Equity World | Bolehkah Minum Obat Pencahar untuk Turunkan Berat Badan? Ini Kata Ahli
Equity World | Ada banyak cara untuk menurunkan berat badan, seperti diet atau olahraga intensif. Namun, gimana dengan minum obat pencahar? Obat pencahar adalah obat untuk meredakan gejala sembelit.
Beredar rumor bahwa obat pencahar bisa menurunkan berat badan. Dilansir dari jurnal Pediatrics, 10,5 persen perempuan berusia 23 hingga 25 tahun menggunakan obat pencahar untuk menurunkan berat badan mereka. Namun, apakah itu aman untuk kesehatan? Berikut fakta-faktanya dilansir dari Healthline.
1. Obat pencahar atau laksatif adalah obat sembelit yang berfungsi mengencerkan feses dan membantu mengeluarkannya dari dalam tubuh
2. Obat pencahar memungkinkan feses menyerap banyak air dari tubuh sehingga berat badan terlihat berkurang
3. Namun, menurunkan berat badan dengan obat pencahar tidak efektif karena hanya akan membuatmu dehidrasi
4. Kondisi ini diiringi dengan sakit kepala, pusing, lemas, kulit kering, dan urine berubah warna menjadi lebih pekat
5. Obat pencahar tidak benar-benar mengurangi lemak tubuh, justru kadar air dalam tubuhmu yang berkurang
6. Konsumsi obat pencahar juga membuat elektrolit tubuh tak seimbang, padahal elektrolit penting untuk membantu sel dan jaringan bekerja dengan normal
7. Elektrolit yang tak seimbang bisa menyebabkan kejang, kebingungan, bahkan koma
7 Fakta Penyebab dan Cara Menghilangkan Cegukan dengan Segera | Equity World
Info lowongan kerja di Equity World SSC Jakarta | Equity World
8. Bila dikonsumsi terus dalam waktu lama, obat pencahar bisa merusak sistem pencernaan dan pankreas
9. Fungi ginjal dan hati pun bisa menurun, lama-lama bahkan bisa rusak
10. Obat pencahar bisa menginduksi rhabdomyolysis yang menyebabkan kerusakan jaringan otot dan lepasnya protein berbahaya menuju aliran darah
Buat kamu yang ingin menggunakan obat pencahar untuk menurunkan berat badan, lebih baik pikirkan ulang, ya. Lebih baik kamu berdiet disertai olahraga dan mengonsumsi makanan sehat saja. Lebih sehat dan aman lho!
Equity World
Rabu, 27 Februari 2019
Selasa, 26 Februari 2019
Equity World | Final Piala AFF U-22 2019: 4 Ancaman Thailand yang Perlu Diwaspadai Timnas Indonesia
Equity World | Final Piala AFF U-22 2019: 4 Ancaman Thailand yang Perlu Diwaspadai Timnas Indonesia
Equity World | Tak terbantahkan, Thailand adalah rajanya sepak bola Asia Tenggara. Negeri Gajah Putih seperti tak pernah bosan jadi juara event bergengsi AFF di berbagai level, mulai dari senior hingga junior.
Bisa dibilang Thailand tak pernah kering mencetak pemain-pemain bertalenta. Di ajang Piala AFF U-22 2019, Thailand berstatus juara bertahan.
Mereka jadi yang terbaik di edisi terakhir 2015 silam. Timnas Indonesia yang akan bersua mereka di laga final Piala AFF U-22 2019pada Selasa (26/2/2019) harus ekstrawaspada. Thailand yang sudah terbiasa menghadapi atmosfer pertandingan final bisa jadi momok.
Langkah Timnas Thailand U-22 cenderung mulus hingga ke laga puncak.
Tim asuhan Alexandre Lima, belum tersentuh kekalahan serta kebobolan dalam waktu normal pertandingan selama Piala AFF U-22 2019. Sang arsitek asal Brasil yang didapuk jadi nakhoda tim pada awal November 2018 terlihat sukses menjaga tempo permainan Timnas Thailand U-22.
Menghadapi jadwal padat turnamen, Thailand tak habis-habisan di awal namun gembos di akhir.
Di fase penyisihan Grup A Piala AFF U-22 2019, Thailand menang 1-0 dan 3-0 masing-masing atas Timor Leste dan Filipina, bermain tanpa gol kontra Vietnam.
Mereka melaju ke semifinal dengan status runner-up Grup A. Memasuki periode knock-out Tim Negeri Gajah Putih Muda bersua tuan rumah Kamboja yang jadi tim kuda hitam di penyisihan. Thailand menang 5-3 dalam adu penalti atas Kamboja (0-0) di semifinal.
Saat laga final nanti, Tim Garuda Muda kudu mewaspadai empat pemain yang jadi kartu truf Thailand. Siapa saja mereka?
Rekor tak kebobolan menunjukkan ketangguhan lini belakang Thailand U-22. Penyerang-penyerang Timnas Indonesia U-22 kudu cerdik untuk bisa menembus kerapatan poros belakang mereka.
Sebagai catatan Tim Merah-Putih berlaga di Piala AFF U-22 2019 tanpa penyerang-penyerang terbaik macam: Ezra Wallian, Egy Maulana Vikri, dan Saddil Ramdani.
Sebagai ganti Indra Sjafri menyiapkan duo Indonesia Timur, Osvaldo Haay dan Marinus Wanewar.
Ketangguhan lini belakang Thailand karena mereka punya duo stoper raksasa yang sulit ditembus.
Marco Ballini, bek keturunan Italia amat jago dalam duel-duel bola udara.
Ballini bersama kapten tim Saringkan Promsupa merupakan duet kunci sukses Thailand hingga melangkah ke babak final Piala AFF U-22 2019. Berkat duet bek tengah itu timnas Thailand U-22 tidak pernah kebobolan hingga memasuki babak final.
Ballini merupakan pesepak bola berdarah Italia yang lahir di Bologna pada 12 Juni 1998. Terlahir dari ayah asal Italia dan ibu asal Thailand, Ballini memulai karier sepak bola di tim akademi AC Cesena.
Setelah sempat memulai karier profesional bersama Alfonsine FC, Ballini kemudian direkrut klub asal Thailand Chainat Hornbill pada 2018. Ballini dikontrak juara Thai League 2 2017 itu hingga 2020. Musim lalu Ballini tampil di 16 pertandingan dan mencetak satu gol untuk Chainat.
Ballini sempat masuk daftar skuat bayangan Timnas Thailand senior untuk tampil di Piala AFF 2018. Tapi, pelatih Milovan Rajevac memutuskan untuk tidak membawa Ballini ke putaran final.
Dengan postur tinggi menjulang 198 cm, Ballini jelas jadi tembok yang sulit ditembus.
Mengandalkan tinggi badannya, Ballini juga menjadi andalan Thailand untuk mencetak gol lewat skema bola-bola mati. Ballini menjadi eksekutor terakhir timnas Thailand U-22 saat mengalahkan Kamboja di babak semifinal lewat adu penalti.
Duetnya Saringkan Promsupa yang berstatus sebagai kapten juga tak kalah garang. Ia saat ini jadi top scorer tim dengan lesakan dua gol.
Sebiji gol dicetak ke gawang Timor Leste, serta satu gol lainnya ke gawang Filipina.
Selain dua pemain di atas Thailand punya juga punya Jaroensak Wonggorn, sosok pengendali permainan di lini kedua.
Muntah? Ini 7 Gangguan Kesehatan yang Paling Sering Jadi Penyebabnya | Equity World
Info lowongan kerja di Equity World SSC Jakarta | Equity World
Jaroensak Wonggorn sudah mencetak satu gol di Piala AFF U-22 2019 ke gawang Filipina. Ini adalah gol international keduanya untuk Timnas Thailand U-23.
Sang playmaker sebelumnya mencetak satu gol ke gawang Bahrain pada turnamen Alpine Cup 2018. Jaroensak amat berbahaya saat mengeksekusi bola mati. Ia juga penembak jarak jauh yang jitu.
Di sektor tengah ia didampingi kompatriotnya Jedsadakorn Kowngam yang tak kalah mobil.
Jedsadakorn Kowngam adalah penggawa muda Ubon United FC dan saat ini sedang dipinjamkan ke Army United di tahun 2019 ini. Jedsadakorn yang berusia 21 tahun juga menjadi pemain penting di lini tengah Thailand U-22.
Jedsadakorn Kowngam mencetak satu gol ke gawang Filipina di Piala AFF U-22 2019. Jedsadakorn Kowngam juga menjadi salah satu algojo Thailand saat menghempaskan Kamboja di adu penalti.
Equity World
Equity World | Tak terbantahkan, Thailand adalah rajanya sepak bola Asia Tenggara. Negeri Gajah Putih seperti tak pernah bosan jadi juara event bergengsi AFF di berbagai level, mulai dari senior hingga junior.
Bisa dibilang Thailand tak pernah kering mencetak pemain-pemain bertalenta. Di ajang Piala AFF U-22 2019, Thailand berstatus juara bertahan.
Mereka jadi yang terbaik di edisi terakhir 2015 silam. Timnas Indonesia yang akan bersua mereka di laga final Piala AFF U-22 2019pada Selasa (26/2/2019) harus ekstrawaspada. Thailand yang sudah terbiasa menghadapi atmosfer pertandingan final bisa jadi momok.
Langkah Timnas Thailand U-22 cenderung mulus hingga ke laga puncak.
Tim asuhan Alexandre Lima, belum tersentuh kekalahan serta kebobolan dalam waktu normal pertandingan selama Piala AFF U-22 2019. Sang arsitek asal Brasil yang didapuk jadi nakhoda tim pada awal November 2018 terlihat sukses menjaga tempo permainan Timnas Thailand U-22.
Menghadapi jadwal padat turnamen, Thailand tak habis-habisan di awal namun gembos di akhir.
Di fase penyisihan Grup A Piala AFF U-22 2019, Thailand menang 1-0 dan 3-0 masing-masing atas Timor Leste dan Filipina, bermain tanpa gol kontra Vietnam.
Mereka melaju ke semifinal dengan status runner-up Grup A. Memasuki periode knock-out Tim Negeri Gajah Putih Muda bersua tuan rumah Kamboja yang jadi tim kuda hitam di penyisihan. Thailand menang 5-3 dalam adu penalti atas Kamboja (0-0) di semifinal.
Saat laga final nanti, Tim Garuda Muda kudu mewaspadai empat pemain yang jadi kartu truf Thailand. Siapa saja mereka?
Rekor tak kebobolan menunjukkan ketangguhan lini belakang Thailand U-22. Penyerang-penyerang Timnas Indonesia U-22 kudu cerdik untuk bisa menembus kerapatan poros belakang mereka.
Sebagai catatan Tim Merah-Putih berlaga di Piala AFF U-22 2019 tanpa penyerang-penyerang terbaik macam: Ezra Wallian, Egy Maulana Vikri, dan Saddil Ramdani.
Sebagai ganti Indra Sjafri menyiapkan duo Indonesia Timur, Osvaldo Haay dan Marinus Wanewar.
Ketangguhan lini belakang Thailand karena mereka punya duo stoper raksasa yang sulit ditembus.
Marco Ballini, bek keturunan Italia amat jago dalam duel-duel bola udara.
Ballini bersama kapten tim Saringkan Promsupa merupakan duet kunci sukses Thailand hingga melangkah ke babak final Piala AFF U-22 2019. Berkat duet bek tengah itu timnas Thailand U-22 tidak pernah kebobolan hingga memasuki babak final.
Ballini merupakan pesepak bola berdarah Italia yang lahir di Bologna pada 12 Juni 1998. Terlahir dari ayah asal Italia dan ibu asal Thailand, Ballini memulai karier sepak bola di tim akademi AC Cesena.
Setelah sempat memulai karier profesional bersama Alfonsine FC, Ballini kemudian direkrut klub asal Thailand Chainat Hornbill pada 2018. Ballini dikontrak juara Thai League 2 2017 itu hingga 2020. Musim lalu Ballini tampil di 16 pertandingan dan mencetak satu gol untuk Chainat.
Ballini sempat masuk daftar skuat bayangan Timnas Thailand senior untuk tampil di Piala AFF 2018. Tapi, pelatih Milovan Rajevac memutuskan untuk tidak membawa Ballini ke putaran final.
Dengan postur tinggi menjulang 198 cm, Ballini jelas jadi tembok yang sulit ditembus.
Mengandalkan tinggi badannya, Ballini juga menjadi andalan Thailand untuk mencetak gol lewat skema bola-bola mati. Ballini menjadi eksekutor terakhir timnas Thailand U-22 saat mengalahkan Kamboja di babak semifinal lewat adu penalti.
Duetnya Saringkan Promsupa yang berstatus sebagai kapten juga tak kalah garang. Ia saat ini jadi top scorer tim dengan lesakan dua gol.
Sebiji gol dicetak ke gawang Timor Leste, serta satu gol lainnya ke gawang Filipina.
Selain dua pemain di atas Thailand punya juga punya Jaroensak Wonggorn, sosok pengendali permainan di lini kedua.
Muntah? Ini 7 Gangguan Kesehatan yang Paling Sering Jadi Penyebabnya | Equity World
Info lowongan kerja di Equity World SSC Jakarta | Equity World
Jaroensak Wonggorn sudah mencetak satu gol di Piala AFF U-22 2019 ke gawang Filipina. Ini adalah gol international keduanya untuk Timnas Thailand U-23.
Sang playmaker sebelumnya mencetak satu gol ke gawang Bahrain pada turnamen Alpine Cup 2018. Jaroensak amat berbahaya saat mengeksekusi bola mati. Ia juga penembak jarak jauh yang jitu.
Di sektor tengah ia didampingi kompatriotnya Jedsadakorn Kowngam yang tak kalah mobil.
Jedsadakorn Kowngam adalah penggawa muda Ubon United FC dan saat ini sedang dipinjamkan ke Army United di tahun 2019 ini. Jedsadakorn yang berusia 21 tahun juga menjadi pemain penting di lini tengah Thailand U-22.
Jedsadakorn Kowngam mencetak satu gol ke gawang Filipina di Piala AFF U-22 2019. Jedsadakorn Kowngam juga menjadi salah satu algojo Thailand saat menghempaskan Kamboja di adu penalti.
Equity World
Senin, 25 Februari 2019
Equity World | Kepa Arrizabalaga Membangkang, Sarri Bantah Kehilangan Respek di Chelsea
Equity World | Kepa Arrizabalaga Membangkang, Sarri Bantah Kehilangan Respek di Chelsea
Equity World | Maurizio Sarri membantah sudah kehilangan kendali di Chelsea usai insiden dengan kiper Kepa Arrizabalaga. Seperti diketahui, Kepa sempat membuat ulah karena ogah digantikan Willy Caballero pada injury times final Carabao Cup antara Chelsea vs Manchester City pada Minggu (24/2/2019).
Apakah Sarri sudah kehilangan respek dari pemain-pemain Chelsea? Sarri memastikan dirinya masih memegang kendali di ruang ganti Chelsea.
Kepa Arrizabalaga menolak diganti menjelang adu penalti saat Chelsea menghadapi City di final Carabao Cup. Hal itu sontak membuat Sarri berang.Kepa yang diduga mengalami kram memang sempat menghalau penalti Leroy Sane.
Namun, City pada akhirnya menjadi juara Carabao setelah menang 4-3 dalam adu tos-tosan.
Sarri kemudian menegaskan insiden itu hanya kesalahpahaman. Dia tak akan memberi sanksi apapun untuk Kepa Arrizabalaga, kiper Chelsea yang sudah tidak mematuhi instruksinya.
Manajer berusia 60 tahun itu mengatakan bahwa penampilan impresif Chelsea dalam pertandingan tersebut menunjukkan bahwa dia tidak kehilangan kendali atas timnya meski insiden dengan Kepa mengisyaratkan sebaliknya.
"Saya pikir, jika Anda melihat pertandingan, Anda bisa memahami dengan baik bahwa hari ini, para pemain memainkan pertandingan yang kami siapkan kemarin. Jadi, saya pikir saya memegang kendali, mengendalikan situasi sepenuhnya," kata Sarri seperti dilansir Fox Sports Asia.
"Sekarang, saya ingin berbicara tentang hal yang lain, tentang cara kami bermain sepakbola hari ini, karena cara bermain kami hari ini sedikit berbeda dari pertandingan-pertandingan lainnya."
Insiden tersebut membuat Kepa dianggap tidak menunjukkan rasa hormat kepada Sarri. Namun, sang manajer tidak berpikir demikian.
"Tidak, Kepa hanya berkata:" Tidak, tidak, saya baik-baik saja dan bisa melanjutkan pertandingan. Dia mengerti saya ingin menggantinya karena cedera," lanjutnya.
"Dia hanya mengatakan kondisinya dengan mengatakan dia baik-baik saja. Jadi, saya pikir, dalam 120 menit, diskusi bisa terjadi dengan para pemain.
“Saya pikir kami harus berkonsentrasi pada sepakbola. Tentu saja, saya akan berbicara dengannya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dia benar untuk motivasinya. Tapi tidak untuk kelakuannya.”
7 Alasan Ini Menjelaskan Perbedaan Cepat Lambatnya Seseorang Tertidur | Equity World
7 Alasan Ini Menjelaskan Perbedaan Cepat Lambatnya Seseorang Tertidur | Equity World
Tidak Pengaruhi Pemain
Sarri juga membantah bahwa insiden itu mempengaruhi para pemain Chelsea menjelang adu penalti. Menurutnya, para pemain The Blues sangat tenang dalam adu penalti.
"Tidak, saya rasa tidak, karena satu-satunya orang yang gugup adalah diri saya sendiri. Saya melihat para pemain sangat tenang," kata Sarri.
“Kami sudah mempersiapkan [adu penalti], tetapi itu tidak berguna karena sangat mudah menendang penalti di tempat latihan. Kemudian, setelah 20 jam, Anda harus menendang penalti di sini di depan 80.000 orang, dan jutaan orang menonton di televisi. Jadi, ini sangat berbeda. Ini bukan masalah kemampuan teknis. Tetapi lebih banyak ke pikiran, saya pikir."
Equity World
Equity World | Maurizio Sarri membantah sudah kehilangan kendali di Chelsea usai insiden dengan kiper Kepa Arrizabalaga. Seperti diketahui, Kepa sempat membuat ulah karena ogah digantikan Willy Caballero pada injury times final Carabao Cup antara Chelsea vs Manchester City pada Minggu (24/2/2019).
Apakah Sarri sudah kehilangan respek dari pemain-pemain Chelsea? Sarri memastikan dirinya masih memegang kendali di ruang ganti Chelsea.
Kepa Arrizabalaga menolak diganti menjelang adu penalti saat Chelsea menghadapi City di final Carabao Cup. Hal itu sontak membuat Sarri berang.Kepa yang diduga mengalami kram memang sempat menghalau penalti Leroy Sane.
Namun, City pada akhirnya menjadi juara Carabao setelah menang 4-3 dalam adu tos-tosan.
Sarri kemudian menegaskan insiden itu hanya kesalahpahaman. Dia tak akan memberi sanksi apapun untuk Kepa Arrizabalaga, kiper Chelsea yang sudah tidak mematuhi instruksinya.
Manajer berusia 60 tahun itu mengatakan bahwa penampilan impresif Chelsea dalam pertandingan tersebut menunjukkan bahwa dia tidak kehilangan kendali atas timnya meski insiden dengan Kepa mengisyaratkan sebaliknya.
"Saya pikir, jika Anda melihat pertandingan, Anda bisa memahami dengan baik bahwa hari ini, para pemain memainkan pertandingan yang kami siapkan kemarin. Jadi, saya pikir saya memegang kendali, mengendalikan situasi sepenuhnya," kata Sarri seperti dilansir Fox Sports Asia.
"Sekarang, saya ingin berbicara tentang hal yang lain, tentang cara kami bermain sepakbola hari ini, karena cara bermain kami hari ini sedikit berbeda dari pertandingan-pertandingan lainnya."
Insiden tersebut membuat Kepa dianggap tidak menunjukkan rasa hormat kepada Sarri. Namun, sang manajer tidak berpikir demikian.
"Tidak, Kepa hanya berkata:" Tidak, tidak, saya baik-baik saja dan bisa melanjutkan pertandingan. Dia mengerti saya ingin menggantinya karena cedera," lanjutnya.
"Dia hanya mengatakan kondisinya dengan mengatakan dia baik-baik saja. Jadi, saya pikir, dalam 120 menit, diskusi bisa terjadi dengan para pemain.
“Saya pikir kami harus berkonsentrasi pada sepakbola. Tentu saja, saya akan berbicara dengannya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dia benar untuk motivasinya. Tapi tidak untuk kelakuannya.”
7 Alasan Ini Menjelaskan Perbedaan Cepat Lambatnya Seseorang Tertidur | Equity World
7 Alasan Ini Menjelaskan Perbedaan Cepat Lambatnya Seseorang Tertidur | Equity World
Tidak Pengaruhi Pemain
Sarri juga membantah bahwa insiden itu mempengaruhi para pemain Chelsea menjelang adu penalti. Menurutnya, para pemain The Blues sangat tenang dalam adu penalti.
"Tidak, saya rasa tidak, karena satu-satunya orang yang gugup adalah diri saya sendiri. Saya melihat para pemain sangat tenang," kata Sarri.
“Kami sudah mempersiapkan [adu penalti], tetapi itu tidak berguna karena sangat mudah menendang penalti di tempat latihan. Kemudian, setelah 20 jam, Anda harus menendang penalti di sini di depan 80.000 orang, dan jutaan orang menonton di televisi. Jadi, ini sangat berbeda. Ini bukan masalah kemampuan teknis. Tetapi lebih banyak ke pikiran, saya pikir."
Equity World
Jumat, 22 Februari 2019
Equity World | Sarri Akui Chelsea Krisis Kepercayaan Diri
Equity World | Sarri Akui Chelsea Krisis Kepercayaan Diri
Equity World | Chelsea berhasil mengalahkan Malmo dengan skor telak 3-0 pada leg kedua 32 besar Liga Europa 2018/19, Jumat (22/2) dini hari WIB. Kemenangan itu mengantarkan Chelsea ke 16 besar dengan agregat 5-1. Langkah awal Chelsea sudah cukup baik.
Kemenangan itu begitu penting bagi Chelsea yang baru saja dikalahkan Manchester City dan Manchester United di ajang Premier League dan FA Cup. Kondisi skuat Chelsea sedang tidak bagus, melawan tim seperti Malmo hadir di momen yang tepat.
Minggu (24/2) malam WIB mendatang, Chelsea akan kembali melawan Man City di final Carabao Cup. Pertandingan itu jelas tidak mudah. Chelsea bermodalkan kenangan pahit takluk 0-6 dari Man City di Premier League pekan lalu.
Menurut Sarri, skuatnya tidak percaya diri karena sedang melewati momen sulit. Mereka takluk dari Man City dan MU sebelum menghadapi Malmo di kedua leg. Artinya, laga melawan Malmo sangatlah penting untuk mendongkrak kepercayaan diri skuat Chelsea.
"Sudah jelas, kami berada di momen sulit, kami mendapati masalah dengan fans pada pertandingan terakhir jadi wajar bagi tim bermain tanpa kepercayaan diri," jelas Sarri di Football London.
"Saya sangat puas dengan penampilan kami pada bagian pertama pertandingan, sebab mustahil memberikan kualitas permainan terbaik jika tidak percaya diri, tapi level penerapan kami sudah bagus. Kami tampil sangat bagus dalam fase defensif dengan posisi dan pergerakan kami," paparnya.
5 Tanda Kamu Mengalami Penyakit Psikosomatik, Cek Yuk! | Equity World
Info lowongan kerja di Equity World SSC Jakarta | Equity World
Lebih lanjut, Sarri percaya masalah ini memang harus segera diselesaikan. Dia mengakui gaya sepak bolanya sulit, untuk memainkannya diperlukan rasa percaya diri. Oleh sebab itu, dia berharap skuat Chelsea bisa segera menemukan kepercayaan diri itu kembali.
"Untuk memainkan sepak bola kami, kami memerlukan kepercayaan diri. Jika kami ingin mengontrol pertandingan dan menguasai bola, serta ingin mengalirkan bola dengan sangat cepat, dengan satu sentuhan, dua sentuhan, kami harus percaya diri," tandas dia.
Tatap Final Carabao Cup
Masalahnya, pertandingan Chelsea berikutnya adalah melawan Man City di final Carabao Cup (24/2) dan Tottenham (28/2) di Premier League. Artinya, krisis kepercayaan diri ini mungkin masih akan berlanjut.
Equity World
Equity World | Chelsea berhasil mengalahkan Malmo dengan skor telak 3-0 pada leg kedua 32 besar Liga Europa 2018/19, Jumat (22/2) dini hari WIB. Kemenangan itu mengantarkan Chelsea ke 16 besar dengan agregat 5-1. Langkah awal Chelsea sudah cukup baik.
Kemenangan itu begitu penting bagi Chelsea yang baru saja dikalahkan Manchester City dan Manchester United di ajang Premier League dan FA Cup. Kondisi skuat Chelsea sedang tidak bagus, melawan tim seperti Malmo hadir di momen yang tepat.
Minggu (24/2) malam WIB mendatang, Chelsea akan kembali melawan Man City di final Carabao Cup. Pertandingan itu jelas tidak mudah. Chelsea bermodalkan kenangan pahit takluk 0-6 dari Man City di Premier League pekan lalu.
Menurut Sarri, skuatnya tidak percaya diri karena sedang melewati momen sulit. Mereka takluk dari Man City dan MU sebelum menghadapi Malmo di kedua leg. Artinya, laga melawan Malmo sangatlah penting untuk mendongkrak kepercayaan diri skuat Chelsea.
"Sudah jelas, kami berada di momen sulit, kami mendapati masalah dengan fans pada pertandingan terakhir jadi wajar bagi tim bermain tanpa kepercayaan diri," jelas Sarri di Football London.
"Saya sangat puas dengan penampilan kami pada bagian pertama pertandingan, sebab mustahil memberikan kualitas permainan terbaik jika tidak percaya diri, tapi level penerapan kami sudah bagus. Kami tampil sangat bagus dalam fase defensif dengan posisi dan pergerakan kami," paparnya.
5 Tanda Kamu Mengalami Penyakit Psikosomatik, Cek Yuk! | Equity World
Info lowongan kerja di Equity World SSC Jakarta | Equity World
Lebih lanjut, Sarri percaya masalah ini memang harus segera diselesaikan. Dia mengakui gaya sepak bolanya sulit, untuk memainkannya diperlukan rasa percaya diri. Oleh sebab itu, dia berharap skuat Chelsea bisa segera menemukan kepercayaan diri itu kembali.
"Untuk memainkan sepak bola kami, kami memerlukan kepercayaan diri. Jika kami ingin mengontrol pertandingan dan menguasai bola, serta ingin mengalirkan bola dengan sangat cepat, dengan satu sentuhan, dua sentuhan, kami harus percaya diri," tandas dia.
Tatap Final Carabao Cup
Masalahnya, pertandingan Chelsea berikutnya adalah melawan Man City di final Carabao Cup (24/2) dan Tottenham (28/2) di Premier League. Artinya, krisis kepercayaan diri ini mungkin masih akan berlanjut.
Equity World
Langganan:
Komentar (Atom)