Kamis, 23 Oktober 2025

Equityworld Futures | Wall Street Rontok, BI Rem Bunga, Pemerintah Guyur Stimulus: RI Aman?

Equityworld Futures | Wall Street Rontok, BI Rem Bunga, Pemerintah Guyur Stimulus: RI Aman?

Equityworld Futures | Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025). Pasar saham ambruk sementara rupiah menguat.

Equityworld Futures | Harga Emas Makin Babak Belur, Terancam Jatuh ke Level US$ 3.900

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi dalam pada perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025) usai keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.

Pada penutupan perdagangan, indeks melemah 1,04% ambruk 85,53 poin ke level 8.152,55.

Sebanyak 321 saham naik, 349 turun, dan 139 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin terbilang ramai, yakni Rp 23,02 triliun, melibatkan 29,56 miliar saham dalam 2,44 juta kali transaksi.

Dari sisi foreign, asing mencatatkan nilai transaksi net buy sebesar Rp 170 milyar dengan nilai paling besar di PT Bank Central Asia (BBCA) berada di level Rp 235 milyar, PT Astra International (ASII) di 167 milyar, dan PT Petrosea (PTRO) di Rp 97 milyar. Sementara dari sisi net sell terdapat PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) di Rp 241 milyar, PT Aneka Tambang (ANTM) Rp 57 milyar dan PT Bank Mandiri (BMRI) Rp 55 milyar hingga akhir penutupan pasar sesi II.

Mayoritas sektor perdagangan melemah, dengan hanya sektor properti dan industri yang menguat. Sedangkan koreksi sektoral terbesar dicatatkan oleh oleh barang baku, finansial dan teknologi.

Pemberat utama kinerja IHSG kemarin adalah deretan saham blue chip kapitalisasi pasar besar yang sempat menguat pada perdagangan kemarin.

Saham emiten perbankan kompak melemah, dengan saham BBCA ambruk lebih dari 3% dan menyumbang pelemahan 19,71 indeks poin.

Sementara itu kebalikannya dari hari kemarin, BBCA (-3,24%) menjadi penopang penurunan IHSG dengan menyumbang -25.71 poin, kemudian PT Telkom Indonesia (TLKM) yang melemah -3,96% dengan penurunan -14.17 popin dan, BBRI (-1,60%) menyumbang -9.78 poin di IHSG hingga penutupan kemarin.

ASII (+2,92%) pada perdagangan kemarin menjadi penopang kenaikan IHSG dengan menyumbang poin sebesar 7.43, dilanjutkan oleh PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) (+19,86%) dengan poin sebesar 5.46 poin, dilanjutkan dengan kenaikan 3.89 poin oleh PTRO (+3,89%).

Berpindah ke mata uang, rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya.

Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (22/10/2025) atau pasca pengumuman suku bunga BI, rupiah tercatat menguat 0,09% di posisi Rp16.570/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan arah setelah sempat dibuka melemah 0,03% di level Rp16.590/US$ pada awal perdagangan.

Sementara itu, DXY berada pada level 99.014 naik sebesar 0.283 dari hari sebelumnya di 98.731, melanjutkan kenaikannya selama tiga hari berturut - turut.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) acuan 10-tahun masih ditutup tegang di level 5,994% pada perdagangan terakhir, nyaris menembus batas psikologis 6%.

Ketegangan yield ini terjadi di tengah langkah Bank Indonesia (BI) yang kembali menahan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75%.

Langkah BI untuk "tetap diam" ini adalah sebuah strategi yang disengaja. Ini bukan karena BI takut, melainkan karena bank sentral sedang memanfaatkan momentum tren kebijakan Bank Sentral AS, The Fed.

Seperti diketahui, The Fed saat ini sudah berada dalam siklus pelonggaran moneter (tren dovish) berdasarkan pembicaraan Fed Chair Powell terakhir yang akan mengurangi efek quantitative tighteningnya dan telah menurunkan suku bunganya beberapa kali. Pasar kini berekspektasi The Fed akan kembali memangkas suku bunganya dalam waktu dekat untuk terus menopang ekonomi AS.

Di sinilah letak jurus BI. Dengan menahan BI-Rate di 4,75% sementara The Fed terus bergerak turun, selisih imbal hasil (spread) antara SBN Indonesia dan US Treasury akan otomatis semakin melebar.

Spread yang kian "gemuk" inilah yang menjadi magnet utama bagi investor asing. Arus modal masuk (capital inflow) diprediksi akan terus berlanjut. Aksi borong SBN ini akan menaikkan harganya, dan pada akhirnya, "memaksa" yield SBN yang kini tertahan di 5,994% untuk melandai (turun) lebih dalam.

Demo Ewf  

Demo Equityworld

Rabu, 22 Oktober 2025

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Rebound, Pasar Pulih dari Tekanan Ini

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Rebound, Pasar Pulih dari Tekanan Ini

Equityworld Futures | Harga minyak mentah dunia ditutup menguat pada perdagangan Selasa (21/10/2025) waktu setempat, bangkit dari posisi terendah dalam lima bulan terakhir. Penguatan ini terjadi setelah pasar pulih dari tekanan kelebihan pasokan global, serta menunggu kejelasan terkait hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, dua konsumen minyak terbesar di dunia.

Equityworld Futures | Harga Emas Hancur Lebur! Ambruk 5% Sehari, Rekor Terburuk 5 Tahun

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik US$ 0,31 (0,5%) menjadi US$ 61,32 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November, yang berakhir pada penutupan perdagangan Selasa, menguat US$ 0,30 (0,5%) ke US$ 57,82 per barel.

Kedua kontrak tersebut sempat menyentuh level terendah sejak awal Mei pada sesi sebelumnya, setelah rekor produksi minyak AS dan keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama sekutunya untuk melanjutkan rencana peningkatan pasokan memicu kekhawatiran kelebihan suplai.

“Namun, rendahnya persediaan minyak mentah dan bahan bakar sulingan AS membantu menahan tekanan terhadap harga acuan minyak dunia,” ungkap Kepala Analis Komoditas di SEB Bjarne Schieldrop.

Perselisihan dagang antara AS dan China juga meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang dapat menekan permintaan minyak. Meski begitu, kedua negara mulai menunjukkan upaya untuk meredakan ketegangan.

Presiden AS Donald Trump, yang dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pekan depan, mengatakan dirinya optimistis akan tercapai kesepakatan dagang yang adil.

Struktur harga kontrak berjangka minyak WTI dan Brent kini mulai bergeser ke pola contango, yakni kondisi ketika harga untuk pengiriman segera lebih rendah dibandingkan harga untuk pengiriman di masa mendatang. Pola ini biasanya menandakan pasokan jangka pendek melimpah dan permintaan sedang melemah.

Demo Ewf  

Demo Equityworld

Selasa, 21 Oktober 2025

Equityworld Futures | Harga Emas Cetak Rekor Lagi Tembus Rp2,31 Juta per Gram

Equityworld Futures | Harga Emas Cetak Rekor Lagi Tembus Rp2,31 Juta per Gram

Equityworld Futures | Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi didorong oleh aksi beli investor di tengah meredanya ketegangan dagang AS-China dan harapan berakhirnya penutupan pemerintahan AS.

Equityworld Futures | Harga Emas Mengamuk Lagi: Cetak Rekor, Level US$4.500 di Depan Mata

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (21/10/2025) harga emas di pasar spot sempat naik hingga 2,6% menjadi US$4.361,55 per troy ounce atau sekitar Rp2,31 juta per gram. Sementara itu, harga emas Comex terpantau naik 3,78% pada level US$4.372,80 per troy ounce. 
Indeks Bloomberg Dollar Spot turut menguat tipis, sementara harga perak naik 1% ke posisi US$52,50 per ounce setelah sempat menyentuh rekor sepanjang masa di level US$54,48 pada akhir pekan lalu. 

Pergerakan harga emas salah satunya dipengaruhi oleh komentar Presiden AS Donald Trump yang menyatakan hubungan dengan China akan baik-baik saja menjelang dimulainya kembali perundingan dagang antara kedua negara.

Di sisi lain, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett mengisyaratkan bahwa penutupan pemerintahan federal berpotensi berakhir dalam pekan ini. Kondisi tersebut seharusnya menekan permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas. Namun, para pelaku pasar justru memanfaatkan pelemahan harga pada Jumat pekan lalu untuk kembali membeli logam mulia, mendorong harga emas mencetak rekor baru di US$4.381,52 per ounce, melampaui rekor sebelumnya di US$4.379,93 yang tercatat pekan lalu.

Demo Ewf 

Demo Equityworld

Jumat, 17 Oktober 2025

Equityworld Futures | Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Trump-Putin Bahas Perang Ukraina

Equityworld Futures | Harga Minyak Turun Jelang Pertemuan Trump-Putin Bahas Perang Ukraina

Equityworld Futures
| Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan awal Jumat (17/10) di tengah ketidakpastian pasokan energi global jelang pertemuan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Equityworld Futures | Emas dan Perak Kompak Tembus Rekor Harga Tertinggi di Jumat

Keduanya sepakat untuk bertemu di Hungaria guna membahas upaya mengakhiri perang di Ukraina.

Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak Brent turun 8 sen atau 0,13 persen menjadi US$60,98 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) turun 9 sen atau 0,16 persen menjadi US$57,37 per barel.

Secara mingguan, kedua acuan harga tersebut melemah hampir 3 persen.

Trump dan Putin pada Kamis kemarin sepakat akan menggelar pertemuan puncak baru mengenai perang di Ukraina. Langkah ini mengejutkan di tengah kekhawatiran Moskow terhadap potensi dukungan militer baru dari AS untuk Kyiv.

Pertemuan tersebut kemungkinan akan digelar dalam dua minggu mendatang di Budapest, Hungaria.

"Ketakutan terhadap pengetatan pasokan mereda setelah diumumkan bahwa Trump akan bertemu dengan Putin untuk membahas penghentian perang di Ukraina," kata analis ANZ, Daniel Hynes.

Harga minyak juga terbebani oleh laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Kamis yang menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 3,5 juta barel menjadi 423,8 juta barel minggu lalu. Angka ini jauh di atas perkiraan para analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan hanya 288 ribu barel.

Kenaikan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan tersebut sebagian besar disebabkan oleh turunnya tingkat pemrosesan kilang karena sejumlah fasilitas tengah menjalani pemeliharaan rutin musim gugur.

Data juga menunjukkan produksi minyak AS naik menjadi 13,636 juta barel per hari, tertinggi sepanjang sejarah.

Demo Ewf  

Demo Equityworld