Jumat, 20 Januari 2017

Mata Sering Lelah Saat Bekerja? Jaga Dengan 6 Cara Ini

Equityworld Futures | Mata Sering Lelah Saat Bekerja? Jaga Dengan 6 Cara Ini
 

Equityworld Futures | Penglihatan mata sangatlah penting dalam kehidupan. Bahkan pekerjaan paling sederhana tidak bisa terselesaikan bila mata memiliki gangguan. Tentunya dalam kehidupan pekerjaan sekarang, ketelitian dari penglihatan merupakan faktor yang penting untuk menyelesaikan tugas. Untuk itu rawat dan jaga mata Anda dengan 6 cara ini, seperti dikutip dari liputan6.com

Rutin ke dokter mata
Rajin ke dokter mata untuk memeriksakan mata Anda, akan mengurangi berbagai risiko yang tidak diinginkan. Mata akan diperiksa mulai dari penangkapan cahaya, tekanan darah, hingga fokus pandangan mata. Dengan cara ini, mata akan tetap terjaga dan siap untuk bekerja setiap harinya.

Konsumsi makanan sehat
Tidak diragukan lagi, mengkonsumsi berbagai makanan sehat akan memberikan manfaat baik untuk tubuh, termasuk mata Anda. Biasakan mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dan mineral yang penting untuk menjaga kemampuan mata. Makanan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan juga baik untuk dikonsumsi demi kesehatan mata.

Hindari mata kering saat bekerja
Faktanya banyak iritasi yang terjadi ketika mata kering. Selain kesalahan dari kelenjar mata, beberapa penyebab juga sering menjadi alasan mengapa mata kering, seperti keadaan lingkungan sekitar, penuaan, dan pengobatan medis. Mata kering dapat menyebabkan pandangan tidak fokus dan sensitif dengan cahaya yang terang. Sangat disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung Omega 3 seperti telur, minyak ikan, keju, dan daging.

Istirahatkan mata saat bekerja
Baik pekerjaan di dalam ruangan dan di luar ruangan, mata sebagai alat penglihatan harus senantiasa dijaga dengan mengistirahatkannya. Memandang komputer terlalu lama dapat menyebabkan kelelahan pada mata Anda. Kondisi lainnya yang dapat terjadi adalah pusing, mata kabur, dan tidak fokus. Usahakan untuk memberi waktu untuk otot mata beristirahat 20 detik setiap 20 menit sekali.

Gunakan kacamata
Banyak pekerjaan yang menuntut keamanan mata. Dalam kondisi ini jangan segan-segan untuk menggunakan kacamata untuk menghindari berbagai hal yang dapat membahayakan mata Anda. Sangat direkomendasikan untuk membeli sebuah kacamata yang melindungi mata dari sinar UVA dan UVB.

Tak kalah menarik kunjungi juga : Equityworld Futures

Ikuti aturan saat menggunakan lensa kontak
Lensa kontak memberikan banyak kenyamanan dibanding dengan kacamata, namun lebih banyak perawatan yang harus dilakukan agar mata sehat saat menggunakan lensa ini. Selalu patuhi aturan penggunaan lensa kontak sehingga terhindar dari risiko penyakit yang bisa ditimbulkan dari lensa.

Kamis, 19 Januari 2017

Wow, Bakteri Sudah Kebal Antibiotik

Equity World | Wow, Bakteri Sudah Kebal Antibiotik
 

Equity World | Kasus infeksi bakteri yang kebal antibiotik semakin mengkhawatirkan. Yang terbaru, seorang wanita di Amerika Serikat meninggal dunia karena infeksi yang dialaminya tidak bisa diobati oleh hampir semua jenis antibiotik yang ada di AS.

Wanita berusia 70 tahun asal Nevada itu awalnya mengalami cedera kaki di India dan infeksinya  sampai ke tulang dan menjalar ke bagian panggul. Ia pun dipindah ke AS dan ketika itu kondisinya sudah sangat parah.

Sistem imun wanita tersebut bekerja keras melawan infeksi yang menyebabkan peradangan di seluruh tubuhnya. Ia pun meninggal karena shock skeptik atau lonjakan reaksi sistem kekebalan tubuh.

Sampel infeksi yang dialaminya lalu dites oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC). Hasilnya, ia terinfeksi Klebsiella pneumoniae, yang normalnya hidup di usus dan tidak menyebabkan penyakit.

Walau CDC mengatakan kasus resistensi pada semua jenis antibiotik sangat langka, tetapi kasus ini menjadi pengingat bahaya dari "mimpi buruk bakteri".

"Walau kasusnya sangat jarang, tapi di masa depan ini akan jadi hal umum. Hal ini terjadi karena wanita itu pernah dirawat berulang kali di rumah sakit India dan perjalanan global membuat kasus semacam ini akan meningkat," kata Dr.David Brown ilmuwan dari Antibiotik Research Inggris.

Masalah besar

Resistensi antibiotik alias kuman dan bakteri yang tidak lagi mempan oleh obat diperkirakan akan menjadi penyebab kematian utama, melebihi kanker, di tahun 2050.

Jenis infeksi yang kebal obat termasuk strain baru E.coli, malaria dan tuberkulosis, telah membunuh 700.000 orang tahun ini. Tetapi angkanya bisa meningkat menjadi 10 juta jika tidak ada tindakan nyata untuk mengatasi masalah ini.

Ada berbagai faktor yang membuat kasus resistensi antibiotik menjadi meningkat, salah satunya adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional (berlebihan, dosisnya kurang, atau tidak tepat) selama bertahun-tahun.

Selain itu, penggunaan antibiotik di peternakan dan perikanan, serta pengendalian infeksi yang lemak di rumah sakit, memperburuk kondisi ini.

Kebanyakan orang yang terinfeksi bakteri kebal obat, misalnya saja Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), terjadi di rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan, misalnya pusat dialisis, atau menggunakan alat medis yang menyebabkan ada luka terbuka di kulit.

Tak kalah menarik kunjungi juga : Equity World

Untuk mencegah resistensi antibiotik, masyarakat hendaknya lebih bijaksana dalam menggunakan obat ini. Antibiotik adalah obat keras yang ditujukan untuk mengobati penyakit akibat bakteri, bukan virus.

Rabu, 18 Januari 2017

Cara Mudah Kurangi Konsumsi "Junk Food"

PT Equityworld | Cara Mudah Kurangi Konsumsi "Junk Food"




PT Equityworld | Bahkan bagi yang terbiasa makan sehat, jujur saja sulit melawan kelezatan kue cokelat, kentang goreng, burger atau pun donat yang ditawarkan ke hadapan Anda. Iman langsung runtuh melawan godaan nikmat itu.

Menurut sebuah riset baru, cara terbaik melawan situasi itu adalah mengambil sendiri daripada disajikan orang lain. Hasil penelitian yang diterbitkan di Journal of Marketing Research itu mengungkapkan, seseorang jadi makan lebih sedikit makanan tak sehat ketika mengambil sendiri daripada diambilkan orang lain sepiring penuh.

"Kami menemukan ketika peserta penelitian diberi pilihan apakah akan atau tidak mengonsumsi camilan yang dipandang kurang sehat, mereka punya kecenderungan lebih besar mengonsumsi ketika lebih sedikit keterlibatan fisik dibutuhkan untuk mengambil makanan tersebut," kata peneliti Linda Hagen, Aradhna Krishna dan Brent McFerran.

Jadi ketika makan junk food harus membuat Anda berusaha misalnya berdiri, pergi ke meja dan memilih sendiri cokelat-cokelat yang ada, maka Anda cenderung makan lebih sedikit daripada diberi sepiring oleh orang lain.

"Kami menyimpulkan perilaku ini terjadi karena lebih sedikit kegiatan fisik terlibat dalam penyajian makanan membuat si peserta menolak tanggung jawab atas tindakan makan tak sehat. Kita merasa jika seseorang menyuguhkan makanan enak, itu bukan salah kita, kan?," katanya.

Menariknya, peneliti menemukan hal yang sama tidak berlaku pada makanan sehat.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, peneliti melakukan lima eksperimen berbeda. Sukarelawan dibawa ke laboratorium dimana ada Reese's Pieces (sejenis cokelat warna-warni M&M) ditinggalkan di meja untuk dimakan mereka.

Metoda penyajian berbeda juga diuji. Ketika cokelat ditaruh di mangkuk besar agar sukarelawan mengambil sendiri, tak ada yang mengambil.

Tak kalah menarik kunjungi juga : PT Equityworld

Namun ketika cokelat itu disajikan dalam mangkuk kecil, sekitar sepertiga peserta memakannya.

Jadi jika ingin makan lebih sedikit junk food, mungkin jawabannya adalah menyajikan makanan dengan cara yang mengharuskan kita mengukur sendiri porsi karena kita tampaknya malas untuk melakukannya.

Selasa, 17 Januari 2017

Meninggal Mendadak Setelah Olahraga, Apa Sebabnya?

Equityworld Futures | Meninggal Mendadak Setelah Olahraga, Apa Sebabnya?


Equityworld Futures | Beberapa kali kita pernah mendengar kasus seorang atlet yang meninggal mendadak setelah melakukan latihan olahraga. Padahal, anggapan umum terhadap atlet adalah orang yang sehat. Lantas kenapa mereka bisa meninggal secara mendadak?

Salah satu penyebab kematian mendadak pada atlet adalah berhentinya kerja jantung secara tiba-tiba. Kejadian tersebut dipicu oleh olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dalam waktu lama.

Dokter konsultan jantung dan elektrofisiologis Jeremy Chow menjelaskan, ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan seseorang bisa mengalami kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death (SCD). Berikut di antaranya.

1. Kelainan jantung kongenital
Kelainan jantung kongenital merupakan kondisi cacat pada jantung atau dikenal juga dengan kelainan bawaan. Kondisi ini sudah ada sejak seorang individu dilahirkan. Umumnya seseorang yang mengalami kelainan jantung kongenital tidak dapat hidup lama, kecuali mendapat tindakan operatif pada jantungnya.

2. Kelainan otot jantung
Kondisi ini bisa berupa hipertropi (pembesaran) otot jantung yang berakibat dari gagalnya jantung untuk berfungsi secara normal. Chow mengatakan, 80 persen SCD disebabkan oleh kondisi ini.

"Ini merupakan faktor genetik sehingga tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya," ujar dokter dari Asian Heart & Vascular Centre, Gleneagles Medical Centre, Singapura, dalam sebuah wawancara Selasa (29/4/2014) di Jakarta.

3. Aritmia
Aritmia dikenal juga sebagai gangguan irama jantung. Kondisi ini disebabkan oleh permasalahan kelistrikan jantung. Saat terjadinya aritmia, detak jantung bisa terjadi sangat lambat bahkan berhenti. Inilah yang menyebabkan kematian.

4. Abnormalitas arteri jantung
Gangguan ini berupa adanya penyumbatan pada arteri ke jantung sehingga mengakibatkan fungsi jantung yang terganggu. Abnormalitas arteri juga bisa berarti kelainan pada letak maupun cabang dari arteri.

5. Infeksi atau inflamasi
Virus atau bakteri bisa menginfeksi organ-organ dalam tubuh manusia, termasuk jantung. Infeksi menyebabkan inflamasi atau peradangan di jantung yang memicunya tidak berfungsi dengan baik.

"Dengan memiliki salah satu faktor di atas, seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami SCD. Bahkan, di usia muda, di bawah 40 tahun, mereka bisa mengalaminya, terutama saat melakukan olahraga dengan intensitas tinggi dalam waktu panjang," ujar Chow.

Tak bergejala

Chow menegaskan, SCD berbeda dengan serangan jantung meskipun sama-sama menyebabkan jantung gagal berfungsi dan berujung pada kematian. SCD, kata dia, umumnya tidak bergejala, tidak seperti serangan jantung.

"Biasanya, saat mengalami serangan jantung, ada rasa nyeri di dada yang menjalar dan orang bisa bertahan beberapa waktu. Namun, pada SCD, kematian bisa langsung terjadi saat itu juga dan sayangnya tidak ada gejala," ujarnya.

Tak kalah menarik kunjungi juga : Equityworld Futures

Serangan jantung kebanyakan disebabkan oleh penyakit jantung yang berlangsung kronik dalam waktu lama. Misalnya, penumpukan plak di pembuluh darah yang mempersempit pembuluh darah bisa menyebabkan serangan jantung jika sudah tersumbat. Ini berbeda dengan SCD, yang kebanyakan faktor pemicunya merupakan bawaan atau faktor genetik.