Senin, 31 Oktober 2022

Equity World | Pasar Asia Pasifik Naik Jelang Data Aktivitas Pabrik Tiongkok

Equity World | Pasar Asia Pasifik Naik Jelang Data Aktivitas Pabrik Tiongkok

Equity World | Saham di Asia Pasifik naik pada pembukaan perdagangan Senin (31/10) menjelang rilis data aktivitas pabrik Tiongkok yang dijadwalkan akan dirilis. Sementara itu, pasar menantikan pertemuan Federal Reserve atau Fed Amerika Serikat (AS) akhir pekan ini.

Pada perdagangan hari terakhir di Amerika Serikat (AS), indeks saham utama masing-masing melonjak 2% karena optimisme bahwa inflasi mungkin melambat.

Nikkei 225 naik 1,32% di awal perdagangan, dan Topix naik sekitar 1%. Kospi . Korea Selatan menambahkan 0,59% dan Kosdaq 0,83% lebih tinggi.

Di Australia, S&P/ ASX 200 juga ditambah 1%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,3%

Biro Statistik Nasional Tiongkok diperkirakan akan merilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) hari ini. Sementara itu, analis memperkirakan angka 50 menurut jajak pendapat Reuters.

Akhir pekan ini, Fed akan mengadakan pertemuan kebijakan dan mengumumkan keputusan suku bunganya. Beberapa negara juga akan melaporkan data inflasi minggu ini.

Aktivitas manufaktur Tiongkok untuk Oktober 2022 diperkirakan tidak akan berubah dari bulan sebelumnya, mendatar menurut hasil jajak pendapat Reuters. Angka tersebut diperkirakan akan mencapai 50, titik yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi. Cetakan PMI membandingkan aktivitas dari bulan ke bulan.

Pada September 2022, ekonomi menambah pembacaan PMI 50,1.

Trader Mencari Tanda Perlambatan dari Fed

Wall Street akan mengamati pernyataan The Fed dengan cermat minggu ini, untuk tanda-tanda bahwa bank sentral AS itu akan mengurangi laju kenaikan suku bunganya.

Menurut alat CME FedWatch, para trader percaya ada kemungkinan 80% bahwa Fed menaikkan suku tiga perempat poin pada Rabu (2/11).

Itu akan membawa kisaran target bank sentral menjadi 3,75% hingga 4%.

Di luar itu, bagaimanapun, pasar terlihat lebih tidak pasti. Hanya ada kemungkinan 44% dari kenaikan lain sebesar itu pada Desember 2022.

Kamis, 27 Oktober 2022

Equity World | Wall Street Tertekan Anjloknya Saham Microsoft dan Alphabet

Equity World | Wall Street Tertekan Anjloknya Saham Microsoft dan Alphabet

Equity World | Bursa saham AS, Wall Street melemah di akhir perdagangan Rabu. Di mana indeks S&P 500 mengakhiri kenaikan beruntun tiga hari karena panduan pendapatan yang suram menambah kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global.

Dow Jones Industrial Average naik 2,37 poin, atau 0,01%, menjadi 31.839,11, S&P 500 kehilangan 28,51 poin, atau 0,74%, menjadi 3.830,6 dan Nasdaq Composite turun 228,12 poin, atau 2,04%, menjadi 10.970,99.

Adapun kenaikan suku bunga yang lebih kecil dari perkiraan oleh Bank of Canada. Hal ini memberi harapan bahwa Fed mungkin mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran kenaikan suku bunga setelah pertemuan kebijakan 1-2 November.

"Hari ini pasar mengejar kenaikan selama seminggu terakhir ini. Masih ada dua pertemuan Fed di depan kita tahun ini," ujar kata Managing Partner Keator Group, Matthew Keator, dilansir dari Reuters, Kamis (27/10/2022).

S&P 500 dan Nasdaq berakhir di wilayah negatif, terseret lebih rendah oleh perusahaan teknologi terkemuka di pasar dan perusahaan yang berdekatan dengan teknologi menyusul hasil dari Microsoft dan Alphabet. Blue-chip Dow menambah keuntungan nominal.

Saham Microsoft dan Alphabet merosot, masing-masing turun 7,7% dan 9,1%. Laporan suram tersebut membawa kekhawatiran atas penurunan ekonomi global yang akan datang dari mendidih hingga mendidih, dan menyebar ke megacaps profil tinggi lainnya.

Penjualan rumah AS yang baru dibangun jatuh pada bulan September sementara tingkat hipotek mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, menambah tumpukan data yang menunjukkan lanskap ekonomi yang melemah.

Lima dari 11 sektor utama S&P 500 mengakhiri sesi dengan merah, dengan layanan komunikasi dan teknologi menderita persentase kerugian terbesar.

Musim pendapatan kuartal ketiga telah bergeser ke gigi tinggi, dengan 170 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan. Dari jumlah tersebut, 75% telah memberikan hasil yang mengalahkan konsensus, menurut Refinitiv.

Tetapi mereka memiliki bar rendah untuk dibersihkan. Analis melihat pertumbuhan pendapatan agregat S&P 500 sebesar 2,3%, turun dari 4,5% pada awal bulan, menurut Refinitiv.

"Ada banyak pengumuman pendapatan perusahaan yang menjanjikan kuartal ini," tambah Keator. "Saya tidak berpikir itu harus menjadi kenyataan bahwa kita akan terus melihat pendapatan meleset secara keseluruhan."

Boeing Co melaporkan kerugian kuartal ketiga yang lebih dalam dari perkiraan, membuat sahamnya merosot 8,8%.

Di sisi positifnya, Visa Inc naik 4,6% setelah kekalahan laba perusahaan kredit konsumen.

Saham induk Facebook Meta Inc turun lebih dari 12% dalam perdagangan setelah jam kerja setelah memposting hasil.

Rabu, 26 Oktober 2022

Equity World | IHSG Terkoreksi 0,10% di Sesi Pertama Saat Bursa Asia di Zona Hijau

Equity World | IHSG Terkoreksi 0,10% di Sesi Pertama Saat Bursa Asia di Zona Hijau

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada sesi pertama perdagangan Selasa (25/10) dengan penurunan 0,10% ke level 7.045 setelah mencetak reli selama enam hari beruntun. Adapun, saham di sektor energi, pada hari ini mengalami penurunan terdalam sebesar 0,88%.

Kinerja IHSG berkebalikan dengan laju seluruh bursa saham di Asia yang pada siang ini bergerak di zona hijau. Indeks Nikkei naik 1,02%, indeks Hang Seng juga menguat 0,17%. Lalu, indeks Shanghai Komposit dan dan Strait Times bergerak naik masing-masing 0,11% dan 0,25%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Handiman Soetoyo, mengatakan bursa saham AS naik pada hari Senin karena investor mengantisipasi musim pengumuman kinerja perusahaan. S&P Global US Manufacturing PMI lebih rendah dari ekspektasi di 49,9, sementara S&P Global US Services PMI juga turun ke 46,6, menandakan kontraksi di ekonomi terbesar dunia.

"Kemarin, Indeks Hang Seng jatuh lebih dari 6% setelah tim kepemimpinan baru Xi Jinping membawa kekhawatiran pertumbuhan ekonomi akan dikorbankan untuk kebijakan yang bersifat ideologi," katanya, Selasa (25/10).

Sebagai catatan, sektor properti dan teknologi telah ditargetkan untuk diregulasi lebih ketat di bawah pemerintahan Xi.

Adapun, investor domestik akan mengamati rilis kinerja dengan cermat. Pada bulan September, ekspor batu bara Indonesia ke Eropa naik signifikan sebesar 105% secara bulanan menjadi 1,2 juta ton di tengah meningkatnya permintaan dari Belanda, Italia, dan Polandia.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham hari ini tercatat mencapai Rp 7,93 triliun dengan volume 15,83 miliar saham dan frekuensi sebanyak 827.979 juta kali.

Tercatat 284 saham terkoreksi, 225 saham menguat, dan 175 saham tidak bergerak. Sedangkan untuk kapitalisasi pasar IHSG pada hari ini juga tergerus menjadi Rp 9.402,54 triliun.

Bersamaan dengan turunnya IHSG, mayoritas sektor perdagangan bursa Tanah Air juga berada di zona merah. Dipimpin oleh sektor energi yang turun hingga 0,88%. Adapun, saham di sektor energi yang terkoreksi misalnya,PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) turun 2,04% atau 80 poin menjadi Rp 3.840 per saham.
Selanjutnya, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 1,93% atau 850 poin menjadi Rp 43.300 per saham. Terakhir PT Harum Energy Tbk (HRUM) turun 1,86% atau 50 poin menjadi Rp 30 per saham.

Sektor saham yang berada di zona merah yaitu industri turun 0,10%, non primer turun 0,18%, dan primer 0,59%. Lalu sektor transportasi turun 0,38%, sektor industri dasar turun 0,87%, sektor teknologi 0,22%, dan sektor energi turun 0,88%. Sedangkan sektor yang berada di zona hijau yaitu sektor kesehatan naik 1,12%, sektor keuangan naik 0,33%, dan sektor properti naik 0,64%.

Adapun saham yang berada di top gainers yaitu PT Indo Pureco Pratama Tbk dengan kenaikan 22,16% atau 4 poin menjadi Rp 226 per saham. Lalu,

saham yang berada di top losers yaitu PT Black Diamond Resources Tbk dengan penurunan 6,92% atau 18 poin menjadi Rp 242 per saham.

Selasa, 25 Oktober 2022

Equity World | Harga Emas Rebound Tipis, Investor Cermati Kebijakan The Fed

Equity World | Harga Emas Rebound Tipis, Investor Cermati Kebijakan The Fed

Equity World | Harga emas kembali rebound pada perdagangan Selasa (25/10) pagi. Pukul 07.22 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2022 di Commodity Exchange ada di US$ 1.656,80 per ons troi, naik 0,16% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.654,10 per ons troi.

Pergerakan emas di pasar Asia cenderung stabil karena para trader masih menilai apakah Federal Reserve akan menunjukkan kebijakan suku bunga yang hawkish pada pekan depan.

Harga emas telah terpukul dalam beberapa bulan terakhir, jatuh hampir 20% dari puncaknya pada Maret lalu karena bank sentral AS memperketat kebijakan moneter secara  agresif.

Kini, fokus investor beralih ke ukuran kenaikan suku bunga The Fed ke depan, karena bank sentral di seluruh dunia berusaha untuk menekan lonjakan inflasi.

Investor bertaruh bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada pertemuan 1-2 November, dan kembali naik 50 bps-75 bps pada Desember.

Kenaikan suku bunga The Fed akan membawa gejolak baru di pasar emas, mendorong investor untuk mencari perlindungan di greenback dan membuat emas batangan tertekan.

Senin, 24 Oktober 2022

Equity World | "Perpecahan" The Fed Untungkan Emas, Harganya Melonjak 2%

Equity World | "Perpecahan" The Fed Untungkan Emas, Harganya Melonjak 2%

Equity World | Pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) dikabarkan terbelah mengenai kebijakan moneter mereka ke depan. Sebagian dari mereka menginginkan jika kebijakan moneter bisa dilonggarkan mulai Desember mendatang tetapi sebagian dari mereka menentangnya.

Keinginan sebagian pejabat The Fed untuk melonggarkan kebijakan ini tentu saja berdampak positif ke emas. Ada harapan jika kebijakan agresif The Fed akhirnya mereda sehingga harga emas terangkat.

Wall Street Journal melaporkan jika seluruh pejabat The Fed sepakat untuk mengerek suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps) pada November mendatang. Perbedaan pendapat terjadi mengenai kebijakan moneter setelah bulan tersebut atau Desember.

Presiden The Fed San Franciso Mary Daly adalah salah satu pejabat yang menyuarakan keinginan agar The Fed bisa melonggarkan kebijakan agresifnya. Pelonggaran diperlukan untuk mencegah ekonomi AS agar tidak melambat secara tajam.

Sebaliknya, Presiden The Fed Chicago Charles Evans menegaskan jika kebijakan ketat tetap harus dilanjutkan. Dia menginginkan suku bunga acuan bisa dinaikkan hingga 4,5% pada tahun depan untuk kemudian ditahan.

Sebagai catatan, The Fe sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 300 bps pada tahun ini ke kisaran 3.0-3,25%.

"Artikel Wall Street Journal yang menyebut mengenai fase kenaikan menjadi masukan berharga bagi pelaku pasar, termasuk emas," tutur analis komoditas TD Securities Daniel Ghali, dilansir dari Reuters.

Ghali menambahkan adanya harapan jika The Fed melonggarkan kebijakan agresifnya inilah yang membuat harga emas terangkat dalam dua hari terakhir.

Pada perdagangan Senin (24/10.2022) pukl 06:05 WIB, harga emas di pasar spot ada di posisi US$ 1.660,06 per troy ons, naik 0,21% dibandingkan hari sebelumnya.

Penguatan pada pagi hari memperpanjang tren positif emas yang sudah menguat sejak Jumat pekan lalu. Dalam dua hari terakhir, harga emas sudah melonjak 2%.
Dalam sepekan, harga emas juga masih menguat 0,61% secara point to point. Harga emas juga masih menguat 1,03% sebulan tetapi ambles 8,2% setahun.

Pergerakan emas pada tahun ini sangat sensitif pada tingkat suku bunga acuan The Fed. Emas selalu terpuruk begitu The Fed menaikkan suku bunga acuan secara agresif. Sejak The Fed menaikkan suku bunga pada Maret lalu, harga emas sudah ambles US$ 282, 3 per troy ons.

Kenaikan suku bunga akan melambungkan dolar AS dan yield surat utang pemerintah AS. Keduanya berdampak negatif ke emas. Dolar AS yang melambung membuat emas kurang menarik karena semakin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield surat pemerintah AS akan membuat emas kurang menarik.


Jumat, 21 Oktober 2022

Equity World | Nasib! Sudah Anjlok 2%, Harga Emas Diramal Merosot Terus

Equity World | Nasib! Sudah Anjlok 2%, Harga Emas Diramal Merosot Terus

Equity World | Harga emas masih betah bergerak di zona merah. Pada perdagangan Jumat (21/10/2022) pukul 06:07 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.625,72 per troy ons. Harga emas melandai 0,12%.

Pelemahan hari ini memperpanjang tren negatif emas yang sudah berlangsung sejak Rabu atau dalam tiga hari terakhir. Pada perdagangan Kamis (20/10/2022), harga emas juga melemah 0,05% ke US$ 1.627,66 per troy ons. Dalam tiga hari perdagangan, harga emas sudah ambles 1,7% atau nyaris 2%.

Dalam sepekan, harga emas sudah turun 0,98% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas ambles 2,87% sementara dalam setahun anjlok 8,8%.

Analis dari High Ridge Futures David Meger memperkirakan harga emas masih terus turun ke depan. Pasalnya, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis points (bps) pada bulan depan.

"Jika suku bunga acuan terus naik maka itu akan membebani harga emas dalam jangka pendek. Pelaku pasar jelas hanya fokus pada faktor The Fed dari pada faktor penggerak emas lainnya," tutur Meger, dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, The Fed akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 1-2 November mendatang.

Besarnya fokus pelaku pasar terhadap kebijakan The Fed juga mengabaikan fakta jika dolar AS melemah kemarin. Emas biasanya akan menguat begitu dolar AS melemah tetapi pada pagi hari ini tetap melandai.

Indeks dolar turun 0,09% ke posisi 112,88 pada perdagangan kemarin setelah Perdana Menteri Inggris Liz Truss mundur. Langkah Truss membuat pound sterling menguat dan dolar ikut melemah.

Sejumlah data terbaru ekonomi AS menunjukkan hal yang bertentangan. Jumlah klaim pengangguran menurun pekan lalu yang menjadi sinyal masih kencangnya laju ekonomi AS. Data ini akan semakin mendukung kenaikan suku bunga acuan The Fed. Namun, penjualan rumah existing di AS ambruk selama delapan bulan beruntun di September.

"Ada banyak yang berpendapat jika ekonomi AS akan melandai dan ini mungkin akan membuat The Fed melonggarkan kebijakan di masa mendatang. Namun, harga emas saat ini hanya didasarkan pada apa yang akan dilakukan The Fed dalam waktu dekat," tutur CEO of Circle Squared Alternative Investments Jeffrey Sica.

Kamis, 20 Oktober 2022

Equity World | Amsyong Gengs! Harga Emas Cetak Rekor Terendahnya Lagi

Equity World | Amsyong Gengs! Harga Emas Cetak Rekor Terendahnya Lagi

Equity World | Makin kencangnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) membuat emas terpuruk sangat dalam.

Pada perdagangan Kamis (20/10/2022) pukul 06: 12 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.627,14 per troy ons. Harga emas melandai 0,08%.

Harga emas pagi hari ini merupakan yang terendah sejak 29 September 2022 atau dalam tiga pekan terakhir. Melemahnya emas pagi ini juga memperpanjang tren negatif emas yang terjadi kemarin. Pada perdagangan Rabu (19/10/2022), harga emas ambruk 1,4% ke US$ 1.628,48 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas sudah melandai 2,3% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas ambles 2,2% sementara dalam setahun anjlok 8,7%.

Analis IG Yeap Jun Rong mengatakan pelemahan emas merupakan respon dari semakin kencangnya ekspektasi pasar mengenai kebijakan agresif The Fed.
Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, Selasa (18/10/2022), mengatakan The fed bisa saja menaikkan suku bunga acuan hingga di atas 4,75% jika inflasi belum saja mereda.

The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 200 basis points (bps) menjadi 3,00-3,25% sepanjang 2022. Pasar berekspektasi The Fed akan mengerek suku bunga acuan sebesar 75 bps.

The Fed akan menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 1-2 November mendatang.
"Pelaku pasar menginginkan kejelasan kapan kebijakan agresif The Fed berakhir sebelum mulai percaya diri membeli emas," tutur Yeap Jun Rong, dikutip dari Reuters

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed juga membuat dolar AS menguat tajam sehingga emas pun menjad kurang menarik karena semakin mahal.

Indeks dolar pada pagi hari ini ada di kisaran 112,98 atau menguat 0,76% dibandingkan hari sebelumnya. Analis dari City Index Fawad Razaqzada memperkirakan harga emas kemungkinan akan terus melemah ke depan.

"Emas akan melemah bahkan bisa terus melandai ke kisaran US$ 1.600 per troy ons," tutur Razaqzada.

Goldman Sachs melakukan sejumlah perhitungan atas proyeksi harga emas ke depan. Ada empat skenario terkait pergerakan emas yang menggambarkan sekuat dan selemah apa sang logam mulia akan bergerak.

Empat scenario tersebut adalah soft landing, resesi di AS dengan pemangkasan suku bunga yang tajam, inflasi melonjak, kenaikan suku bunga lebih tinggi, dan resesi di AS dengan pemangkasan suku bunga terbatas.

Perhitungan berdasarkan empat skenario tersebut menghasilkan pergerakan yang berbeda dari harga emas. Emas bisa ambruk ke level US$ 1.500 hingga melambung ke kisaran US$ 2.250 per troy ons.

Rabu, 19 Oktober 2022

Equity World | Wall Street Dibuka Rebound Lagi Nih, Bakal Bertahan Lama?

Equity World | Wall Street Dibuka Rebound Lagi Nih, Bakal Bertahan Lama?

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak dibuka cerah pada perdagangan Senin (17/10/2022) awal pekan ini, setelah pada akhir pekan lalu sempat kembali melemah karena investor masih khawatir dengan masih tingginya inflasi di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka melonjak 1,68% ke posisi 30.133,05. Sedangkan indeks S&P 500 melejit 2,07% ke 3.657,11, dan Nasdaq Composite terbang 2,54% menjadi 10.584,06.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Dow Jones ditutup ambles 1,34%, S&P 500 ambruk 2,37%, dan Nasdaq Composite anjlok 3,08%.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak dibuka cerah pada perdagangan Senin (17/10/2022) awal pekan ini, setelah pada akhir pekan lalu sempat kembali melemah karena investor masih khawatir dengan masih tingginya inflasi di AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dibuka melonjak 1,68% ke posisi 30.133,05. Sedangkan indeks S&P 500 melejit 2,07% ke 3.657,11, dan Nasdaq Composite terbang 2,54% menjadi 10.584,06.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, Dow Jones ditutup ambles 1,34%, S&P 500 ambruk 2,37%, dan Nasdaq Composite anjlok 3,08%.

Selasa, 18 Oktober 2022

Equity World | Angin Surga Datang dari Wall Street, Kabar Baik Buat IHSG?

Equity World | Angin Surga Datang dari Wall Street, Kabar Baik Buat IHSG?

Equity World | Mayoritas pasar keuangan Indonesia pada perdagangan Senin (17/10/2022) cenderung positif, di mana hanya rupiah saja yang mencatatkan kinerja yang kurang baik kemarin.

Di pasar saham dalam negeri, menurut data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 0,24% ke posisi 6831,12.

IHSG sempat menyentuh zona merah pada perdagangan sesi I hingga awal perdagangan sesi II kemarin. Bahkan, IHSG sempat menyentuh zona psikologis 6.700 dan mencetak level terendah hariannya di 6.747,38 pada awal perdagangan sesi I kemarin.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan kemarin mencapai sekitaran Rp 14 triliun dengan melibatkan 29 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,1 juta kali. Sebanyak 153 saham menguat, 411 saham melemah, dan 120 saham lainnya stagnan.

Investor asing kembali melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 492,46 miliar di pasar reguler. Tetapi di pasar tunai dan negosiasi, asing tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) cukup besar yakni mencapai Rp 2,89 triliun.

Di Asia-Pasifik, secara mayoritas mengalami penguatan. Kecuali indeks ASX 200 Australia, Nikkei 225 Jepang, Straits Times Singapura, dan Weighted Index Taiwan (TAIEX).

Dari indeks Asia-Pasifik yang mengalami penguatan, indeks saham Filipina memimpin dengan ditutup melesat 1,11%. Kemudian disusul BSE Sensex India yang menguat 0,85%.

Sedangkan untuk mata uang rupiah, pada perdagangan Senin kemarin ditutup melemah dihadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Mengacu pada data Refinitiv, begitu perdagangan dibuka rupiah sudah melemah 0,26% ke Rp 15.465/US$. Pukul 11.00 WIB rupiah terpantau masih tak berdaya melawan dolar AS, dan terpantau melemah 0,3% ke Rp 15.472/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah tembus ke Rp 15.485/US$, melemah 0,39% di pasar spot, sekaligus menjadi posisi baru terlemah dalam 2,5 tahun terakhir. Dengan ini, rupiah nyaris jatuh ke jurang 15.500/US$.

Secara mayoritas, mata uang Asia-Pasifik cenderung bervariasi. Mata uang dolar Australia, rupee India, won Korea Selatan, peso Filipina, dolar Singapura, baht Thailand, dan dolar Taiwan cenderung menang melawan sang greenback (dolar AS).

Sementara di pasar surat berharga negara (SBN) pada perdagangan kemarin, secara mayoritas mengalami kenaikan harga dan penurunan imbal hasil (yield), menandakan bahwa investor ramai memburunya.

Hanya SBN tenor 30 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan naiknya yield.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN tenor 30 tahun naik 1 basis poin (bp) ke posisi 7,356% pada perdagangan hari ini.

Sementara untuk yield SBN berjatuh tempo 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) negara berbalik melandai 9,2 bp menjadi 7,454%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi US$ 4,99 miliar pada September 2022. Di luar proyeksi, impor anjlok pada September bahkan mencatatkan rekor terendahnya dalam empat bulan terakhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia September 2022 mencapai US$ 24,80 miliar. Nilai tersebut turun 11% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm), tetapi masih meningkat 20,28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Sedangkan impor pada September 2022 mencapai US$ 19,81 miliar, turun 10,58% (mtm) dan melonjak 22,01% (yoy).

Dengan demikian, neraca perdagangan pada September membukukan surplus sebesar US$ 4,99 miliar. Nilai tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pada Agustus sebesar US$ 5,71 miliar.

Surplus perdagangan tersebut sejalan dengan konsensus pasar. Polling CNBC Indonesia yang melibatkan 13 ekonom memperkirakan surplus pada Agustus hanya akan mencapai US$ 4,85 miliar.

Data BPS menunjukkan impor naik 20,28% (yoy) pada September. Kenaikan secara tahunan (yoy) tersebut adalah yang terendah sejak Februari 2021.

Nilai impor September juga jauh lebih kecil dibandingkan proyeksi polling CNBC Indonesia yang memperkirakan impor akan tumbuh 34,31%.

Impor, baik sektor migas ataupun non-migas, sama-sama anjlok di kisaran 11% dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan impor migas terutama terjadi pada hasil minyak. Impor komoditas tersebut turun 6,8% dari US$ 2,16 miliar pada Agustus menjadi US$ 2,01 miliar pada pada September 2022.

Dilihat dari golongan barangnya, penurunan impor terutama terjadi pada besi dan baja, bahan kimia organic, serta mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya.

Impor terbesar Indonesia pada September masih dipegang mesin/peralatan mekanis dan bagiannya. Impor kelompok barang tersebut mencapai US$ 2,78 miliar pada September, turun 6,67% (mtm).

Impor mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya anjlok 11,5% (mtm) pada September menjadi US$ 2,27 miliar. Impor Besi dan baja ambles 25,6% (mtm) pada September menjadi US$ 996,1 juta sementara impor bahan kimia organic terperosok 23,1% menjadi US$ 508,9 juta.

Semua golongan penggunaan barang juga mencatatkan penurunan impor pada Agustus. Impor barang modal menyusut 6,4% (mtm) menjadi US$ 3,32 miliar. Impor bahan baku/penolong anjlok 11,1% menjadi US$ 14,91 miliar sementara impor barang konsumsi ambles 14,13% menjadi US$ 1,59 miliar.

Impor bahan baku/penolong dan barang modal menjadi salah satu indikator bagi pertumbuhan ekonomi ke depan. Investasi biasanya akan mengikuti tren impor bahan baku/penolong dan barang modal dalam selisih tiga bulan.

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan impor konsumsi melandai karena konsumen masih menahan pembelian barang tahan lama (durable goods).

"Kalau saya melihat ini karena spending ke durable goodsnya masih lemah dan pengaruh juga dengan disrupsi rantai pasok global," kata Irman, kepada CNBC Indonesia.

Senin, 17 Oktober 2022

Equity World | Jangan Senang Dulu Harga Emas Naik, Masa Depannya Masih Suram

Equity World | Jangan Senang Dulu Harga Emas Naik, Masa Depannya Masih Suram

Equity World | Emas diproyeksi akan memasuki masa yang berat pekan ini setelah inflasi Amerika Serikat (AS) tidak melandai sesuai harapan pasar. Harga emas pada Senin pagi ini memang menanjak. Namun, kenaikannya tergolong tipis dan diperkirakan akan melandai ke depan.

Pada perdagangan Senin (17/10/2022) pukul 05:50 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.644,02 per troy ons. Harga emas menguat 0,14%.

Penguatan ini berbanding terbalik dengan dua hari perdagangan sebelumnya di mana emas secara keseluruhan ambles 1,8%. Pada perdagangan Jumat (14/10/2022), emas melandai 1,44% ke US$ 1.641,76 per troy ons. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 27 September.

Dalam sepekan, harga emas sudah ambles 1,4% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 1,8% sementara dalam setahun anjlok 6,8%.

Pelemahan emas (akhir pekan lalu) bergerak sesuai dengan historisnya," tutur analis OANDA Craig Erlam, seperti dikutip dari Reuters.

Seperti diketahui, inflasi AS mencapai ke 8,2% (year on year/yoy) pada September. Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy).

Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi (mtm) masih dua kali lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar yakni 0,2%.

Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Merujuk data Refinitiv, emas hampir selalu tumbang begitu data inflasi Amerika Serikat (AS) keluar. Inflasi AS yang melonjak sejak Maret tahun ini menjadi pertimbangan utama bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Inflasi AS melambung ke kisaran 8-9% (year on year/yoy) pada Maret-September, level tertingginya dalam 40 tahun terakhir.

Saat inflasi AS memanas, The Fed pun langsung mengetatkan kebijakan dengan menaikkan suku bunga acuan. Pengetatan kebijakan ini berdampak buruk ke emas dalam dua jalur, yakni penguatan dolar AS dan kenaikan yield surat utang pemerintah AS.

Penguatan dolar AS membuat harga emas semakin mahal sehingga emas menjadi tidak menarik. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga meningkatnya yield surat utang pemerintah AS membuat emas tidak menarik.

"Emas butuh pembalikan yang luar biasa dari yield dan dolar AS untuk menguat ke depan. Jika keduanya tidak terjadi, harga emas sulit pulih," tutur Ole Hansen dari Saxo Bank, dikutip dari Reuters.

Akhir pekan lalu, yield surat utang pemerintah AS terbang ke 4%, posisi tertingginya dalam 12 tahun lebih.
Sementara itu, indeks dolar AS sempat menguat pada penutupan perdagangan pekan lalu ke 113,31 tetapi sedikit melandai pada Senin pagi hari ini ke 113,13.

Jumat, 14 Oktober 2022

Equity World | Inflasi AS Masih Panas, Harga Emas Ikut Lemas

Equity World | Inflasi AS Masih Panas, Harga Emas Ikut Lemas

Equity World | Masih panasnya inflasi Amerika Serikat (AS) langsung berimbas ke harga emas. Pada perdagangan Jumat (14/10/2022) pukul 07:10 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.664,19 per troy ons. Harga emas melemah 0,1%.

Pelemahan emas memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak kemarin. Pada perdagangan kemarin, Kamis (13/10/2022), harga emas melemah 0,4% ke posisi US$ 1.665,79 per troy ons. Padahal, emas sempat menguat 0,43% pada perdagangan Rabu pekan ini.

Dalam sepekan, harga emas sudah ambles 1,8% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 1,9% sementara dalam setahun anjlok 7,3%.

David Meger, direktur perdagangan logam High Ridge Futures, menjelaskan emas melemah karena masih tingginya inflasi AS. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi AS mencapai ke 8,2% (year on year/yoy) pada September.

Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy). Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Inflasi yang masih tinggi menghapus harapan pelaku pasar jika bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan segera melonggarkan kebijakan. Dengan inflasi tinggi, The Fed bahkan diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan secara signifikan pada November dan Desember mendatang.

"Sebelumnya ada optimis menjelang pengumuman inflasi. Namun, apa yang terjadi di luar harapan. Ini jelas tidak baik bagi emas," tutur Meger, kepada Reuters.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed akan melambungkan dolar AS dan yield surat utang pemerintah AS. Dua faktor ini sama-sama berdampak negatif ke emas.
Penguatan dolar AS membuat emas semakin mahal sehingga tidak menarik. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield obligasi pemerintah AS membuat emas tidak menarik.

Indeks dolar menguat ke 112,55 pada pagi hari ini, dari posisi penutupan kemarin yang tercatat 112,36. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS nyaris menembus 4%, rekor tertingginya dalam 12 tahun.

Analis Kitco Metals Jim Wyckoff mengingatkan emas masih rawan pelemahan karena The Fed hampir pasti menaikkan suku bunga secara agresif pada 1-2 November mendatang.

"Data inflasi menegaskan jika The Fed memang benar mengenai keyakinan mereka jika inflasi masih belum terkendali," tutur Wyckoff, seperti dikutip dari Reuters.

Kamis, 13 Oktober 2022

Equity World | Harga Emas Menguat Tipis, Investor Menunggu Data Inflasi AS Nanti Malam

Equity World | Harga Emas Menguat Tipis, Investor Menunggu Data Inflasi AS Nanti Malam

Equity World | Harga emas menguat pada hari Kamis, melanjutkan kenaikan harga kemarin. Kenaikan harga emas didukung oleh penurunan dolar dan imbal hasil US Treasury setelah risalah dari pertemuan kebijakan terakhir Federal Reserve.

Kamis (13/10) pukul 6.56 WIB, harga emas spot naik tipis 0,09% ke US$ 1.674,72 per ons troi. Sedangkan harga emas kontrak Desember 2022 di Commodity Exchange menguat 0,21% ke US$ 1.681,10 per ons troi.

Para pejabat The Fed sepakat bahwa mereka perlu sikap kebijakan yang lebih ketat dan kemudian mempertahankannya untuk beberapa waktu. Langkah agresif ini untuk memenuhi tujuan bank sentral Amerika Serikat (AS) menurunkan inflasi. Hal ini tampak pada risalah rapat The Fed bulan September yang dirilis hari Rabu.

Meski demikian, beberapa peserta diskusi mengatakan penting untuk mengkalibrasi langkah pengetatan kebijakan lebih lanjut dengan tujuan mengurangi risiko dampak negatif yang signifikan terhadap prospek ekonomi.

"Pasar menangkap tanda-tanda dovish dan melihat kata kalibrasi, maka dolar AS turun dan emas melonjak," kata Tai Wong, pedagang senior di Heraeus Precious Metals di New York kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa risalah rapat masih dinilai hawkish.

Nilai tukar dolar AS melemah menyebabkan emas lebih murah bagi pembeli dalam mata uang lain. Sementara imbal hasil Treasury AS acuan tenor 10-tahun juga menurun. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Kini, investor menunggu data indeks harga konsumen AS yang akan dirilis pada hari Kamis nanti malam. Pasar meramalkan bahwa inflasi konsumen akan tetap tinggi untuk bulan September.

"Emas dan perak tampaknya akan diuntungkan dari perputaran dolar dan imbal hasil akhirnya, oleh karena itu fokus lanjutan pada inflasi dan data ekonomi sebagai tanda pelemahan untuk mendukung pergeseran sikap hawkish yang ditandai oleh Federal Reserve," ujar Ole Hansen, kepala strategi komoditas di bank Saxo dalam sebuah catatan.

Senin, 10 Oktober 2022

Equity World | Menerawang Harga Emas Minggu Ini, Naik atau Turun Lagi?

Equity World | Menerawang Harga Emas Minggu Ini, Naik atau Turun Lagi?

Equity World | Analis logam mulia telah memperingatkan investor selama beberapa minggu ini bahwa tren harga emas turun tajam sepanjang musim panas mendorong emas dan perak ke wilayah oversold.

Dikutip dari Kitco.com, Senin (10/10/2022), sentimen bearish di pasar berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun, dan kedua logam mulia itu siap untuk diperas.

Perkiraan tersebut terbukti benar, dengan perak melihat, pada puncaknya, kenaikan 12 persen minggu ini, karena harga didorong di atas USD 21 per ounce. Sementara itu, pasar emas mengalami reli 4 persen karena harga melaju di atas USD 1.730 per ounce.

Namun, menjelang akhir pekan, momentum mulai berkurang karena emas mengakhiri minggu menguji support di USD 1.700 per ounce dan perak mencoba bertahan di USD 20.

Sementara reli minggu lalu telah menjadi langkah yang disambut baik bagi sebagian orang, analis mencatat bahwa pasar masih kekurangan unsur penting: investor bullish.

Pada akhirnya, pasar emas dan perak tidak memiliki keyakinan bullish yang kuat untuk melihat reli berkelanjutan untuk saat ini. Banyak investor terus duduk di sela-sela karena Federal Reserve dan dolar AS mendominasi pasar keuangan.

Terlepas dari ancaman yang berkembang dari resesi global yang parah, Federal Reserve terus secara agresif menaikkan suku bunga, yang mendukung dolar AS pada level tertinggi dalam 20 tahun. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi mendekati level tertinggi 12 tahun. Ini bukan lingkungan yang positif untuk emas.

Hambatan untuk emas ini diperkirakan tidak akan mereda dalam waktu dekat. Bahkan beberapa kelas berat pasar mulai merangkul gagasan dolar AS yang kuat.

Ray Dalio menjadi berita utama minggu ini, mengumumkan di Twitter bahwa dia tidak lagi menganggap uang tunai adalah sampah, posisi yang telah dia pegang selama beberapa tahun.

"Fakta telah berubah dan saya berubah pikiran tentang uang tunai sebagai aset: Saya tidak lagi berpikir uang tunai adalah sampah," tulis Dalio. Hari berikutnya Dalio mengumumkan bahwa dia akan mengundurkan diri sebagai co-CIO Bridgewater

Bulan lalu, Dalio mengatakan bahwa dia mengharapkan Federal Reserve untuk mendorong suku bunga menjadi 4,5%, yang akan menyebabkan S&P 500 turun 20 persen lagi. Dalam lingkungan saat ini, dolar AS dipandang sebagai aset teraman saat ini.

Kenyataannya adalah emas terus menghadapi lingkungan yang sulit dan volatilitas yang kita lihat minggu ini dapat membuat banyak investor frustrasi; namun, satu pesan berulang yang terus kami dengar dari analis pasar adalah bahwa investor perlu melihat melewati volatilitas ini dan tetap memperhatikan gambaran yang lebih besar.

Federal Reserve mempertahankan tindakan kebijakan moneter agresifnya dalam ruang hampa. Mereka berfokus pada pasar tenaga kerja domestik dan mengabaikan dampak dolar AS terhadap ekonomi global.

Sementara ekonomi AS tetap relatif tangguh, pasar global berada pada titik puncaknya. Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa bahkan melangkah ke dalam perdebatan dan memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga bank sentral akan mendorong ekonomi global, terutama negara-negara berkembang, ke dalam resesi.

Dalam proyeksi ekonomi terbarunya, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonominya dengan melihat PDB global meningkat 2,5 persen tahun ini, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,6 persen. Pada saat yang sama, pertumbuhan global diperkirakan melambat menjadi 2,2 persen pada 2023.

Saran yang saya dengar dari analis pasar adalah bahwa meskipun pemerasan pendek ini gagal, harga saat ini masih mewakili nilai jangka panjang.


Jumat, 07 Oktober 2022

Equity World | Banyak Orang Butuh Kepastian, Harga Emas Jadi Naik

Equity World | Banyak Orang Butuh Kepastian, Harga Emas Jadi Naik

Equity World | Kekhawatiran mengenai ketidakpastian perekonomian global membantu pergerakan emas. Investor membutuhkan emas di tengah situasi kekacauan dunia akibat memanasnya politik akibat perang Rusia-Ukraina serta ancaman resesi.

"Permintaan akan aset aman seperti emas meningkat di tengah semakin banyaknya pelaku pasar yang memilih untuk menghindari risiko (risk aversion)," tutur analis emas Jim Wyckoff, seperti dikutip dari Kitco.

Pada perdagangan Jumat (7/10/2022) pukul 06: 30 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.711,63 per troy ons. Harga emas menguat tipis 0,05%.

Penguatan hari ini memutus tren negatif emas yang sudah berlangsung pada Rabu dan Kamis. Pada perdagangan Kamis kemarin (5/10/2022), emas ditutup melemah 0,3% di harga US$ 1.710,85 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas masih menguat 3,1% secara point to point sementara dalam sebulan, harganya naik 0,62%. Namun, emas sudah melorot 2,5% dalam setahun.

Sentimen risk aversion setidaknya membantu pergerakan emas di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Emas biasanya langsung ambruk begitu dolar AS menguat tetapi kali ini masih bisa bertahan.

Merujuk pada data Refinitiv, indeks dolar pada Jumat pagi pukul 06: 55 ada di posisi 112,28 atau tertinggi sejak 28 September.  

Namun, pergerakan emas tidak sekencang pada awal pekan. Masih terbatasnya penguatan emas disebabkan sebagian pelaku pasar yang memilih wait and see menjelang data tenaga kerja. AS akan mengumumkan angka pengangguran untuk September pada malam nanti.

"Pelaku pasar saat ini memilih wait and see sambal menunggu data tenaga kerja keluar. Data yang membaik akan menjadi kabar buruk bagi emas," tutur Carlo Alberto De Casa, analis dari Kinesis Money kepada Reuters.

De Casa menambahkan jika angka pengangguran berkurang maka bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tidak akan mengendurkan kebijakan moneternya.

Pasar berekspektasi akan ada tambahan pekerjaan sebanyak 250.000 pada September sementara angka pengangguran tetap di 3,7%.

Kamis, 06 Oktober 2022

Equity World | Bursa Asia Diperdagangkan Beragam Kamis (6/10) Pagi, Setelah Wall Street Tergelincir

Equity World | Wajah bursa saham Asia-Pasifik beragam pada hari Kamis (6/10), setelah reli dua hari Wall Street terhenti.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,25% dan Topix bertambah 0,32%. Kospi di Korea Selatan naik 0,55% dan Kosdaq 0,86% lebih tinggi.

Di Australia, S&P/ASX 200 turun 0,24%. Indeks MSCI Asia-Pasifik naik 0,15%. Pasar China Daratan ditutup untuk liburan minggu ini.

Asal tahu, bursa saham Amerika Serikat (AS) tergelincir semalam setelah kenaikan tajam pada dua sesi sebelumnya. Dow Jones Industrial Average turun 42,45 poin atau 0,14% menjadi 30.273,87 setelah jatuh hampir 430 poin pada hari sebelumnya.

Indeks S&P 500 turun 0,2% menjadi ditutup pada 3.783,28 dan Nasdaq Composite turun 0,25% menjadi 11.148,64.

"Optimisme yang mendukung pasar keuangan awal pekan ini surut karena data AS terus mengartikulasikan perlunya tindakan kebijakan bank sentral lebih lanjut," menurut catatan ANZ Research Kamis.

PMI non-manufaktur ISM pada September dan laporan penggajian pribadi oleh ADP keduanya mengalahkan perkiraan semalam. Investor akan menantikan laporan nonfarm payrolls Biro Statistik Tenaga Kerja pada akhir minggu.

Rabu, 05 Oktober 2022

Equity World | Emas Bersinar Lagi, Meroket 4% Dalam 2 Hari!

Equity World | Emas Bersinar Lagi, Meroket 4% Dalam 2 Hari!

Equity World | Harga emas melandai pada pagi hari ini setelah terbang dalam dua hari. Merujuk pada data Refinitiv, pada Rabu (5/10/2022) pukul 06: 42 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.723,98 per troy ons. Harga emas melandai 0,13%.

Meski demikian dalam dua hari terakhir logam mulia ini melesat sekitar 4% dalam dua hari perdagangan saja. Emas melambung 2,4% di awal pekan dan  dan melonjak 1,6% Selasa kemarin.

Melandainya harga emas hari ini disebabkan mulai bangkitnya yield surat utang pemerintah AS. Yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis ke 3,63%, lebih tinggi dibandingkan pada penutupan kemarin yang berada di 3,62%.

Pergerakan harga emas pada Oktober masih meyakinkan, kini berada di posisi terkuatnya dalam tiga pekan terakhir. Kinerja emas selama bulan ini juga mulai mengikis masa-masa kelam pada September di mana emas terpuruk 4,7%.

Bob Haberkorn, senior market strategist dari RJO Futures, menjelaskan melonjaknya harga emas dalam dua hari terakhir karena pasar mulai berekspektasi jika bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan mengendurkan kebijakan moneternya.

Ekspektasi semakin kuat setelah data tenaga kerja AS masih kurang meyakinkan.

Data Lowongan Kerja dan Survei Perputaran tenaga Kerja (JOLTS) yang diumumkan Biro Statistik AS Selasa malam (4/10/2022) menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS turun menjadi 10,1 juta pada Agustus. Posisi tersebut adalah yang terendah sejak Juni 2022. Data JOLTS juga lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang berada di angka 10,775 juta.

"Berita buruk adalah kabar baik bagi emas saat ini. Rally emas terbantu oleh data tenaga kerja yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi. Jika ekonomi memburuk, pelaku pasar melihat kebijakan agresif The Fed sudah sampai ke puncaknya," tutur Haberkorn, dikutip dari Reuters.

Namun, analis Saxo Bank Ole Hansen mengingatkan jika emas masih rawan pelemahan. Pasalnya, The Fed hingga kini belum berencana meredakan kebijakan moneter agresifnya.

"Emas belum sepenuhnya keluar dari tekanan. Namun, setidaknya kita melihat rebound yang sangat kuat karena terbantu oleh aksi short covering," tutur Hansen.

Selasa, 04 Oktober 2022

Equity World | Awal Kuartal IV-2022, Wall Street Dibuka Di Zona Hijau!

Equity World | Awal Kuartal IV-2022, Wall Street Dibuka Di Zona Hijau!

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak di zona hijau pada pembukaan perdagangan Senin (03/10/2022), di mana bursa saham AS berusaha pulih untuk mengawali perdagangan pertama di kuartal IV-2022.

Dow Jones menguat tajam 1,02% di pembukaan menjadi 29.018,08. Hal serupa terjadi pada indeks S&P 500 naik 0,84% ke 3.618,6 dan Nasdaq terapresiasi 0,48% ke 10.620,53.

"Ini cukup sederhana pada titik ini, imbal hasil yield obligasi tenor 10 tahun naik dan ekuitas kemungkinan akan tetap di bawah tekanan," tutur Analis Raymond James Travis McCourt dikutip CNBC International.

Bursa saham Wall Street berusaha keluar dari penurunannya selama September 2022, di mana indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami terkoreksi tajam secara bulanan terbesar sejak Maret 2020.

Pada perdagangan Jumat (30/9) pekan lalu, indeks Dow Jones juga ditutup di bawah level 29.000 untuk pertama kalinya sejak November 2020.

Di sepanjang September 2022, indeks Dow Jones melemah tajam 8,8%, sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq kehilangan masing-masing sebesar 9,3% dan 10,5%.

Secara kuartalan, indeks Dow Jones ambruk 6,6% dan mengalami penurunan selama tiga kuartal beruntun untuk pertama kalinya sejak kuartal III-2015. Senasib, indeks S&P 500 dan Nasdaq merosot masing-masing sebesar 5,28% dan 4,11% dan terkoreksi selama tiga kuartal beruntun pada tahun ini. Hal tersebut terjadi untuk pertama kalinya sejak 2009.

Analis Truist, Keith Lerner memprediksikan bahwa kinerja ekuitas masih akan terbebani oleh inflasi yang tetap tinggi dan komitmen bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menurunkan lonjakan harga.

Namun, dia juga menambahkan bahwa kondisi oversold juga membuat pasar rentan terhadap pemantulan tajam jangka pendek di tengah kabar baik.

"Menurut saya, kita bisa diatur untuk beberapa jenis penangguhan, tapi tren yang mendasari pada saat ini masih tren menurun dan berombak," tambahnya.

Hari ini, investor akan disuguhkan dengan rilis PMI Manufaktur.

Senin, 03 Oktober 2022

Equity World | Resesi Dunia di Depan Mata, Lebih Baik Nabung atau Investasi?

Equity World | Resesi Dunia di Depan Mata, Lebih Baik Nabung atau Investasi?

Equity World | Ekonomi global diwarnai risiko resesi yang diperkirakan bakal melanda dunia pada 2023. Resesi ini dipicu pengetatan moneter oleh banyak bank sentral, juga imbas perang Ukraina-Rusia, hingga kebijakan zero-Covid di China.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga sudah mengungkapkan resesi ini dipicu inflasi yang tinggi akibat melesatnya harga pangan dan energi di sejumlah negara, khususnya Eropa dan AS. Kondisi tersebut memicu bank sentral di negara maju menaikkan suku bunga dan mengetatkan likuiditas. Dampaknya akan dirasakan pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk negara-negara berkembang.

Lantas, instrumen investasi apa yang harus dipilih di tengah situasi ekonomi global yang penuh tekanan?

Perencanaan Keuangan Advisor Alliance Group (AAG) Indonesia Dandy mengatakan kemungkinan resesi dalam waktu dekat bisa mempengaruhi market. Menurut dia, lebih baik jangan terlalu rakus mengambil keputusan, termasuk memilih instrumen investasi. Dia juga menyebut uang tunai bisa menjadi pilihan, karena tidak akan terlalu terpengaruh saat resesi.

"Karena cash sudah pasti uang nggak akan kemana mana dan bisa disiapkan saat resesi benar terjadi," kata Dandy mengutip CNN Indonesia.

Sedangkan untuk investasi obligasi bisa mengambil kupon tetap (seri FR-Fixed Rate), sehingga investasi tetap terjaga meski ada risiko resesi. Sementara untuk investasi saham harus memilih emiten yang tahan terhadap pelemahan ekonomi, seperti yang berada di jajaran LQ45.

"Emiten yang lebih tahan dampak resesi itu yang punya fundamental kuat, seperti di LQ45, misalnya," kata Dandy.

Dandy juga merekomendasikan investasi emas, karena dikenal sebagai aset safe haven. Umumnya saat ekonomi terpuruk harga emas malah cenderung naik seperti yang terjadi saat krisis pandemi Covid-19.

Sementara itu, perencana keuangan OneShildt Consulting Imelda Tarigan berpendapat reksadana juga masih bisa direkomendasikan sebagai instrumen investasi di tengah ancaman resesi. Dia merekomendasikan reksadana yang mendukung perputaran ekonomi domestik seperti reksadana pendapatan tetap.

"Less volatile, returnnya masih lebih tinggi dari inflasi, prospek setelah dua tahun lagi masih positif," katanya.