Selasa, 28 April 2026

Equityworld Futures | Kilau Harga Emas Dunia Meredup

Equityworld Futures | Kilau Harga Emas Dunia Meredup

Equityworld Futures | Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Investor berhati-hati menyusul kemunduran diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dan menjelang keputusan penting suku bunga Federal Reserve akhir pekan ini.

Equityworld Futures | Kabar Buruk: Harga Emas Ambruk, Dunia Cemas Tunggu Aba-Aba dari AS

Mengutip Investing.com, Selasa, 28 April 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini, turun 0,6 persen menjadi USD4.681,39 per ons. Sementara harga emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, turun satu persen menjadi USD4.694,61 per ons.

Pasar menanti keputusan terakhir Powell di The Fed
 
Sebagian besar fokus minggu ini tertuju pada keputusan suku bunga terbaru The Fed pada Rabu mendatang setelah pertemuan selama dua hari. Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah , yang berarti investor akan memperhatikan dengan seksama bagaimana The Fed melihat prospek ekonomi berkembang setelah guncangan energi yang dipicu oleh perang Iran.
 
Pertemuan pekan ini juga diperkirakan akan menjadi yang terakhir di bawah kepemimpinan Ketua Fed Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada 15 Mei. Kevin Warsh, calon pilihan Trump untuk menggantikan Powell, bersaksi di hadapan Kongres pekan lalu bahwa ia tidak membuat komitmen untuk memangkas suku bunga.
 
Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga rendah.
 
Analis Deutsche Bank yang dipimpin oleh Matthew Luzzetti menyampaikan, dengan kebijakan yang berada pada posisi yang tepat untuk mengatasi risiko terhadap prospek, The Fed siap untuk memperpanjang jeda kebijakan pada pertemuan FOMC April.
 
"Skenario dasar kami adalah mereka akan menunggu hingga pertemuan Juni untuk perubahan yang berarti pada panduan kebijakan, tetapi risikonya adalah komunikasi cenderung lebih agresif," jelas dia.

Iran ajukan proposal perdamaian baru
 
Rencana untuk melanjutkan pembicaraan antara AS dan Iran gagal pada akhir pekan setelah para pejabat Iran meninggalkan Pakistan, sementara Washington membatalkan rencana untuk mengirim delegasi ke Islamabad.
 
Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran dapat menghubunginya jika ingin berbicara, dan menegaskan kembali pendiriannya bahwa Iran tidak mungkin memiliki senjata nuklir. Membatasi ambisi nuklir Iran telah disebut sebagai motivasi utama serangan gabungan AS-Israel.
 
Namun, para pedagang mengabaikan kemunduran dalam pembicaraan akhir pekan tersebut, setelah laporan media menyebutkan bahwa Iran telah menawarkan proposal baru kepada AS di mana mereka menawarkan untuk menghentikan penutupan efektif Selat Hormuz yang penting tanpa membahas ambisi nuklirnya.
 
Dengan latar belakang ini, investor beralih ke dolar AS sebagai aset yang relatif aman, terutama pada Maret, sehingga mengurangi daya tarik emas berdenominasi dolar bagi pembeli luar negeri. 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Senin, 27 April 2026

Equityworld Futures | Kebuntuan AS-Iran Picu Lonjakan Harga, Minyak WTI dan Brent Menggila

Equityworld Futures | Kebuntuan AS-Iran Picu Lonjakan Harga, Minyak WTI dan Brent Menggila

Equityworld Futures | Harga minyak naik pada perdagangan awal pekan ini. Senin (27/4/2026) pukul 10.45 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 95,25 per barel atau naik 8,96% dalam seminggu dan 65,88% secara tahun berjalan (ytd).

Equityworld Futures | Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini saat Geopolitik Global Masih Membayangi

Ada pun minyak Brent berada di level US$ 106,46 per barel atau melonjak 11,48% sepekan terakhir dan 74,93% ytd.

Kondisi ini memperpanjang kenaikan dari minggu lalu karena Selat Hormuz tetap tertutup di tengah perundingan perdamaian AS-Iran yang terhenti. 

Mengutip Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan perjalanan delegasi AS ke Pakistan pada akhir pekan lalu, sementara Iran mengatakan tidak akan bernegosiasi selama mereka masih diancam.

Gencatan senjata telah digaungkan sejak awal April, tetapi blokade Selat Hormuz oleh AS dan Iran telah memutus transit harian melalui jalur penting tersebut. 

Baca Juga: Indeks Dolar Melonjak Pasca Negosiasi Lanjutan AS dan Iran Gagal

Hal itu mengancam pasokan minyak mentah, bahan bakar, gas alam dan pupuk, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang inflasi.

"Selat Hormuz masih terkepung, dan lalu lintas terhenti," kata Mona Yacoubian, Direktur Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional seperti dilansir Bloomberg.

"Sepertinya kedua belah pihak tidak ingin kembali ke konflik terbuka. Kita berada di masa transisi ini, di mana semuanya buntu."

Badan Energi Internasional mengatakan konflik AS-Iran menyebabkan kerugian dan guncangan pasokan terbesar sepanjang sejarah. "Konsolidasi di atas US$ 100 per barel adalah area yang dituju," kata Robert Yawger, direktur futures energi Mizuho Securities.

Perang Iran kini telah memasuki minggu kesembilan, memicu apa yang digambarkan IEA sebagai guncangan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi dan membebani prospek pertumbuhan global. 

Blokade angkatan laut AS yang sedang berlangsung terus membatasi ekspor minyak mentah Iran dan menjadi penghalang utama bagi kemajuan diplomatik apa pun.  

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Jumat, 24 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Kata Morgan Stanley Bakal Begini

Equityworld Futures | Harga Emas Kata Morgan Stanley Bakal Begini

Equityworld Futures | Analis di bank ternama asal Amerika Serikat, Morgan Stanley memangkas perkiraan harga emas hampir 10% seiring pergeseran signifikan dalam lanskap makroekonomi.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Merosot Akibat Tekanan Inflasi dan Konflik Global

Dikutip dari Mining.com, Jumat (24/4/2026) tim analis komoditas Morgan Stanley memproyeksi harga emas akan mencapai US$ 5.200 per troy ons pada paruh kedua 2026. 

Angka tersebut merupakan penurunan hingga sebesar US$ 500 dari proyeksi harga emas sebelumnya di level US$ 5.700 per troy ons.

Revisi ini menyusul aksi jual emas selama enam minggu yang menyebabkan harga emas anjlok hampir seperempat dari rekor tertingginya, dan mencatat kinerja bulanan terburuk sejak tahun 2008.

Meskipun harga emas sudah berada di titik stabil dalam beberapa sesi terakhir, analis Morgan Stanley menilai pelemahan baru-baru ini telah mengubah nada pasar, karena bukan lagi hanya kejadian acak, tetapi lebih merupakan pergeseran fundamental.

Menurut analisis Morgan Stanley, koreksi harga emas berasal dari sentimen gabungan tentang guncangan pasokan dan kenaikan suku bunga riil akibat penundaan pemotongan suku bunga Federal Reserve.

Hal ini, menurut bank tersebut, mengubah lanskap makro dan membuat investor emas mempertimbangkan kembali posisi mereka.

Ke depan, Morgan Stanley memperkirakan emas akan lebih berperan sebagai barometer makroekonomi daripada hanya sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian,

"Prospeknya akan lebih didorong oleh data dan kurang didorong oleh sentimen," kata bank tersebut.

Pada akhir Januari 2026, harga emas sempat melonjak ke level tertinggi sepanjang masa hampir US$ 5.600 per troy ons. Harga emas kemudian anjlok lebih dari 10% dalam satu sesi di tengah penurunan tajam.

Logam mulia kemudian melanjutkan penguatan di masa awal pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran, tetapi juga turun tajam karena tekanan inflasi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Kamis, 23 April 2026

Equityworld Futures | Rupiah Melemah ke Rp17.295 Per Dolar AS Akibat Lonjakan Harga Minyak

Equityworld Futures | Rupiah Melemah ke Rp17.295 Per Dolar AS Akibat Lonjakan Harga Minyak

Equityworld Futures | Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,7 persen ke level Rp17.295 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026) akibat tekanan faktor domestik dan penguatan indeks dolar AS ke posisi 98,68. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan mata uang Garuda ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang mencapai US$102,9 per barel.

Equityworld Futures | Harga Emas Antam Sore Ini Stagnan: Peluang atau Risiko Investor?

Kenaikan harga minyak dunia sebesar 0,97 persen tersebut didorong oleh ketidakpastian konflik bersenjata yang belum mereda. Kondisi ini menyebabkan mayoritas mata uang di pasar Asia mengalami pelemahan serentak, dengan pengecualian pada dolar Hong Kong yang tercatat mampu bergerak defensif.

Data menunjukkan sepanjang April 2026, rupiah telah mengalami depresiasi sebesar 1,73 persen dan menempati posisi mata uang terlemah di kawasan regional. Padahal, sebagian besar mata uang negara tetangga mulai menunjukkan tren penguatan kembali atau rebound di tengah fluktuasi pasar global.

Lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel melampaui asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel. Situasi ini diperkirakan bakal menambah beban subsidi dan kompensasi energi antara Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun untuk setiap kenaikan US$1 pada harga minyak mentah.

Lembaga pemeringkat S\&P Global Ratings menilai ketahanan fiskal Indonesia menjadi yang paling rentan jika eskalasi perang terus berlanjut. Sementara itu, Moody's dan Fitch Ratings turut menyoroti ketidakpastian kebijakan serta lemahnya konsistensi bauran kebijakan ekonomi yang berdampak pada kredibilitas pasar domestik.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan penjelasan mengenai tantangan ekonomi global saat ini dalam paparan setelah Rapat Dewan Gubernur kemarin. Menurutnya, tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi dan membatasi opsi kebijakan moneter.

"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).

Pihak otoritas moneter kini semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dilakukan di tengah kondisi kurs spot sejumlah bank swasta nasional yang sudah menyentuh angka Rp17.400 hingga Rp17.580 per dolar AS.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami