Selasa, 19 Mei 2026

Equityworld Futures | Pelemahan Dollar AS Katrol Harga Emas Dunia

Equityworld Futures | Pelemahan Dollar AS Katrol Harga Emas Dunia

Equityworld Futures | Nilai komoditas emas dunia mengalami penguatan tipis pada akhir sesi perdagangan Senin (18/5/2026) waktu setempat akibat didorong oleh penurunan indeks mata uang dollar Amerika Serikat. Dilansir dari Money, pertumbuhan harga logam mulia ini berjalan terbatas karena terhambat oleh naiknya harga minyak serta peningkatan imbal hasil obligasi.

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat Terbatas di Tengah Perang Iran dan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Data dari pasar spot menunjukkan nilai emas naik sebesar 0,2 persen ke angka 4.548,14 dollar AS per ons, setelah sempat merosot ke titik terendah sejak akhir Maret lalu. Di sisi lain, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Juni justru menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,1 persen menuju level 4.558 dollar AS per ons.

Penyusutan indeks dollar Amerika Serikat sebesar 0,3 persen membuat instrumen ini menjadi lebih terjangkau bagi para investor yang bertransaksi dengan mata uang lainnya. Perubahan nilai tukar ini secara otomatis ikut mendongkrak minat beli pasar terhadap logam mulia tersebut.

"Indeks dollar AS turun ke level terendah pada sesi perdagangan kemarin, dan itu menjadi faktor positif bagi pasar emas," ujar analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Meskipun demikian, ada potensi bahwa tren penguatan instrumen safe haven ini akan mengalami hambatan dalam periode jangka pendek. Wyckoff memproyeksikan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi dapat memicu adanya tekanan penurunan lebih lanjut terhadap pergerakan harga.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah secara global dipicu oleh kecemasan pasar terhadap tingkat inflasi menyusul pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mendongkrak harga energi. Situasi ini memperkuat estimasi bahwa bank sentral dunia akan mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025.

Suku bunga serta imbal hasil obligasi yang merangkak naik biasanya memberikan sentimen negatif bagi emas karena komoditas ini tidak menyediakan imbalan periodik. Pada saat yang sama, harga minyak dunia meroket sekitar 2 persen ke level tertinggi dua pekan karena potensi disrupsi pasokan energi global.

Semenjak pertempuran antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, akumulasi kenaikan harga minyak Brent sudah menyentuh 55 persen, sedangkan emas spot justru terkoreksi 13,8 persen. Penurunan permintaan dari para pelaku pasar juga membuat lembaga keuangan seperti J.P. Morgan merevisi turun proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 dari 5.708 dollar AS menjadi 5.243 dollar AS per ons.

Sementara itu, harga logam mulia alternatif mencatatkan pergerakan yang variatif pada penutupan perdagangan. Perak spot melonjak 1,4 persen ke posisi 77,04 dollar AS per ons, platinum terkoreksi 0,1 persen menjadi 1.972,10 dollar AS per ons, dan palladium menyusut 0,2 persen ke level 1.409,75 dollar AS per ons.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Rabu, 13 Mei 2026

Equityworld Futures | Pasokan Terganggu, Harga Minyak Tembus US$107

Equityworld Futures | Pasokan Terganggu, Harga Minyak Tembus US$107

Equityworld Futures | Harga minyak dunia masih bertahan di zona panas. Perdagangan Rabu pagi (13/5/2026) memang bergerak sedikit melemah, tetapi posisi harga tetap berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah pasar terus dihantui ketidakpastian perang Iran dan ancaman gangguan pasokan global.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun di Bawah US$ 4.700 Akibat Kenaikan Inflasi AS

Menurut Refinitiv pada Rabu (13/5/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent berada di US$107,08 per barel. Posisi ini turun tipis 0,64% dibanding penutupan sebelumnya di US$107,77 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$101,56 per barel, melemah 0,61% dari posisi Selasa di US$102,18 per barel.

Meski terkoreksi pagi ini, reli minyak masih sangat terasa. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir saja, Brent sudah melesat hampir 6%, dari US$101,29 per barel pada 8 Mei menjadi di atas US$107 per barel. WTI bahkan melonjak lebih dari US$6 dalam periode yang sama.

Pasar kini semakin pesimistis terhadap peluang damai di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi "life support". Pernyataan itu keluar setelah negosiasi kembali mentok akibat tuntutan Iran yang meminta penghentian perang di seluruh front konflik, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, hingga kompensasi kerusakan perang.

Situasi makin rumit karena Iran mempertegas kontrol atas Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Reuters melaporkan Teheran mulai memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut, termasuk membuka kesepakatan pengiriman energi dengan Pakistan dan Irak. Sejumlah negara lain disebut mulai menjajaki pola serupa.

Kondisi itu membuat pelaku pasar khawatir gangguan pasokan akan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal. Badan Informasi Energi AS (EIA) kini memperkirakan Selat Hormuz efektif tertutup hingga akhir Mei. Sebelumnya, asumsi penutupan hanya sampai April.

Revisi EIA cukup agresif. Lembaga itu memperkirakan kehilangan pasokan minyak Timur Tengah mencapai 10,8 juta barel per hari pada Mei. Angka tersebut naik dari proyeksi sebelumnya 9,1 juta barel per hari. Secara global, stok minyak dunia diperkirakan menyusut 2,6 juta barel per hari sepanjang tahun ini. Sebulan lalu, estimasinya hanya sekitar 300 ribu barel per hari.

pasar sedang menghadapi tekanan pasokan dalam skala besar. Bahkan Houlihan Lokey memperkirakan kekurangan suplai global bisa mencapai 14 juta barel per hari. Saudi Aramco juga memperingatkan stabilitas pasar minyak kemungkinan baru pulih penuh pada 2027 apabila gangguan ekspor melalui Hormuz terus berlanjut.

Di sisi lain, stok minyak AS ikut menipis. Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika turun sekitar 2,1 juta barel pekan lalu. Persediaan bahan bakar juga diperkirakan ikut menyusut. Kondisi ini mempertebal sentimen bullish di pasar energi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Selasa, 12 Mei 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Berbalik Naik, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Equityworld Futures | Harga Emas Berbalik Naik, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Equityworld Futures
| Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah sempat tertekan di awal sesi. Pelaku pasar menimbang perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sambil menanti rilis data inflasi AS yang krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Kemunduran Hubungan AS-Iran

Harga emas spot naik 0,1% menjadi US$ 4.717,38 per ons, setelah sebelumnya sempat merosot lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS relatif stagnan di level US$ 4.727,80 per ons. Pergerakan yang cenderung fluktuatif menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global.

Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan penguatan tipis emas dipicu aksi beli setelah koreksi tajam sebelumnya. Terdapat aksi berburu harga murah serta penyesuaian posisi investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pekan ini.

Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis Selasa (12/5/2026), disusul Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Rabu (13/5/2026).

Dua data tersebut menjadi perhatian utama karena dapat memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi di ekonomi terbesar dunia itu. Jika inflasi masih tinggi, peluang pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan semakin kecil. 

Tekanan geopolitik juga tetap menjadi faktor utama yang menopang harga emas. Penolakan cepat Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian Washington memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu berpotensi berlarut-larut.

Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi vital dunia, yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Trump kemudian menyebut kondisi gencatan senjata antara kedua negara berada dalam situasi “kritis”, mempertegas ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

Ahli strategi pasar senior di RJO Futures Daniel Pavilonis mengatakan perhatian pasar sebagian besar terpusat pada prospek Selat Hormuz. Menurut dia, investor sedang mencerna skenario yang lebih luas, terutama kemungkinan harga energi yang bertahan tinggi apabila akses pelayaran di jalur tersebut terganggu.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan pialang global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Jika sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga, kini proyeksi mulai terbelah antara skenario pelonggaran terbatas dan tidak ada pemangkasan sama sekali hingga 2026. Perubahan ekspektasi tersebut terjadi di tengah risiko inflasi yang masih tinggi serta sikap hati-hati para pembuat kebijakan moneter.

Bagi pasar emas, prospek suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat karena investor dapat memperoleh return lebih besar dari instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Senin, 11 Mei 2026

Equityworld Futures | Bursa Asia ‘Mixed’, Kospi Cetak Rekor Baru di Tengah Gejolak Harga Minyak

Equityworld Futures | Bursa Asia ‘Mixed’, Kospi Cetak Rekor Baru di Tengah Gejolak Harga Minyak

Equityworld Futures | Pasar saham Asia-Pasifik bergerak beragam pada perdagangan Senin (11/5/2026), di tengah lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Equityworld Futures | Harga Emas Terpuruk Pagi Ini, Siapkah Hadapi Level Kritis?

Dikutip dari CNBC, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 4,70% dan mencetak rekor tertinggi baru pada awal perdagangan. Namun indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru turun 0,30%.

Penguatan Kospi ditopang reli saham teknologi, terutama SK Hynix yang melesat 10,74%, mengikuti kenaikan saham-saham semikonduktor di Wall Street pada akhir pekan lalu.

Sentimen pasar kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Iran sebelumnya mengajukan proposal baru kepada negosiator AS yang berfokus pada penghentian perang di seluruh front dan pencabutan sanksi terhadap Teheran. Kantor berita semi-resmi Tasnim menyebut proposal tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui proses negosiasi.

Namun Trump menolak proposal itu dan menyebut respons Iran “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!” melalui unggahan di Truth Social.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang dengan Iran “belum berakhir”, karena AS dan Israel masih ingin membatasi ambisi nuklir Teheran.

Komentar Netanyahu muncul menjelang kunjungan Trump ke China pekan ini untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan biaya energi global dan kenaikan tajam harga bahan bakar di AS.

Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Juni melonjak 3,94% menjadi US$99,18 per barel, sedangkan Brent naik 3,49% menjadi US$104,83 per barel.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 bergerak fluktuatif dan ditutup sedikit melemah, sementara Topix naik 0,19%. Saham Nintendo anjlok 5,54% setelah investor mencermati rencana kenaikan harga konsol Switch 2 di tengah proyeksi penurunan penjualan perangkat.

Australia juga tertekan, dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,83%.

Di China, indeks CSI 300 naik 0,58%, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 0,48%. Investor turut mencermati data inflasi China yang menunjukkan kenaikan harga konsumen dan produsen lebih tinggi dari perkiraan pada April, dipicu lonjakan harga komoditas akibat konflik Timur Tengah.

Sementara itu, futures Wall Street bergerak melemah. Futures Dow Jones turun 143 poin atau 0,3%, sedangkan futures S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing terkoreksi 0,3%.

Meski demikian, pasar saham AS sebelumnya mencatat reli kuat pekan lalu. S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing melonjak lebih dari 2% dan 4%, sekaligus membukukan enam pekan penguatan beruntun untuk pertama kalinya sejak 2024. Dow Jones juga naik 0,2% dalam sepekan dan mencatat lima pekan penguatan dalam enam pekan terakhir.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami