Selasa, 07 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Masuk Fase Tekanan, Masih Bisa Menguat Lagi?

Equityworld Futures | Harga Emas Masuk Fase Tekanan, Masih Bisa Menguat Lagi?

Equityworld Futures | Pergerakan harga emas dunia diperkirakan masih berada dalam tekanan, seiring kombinasi sentimen teknikal dan fundamental yang cenderung negatif. XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bearish yang cukup kuat, setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di area resistance penting.

Equityworld Futures | Harga Emas Stabil, Tenggat Waktu Trump untuk Iran Membuat Pasar Waspada

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal, pergerakan emas memperlihatkan sinyal pelemahan yang semakin jelas. Harga tidak mampu menembus area resistance sebelumnya dan justru membentuk pola candlestick bearish yang dominan.

"Pola ini mengindikasikan tekanan jual masih menguasai pasar. Selain itu, posisi harga yang telah menembus ke bawah indikator Moving Average 21 dan 34 semakin memperkuat konfirmasi tren penurunan dalam jangka menengah," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 7 April 2026.

Geraldo menjelaskan, struktur bearish yang terbentuk saat ini membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan penurunan menuju area support terdekat. Dalam proyeksinya, apabila tekanan jual terus berlanjut, maka XAU/USD berpotensi turun ke level support pertama di kisaran 4.581.

"Bahkan, jika tekanan semakin kuat, harga dapat melanjutkan pelemahan hingga menyentuh support berikutnya di level 4.492," ujar dia. 

Skenario alternatif perlu diperhatikan pelaku pasar
Jika harga emas gagal melanjutkan penurunan dan justru mendapatkan dorongan beli, maka terdapat peluang rebound menuju area resistance di kisaran 4.708 hingga 4.786. Meski begitu, selama harga masih berada di bawah area resistance kunci, bias pergerakan cenderung tetap bearish.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas saat ini turut dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dalam kondisi pasar yang penuh risiko, investor seringkali beralih ke dolar AS karena dianggap lebih likuid dan aman dalam jangka pendek.

"Hal ini menyebabkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai menjadi relatif berkurang," ungkap dia.
Konflik geopolitik global menambah tekanan terhadap pasar
Lonjakan harga minyak meningkatkan risiko inflasi, yang pada akhirnya mendorong ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas.

Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil, seperti obligasi, menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan yield. Akibatnya, aliran dana cenderung beralih ke aset-aset berbunga, sehingga menekan harga emas lebih lanjut. Kombinasi antara penguatan dolar, kebijakan moneter yang ketat, serta tekanan inflasi ini memperkuat prospek pelemahan XAU/USD dalam jangka pendek.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan arah baru bagi pergerakan harga emas. Setiap rilis data yang berkaitan dengan inflasi maupun kebijakan moneter berpotensi memicu volatilitas yang cukup tinggi di pasar logam mulia.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures melalui analis Geraldo menilai bahwa tren bearish pada emas masih cukup dominan untuk saat ini. Selama tidak ada perubahan signifikan baik dari sisi teknikal maupun fundamental, peluang penurunan harga masih terbuka lebar.

"Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi lanjutan pelemahan, sembari memperhatikan level-level kunci yang dapat menjadi penentu arah pergerakan harga emas berikutnya," kata dia.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Senin, 06 April 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Diproyeksi Volatil Sepekan, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Diproyeksi Volatil Sepekan, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS

Equityworld Futures | Harga emas dunia menutup pekan lalu dengan kenaikan sekitar 4,07 persen dan bertahan di atas level USD4.676,08 per troy ons, mencerminkan kuatnya permintaan aset safe haven di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Tertekan Usai Ancaman Trump ke Iran Menguat

Meski demikian, pergerakan emas diperkirakan masih volatil karena pasar berupaya mencari keseimbangan baru di tengah tarik-menarik sentimen global.

Analis Kitco menilai emas sempat tertekan pada Rabu dan Kamis pekan lalu setelah gagal menembus resistance USD4.800 per troy ons, seiring masih sensitif terhadap perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Survei mingguan Kitco menunjukkan pelaku pasar global mulai lebih berhati-hati.

Senior Market Analyst Barchart.com Darin Newsom menilai harga emas berpotensi bergerak sideways dalam rentang lebar di tengah ketidakpastian arah pasar.

Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley melihat peluang emas menguat seiring meningkatnya risiko di pasar keuangan, terutama jika saham global kembali melemah.

Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski menilai prospek emas masih netral dalam jangka pendek, namun volatilitas tinggi kemungkinan tetap terjadi sepanjang pekan.

Dalam Kitco News Gold Survey, sebanyak 15 analis Wall Street berpartisipasi, dengan 27 persen memprediksi harga emas naik, 20 persen memperkirakan turun, dan mayoritas 53 persen memilih bersikap netral.

Di sisi lain, investor ritel cenderung lebih optimistis, dengan 59 persen memperkirakan harga emas menguat, 21 persen memprediksi turun, dan 20 persen melihat pergerakan konsolidasi.

Fokus pasar pekan ini akan tertuju pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS), dimulai dari laporan ketenagakerjaan yang menjadi acuan awal arah kebijakan moneter.

Setelah itu, pelaku pasar akan mencermati data inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga risalah rapat Federal Reserve (The Fed) untuk mencari sinyal arah suku bunga.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Rabu, 01 April 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Brent Melonjak 63% di Maret 2026, Terbesar Sejak 1988

Equityworld Futures | Harga Minyak Brent Melonjak 63% di Maret 2026, Terbesar Sejak 1988

Equityworld Futures | Harga minyak Brent melonjak 63% pada bulan Maret dan mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1988 karena perang Iran telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. 

Equityworld Futures | Prakiraan Harga Emas: Pembeli XAU/USD tetap dibatasi di bawah $4.600

Dikutip dari CNBC, Rabu (1/4/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan global untuk pengiriman Mei naik sekitar 5% pada hari Selasa dan ditutup pada harga USD 118,35 per barel. Namun, harga minyak untuk kontrak Juni turun 3,2%.

 Sedangkan harga minyak mentah AS turun 1,46% menjadi USD 101,38 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 51% sepanjang Maret, menjadi bulan terbaiknya sejak Mei 2020.

Harga minyak mentah AS dan harga Brent Juni turun menyusul laporan bahwa Presiden Donald Trump dan Iran terbuka untuk mengakhiri perang.

“Ini adalah mimpi buruk,” kata Presiden Rapidan Energy Bob McNally.

“Pasar energi telah mengalami mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan ingin percaya bahwa mimpi buruk itu telah berakhir," lanjut dia.

Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa ia bersedia mengakhiri operasi AS terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz tetap tertutup, demikian kata para pejabat pemerintahan kepada The Wall Street Journal. 

Laporan yang belum dikonfirmasi juga mengindikasikan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian terbuka untuk mengakhiri perang.

Sementara itu, Iran menyerang kapal tanker minyak Kuwait yang berlabuh di luar Dubai. Tidak ada laporan korban luka dan tidak terjadi tumpahan minyak, menurut pernyataan dari Kuwait Petroleum Corporation .

CIO di FedWatch Advisors Ben Emons menyatakan, serangan tersebut mengindikasikan semakin ketatnya cengkeraman Republik Islam di Selat Hormuz, dengan menargetkan kapal tanker tepat di luar jalur air tersebut. Dia menyoroti risiko baru akan gangguan lebih lanjut terhadap aliran energi.

“Hasilnya adalah permainan yang lebih asimetris, dengan AS cenderung untuk menarik diri dan Iran masih termotivasi untuk memberikan kerugian,” kata Emons.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Selasa, 31 Maret 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Cetak Lonjakan Bulanan Terbesar sepanjang Sejarah

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik Tajam, Brent Cetak Lonjakan Bulanan Terbesar sepanjang Sejarah

Equityworld Futures | Harga minyak dunia terus menguat dan mencatat lonjakan signifikan sepanjang Maret 2026, dipicu konflik yang kian memanas antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Naik Dua Hari Beruntun, Tapi Cetak Penurunan Bulanan

Mengutip CNBC, Selasa (31/3/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan global naik 0,19% atau 21 sen menjadi USD 112,78 per barel.

Secara bulanan, Brent melonjak sekitar 55%—menjadi kenaikan terbesar sejak kontrak ini pertama kali diperdagangkan pada 1988. Rekor sebelumnya terjadi pada September 1990 saat Perang Teluk, dengan kenaikan 46%.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 3,25% atau USD 3,24 ke level USD 102,88 per barel. Kenaikan ini juga menandai pertama kalinya WTI ditutup di atas USD 100 sejak Juli 2022.

Lonjakan harga terjadi di tengah eskalasi konflik yang telah memasuki pekan kelima. Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan Iran bahwa negaranya akan menghancurkan sumur minyak, pembangkit listrik, dan Pulau Kharg jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.

Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump bahkan menyebut opsi yang diinginkannya adalah “mengambil minyak,” mengacu pada langkah AS di Venezuela yang berhasil menguasai sektor minyak negara tersebut setelah penangkapan pemimpinnya, Nicolás Maduro.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami