal yang terlihat, tren kenaikan utang pemerintah di seluruh dunia tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Hal ini yang menjadi pendukung bagi emas untuk melanjutkan reli.
Penyitaan aset Rusia setelah konflik di Ukraina pada tahun 2022, nasionalisme sumber daya yang meluas, dan kebijakan perdagangan yang semakin agresif oleh Presiden AS Donald Trump mendorong investor mencari keamanan dalam aset aman seperti emas, tambah Jakusconek.
Bank sentral, terutama di negara-negara pasar berkembang melihat emas sebagai diversifikasi aset utama dan telah menjadi pembeli bersih yang kuat, secara kolektif memiliki kurang dari 30% logam fisik tersebut, menurut data Scotiabank. Bank-bank tersebut membeli 328 ton emas pada Desember 2025 melalui Dana Moneter Internasional dan sumber data publik lainnya, dibandingkan dengan 345 ton setahun sebelumnya, menurut data World Gold Council.
Jumat, 13 Februari 2026
Equityworld Futures | Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 3% dalam 24 Jam, Balik ke US$4.900
Equityworld Futures | Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 3% dalam 24 Jam, Balik ke US$4.900
Equityworld Futures | Harga emas dan perak terjun bebas hingga jatuh ke level terendah dalam satu minggu. Penurunan tajam disebabkan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat dan tekanan jual emas semakin meningkat.
Equityworld Futures | Harga Emas Berjangka Turun 0,1% Jadi USD5.092
Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), harga emas dunia anjlok 3,13% di level US$4.919,69 per troy ons. Penurunan tersebut membawa emas ke harga terendah seminggu dan mendorong emas menjauh dari level psikologis US$5.000 per troy ons.
Pada perdagangan hari ini Jumat (13/2/2026) hingga pukul 06.45 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,20% di posisi US$4.909,99 per troy ons.
Harga emas jatuh ke level terendah hampir satu minggu pada hari Kamis karena data ketenagakerjaan AS yang kuat meredam harapan penurunan suku bunga The Federal Reserve dalam waktu dekat, dengan penurunan di bawah US$5.000 per troy ons memperdalam kerugian karena tekanan jual meningkat.
"Karena volatilitas yang tinggi sebelumnya, banyak orang akan menempatkan stop loss mereka di bawah US$5.000 per troy ons atau di atas level US$5.100 per troy ons hanya untuk mempertahankan posisi stop loss mereka," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
"Karena pergerakan ke bawah, stop loss tersebut telah terpicu di bawah level US$5.000 per troy ons, dan itu menyebabkan efek berantai, menyebabkan harga anjlok dalam waktu singkat." imbuhnya.
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan pasar kerja AS memulai tahun 2026 dengan pijakan yang lebih kuat dari yang diperkirakan, memperkuat pandangan bahwa para pembuat kebijakan mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian meningkat sebesar 130.000 pada bulan Januari, setelah revisi penurunan sebesar 48.000 pada bulan Desember, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,3%.
Klaim pengangguran awal turun menjadi 227.000 pada minggu yang berakhir pada 7 Februari, data menunjukkan pada hari Kamis.
Kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh memperkuat kepercayaan The Fed terhadap perekonomian, memungkinkan para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna memastikan inflasi terus mereda. Emas batangan, pada gilirannya, tertekan oleh suku bunga tinggi karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
"Tampaknya ekspektasinya adalah inflasi utama akan melambat dari 2,7% menjadi 2,5%, mungkin serendah 2,4%. Hal itu dapat menghidupkan kembali beberapa spekulasi penurunan suku bunga dan kemungkinan akan menguntungkan emas," ujar Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Kamis, 12 Februari 2026
Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini
Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini
Equityworld Futures | Berdasarkan kajian teknikal yang disampaikan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, struktur pergerakan harga emas saat ini masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat.
Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi
Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan indikator Moving Average, mengindikasikan bahwa tren bullish pada XAU/USD justru tetap terjaga dan cenderung menguat.
Hal ini mencerminkan bahwa minat beli investor terhadap emas masih cukup solid, terutama setelah terjadinya koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Andy menilai bahwa tekanan turun yang muncul lebih bersifat sebagai fase konsolidasi atau koreksi teknikal dalam tren naik jangka menengah hingga panjang, bukan sebagai sinyal perubahan arah tren secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga emas mampu bertahan di atas area support penting, peluang terjadinya penguatan lanjutan masih sangat terbuka.
“Jika dorongan bullish kembali mendominasi pasar dan didukung oleh sentimen global yang kondusif, maka XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance berikutnya di sekitar level 5.232,” kata Andy dalam laporannya, Rabu (11/2/2026).
Apabila harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali berada di bawah tekanan jual, maka penurunan berpotensi mengarah ke area support terdekat di kisaran 4.841, yang menjadi batas penting untuk menjaga kesinambungan tren naik.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas saat ini masih dipengaruhi oleh stabilnya nilai tukar dolar AS serta meningkatnya selera risiko di pasar keuangan global. Pada sesi awal perdagangan Asia hari Rabu, harga emas tercatat melemah mendekati level US$ 5.045, seiring pelaku pasar mencoba mengevaluasi apakah harga telah membentuk titik terendah setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sebelumnya.
Indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak relatif datar di area 96,78 turut menjadi faktor yang menahan laju penguatan emas dalam jangka pendek, mengingat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga logam mulia.
Meski demikian, faktor geopolitik masih memberikan dukungan signifikan terhadap harga emas. Ketegangan yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor cenderung tetap mempertahankan eksposur terhadap aset lindung nilai seperti emas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran, serta dinamika diplomatik di kawasan Timur Tengah, menambah ketidakpastian global yang berpotensi membatasi ruang penurunan harga emas lebih dalam.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati menjelang publikasi laporan ketenagakerjaan dan inflasi. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda diperkirakan menunjukkan penambahan tenaga kerja sekitar 70.000 pada Januari, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di level 4,4 persen. Di sisi lain, data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada akhir pekan ini juga akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan harga emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bullish. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter tetap mendukung, harga emas berpeluang kembali melanjutkan tren penguatan. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar, sehingga investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi dan sentimen global secara cermat.