Jumat, 22 Mei 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Gak ke Mana-Mana, Bandar Bosan dengan Janji-Janji Trump

Equityworld Futures | Harga Emas Gak ke Mana-Mana, Bandar Bosan dengan Janji-Janji Trump

Equityworld Futures | Harga emas nyaris tidak akan bergerak di tengah pelemahan harga minyak akibat ketidakpastian penyelesaian perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran. Pelemahan dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi turut menopang harga emas.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Stabil, Pasar Cermati Ketidakpastian Akhir Perang Timur Tengah

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (21/5/2026) ditutup di posisi US$4544 per troy ons atau menguat tipis 0,01%. Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya setelah harganya juga naik 1,4% pada Rabu.

Harga emas melemah tipis pada hari ini. Pada Jumat (22/5/2026) pukul 06.45 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4532,89 per troy ons atau melemah 0,24%.

Harga minyak bergerak volatil dan cenderung turun karena prospek penyelesaian konflik dengan Iran masih belum jelas. Presiden AS Donald Trump mengatakan awal pekan ini bahwa ia membatalkan serangan udara yang sebelumnya sudah direncanakan terhadap Iran demi memberi lebih banyak waktu bagi diplomasi, atas permintaan sekutu Arab Teluk AS. Namun, Iran dan AS disebut hanya membuat sedikit kemajuan menuju kesepakatan sejak keduanya menyetujui gencatan senjata rapuh bulan lalu

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun hampir 2% dan ditutup di US$96,35 per barel. Harga minyak Brent juga melemah lebih dari 2% ke US$102,58 per barel.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan obligasi 30 tahun juga akhirnya kembali turun, masing-masing melemah kurang dari 1 basis poin ke 4,564% dan turun lebih dari 2 basis poin ke 5,09%.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan turunnya harga minyak dan melemahnya dolar dari level tertinggi enam minggu seharusnya mendukung emas dalam jangka pendek. Namun, pasar masih berhati-hati karena kesepakatan sebelumnya kerap gagal tercapai.

"Turunnya harga minyak dan pelemahan dolar AS dari level tertinggi enam minggu seharusnya menjadi sentimen positif bagi emas dalam jangka pendek, dan harga emas pun mulai menguat. Namun, saya memperkirakan perdagangan masih akan cenderung berhati-hati pada awalnya. Kita sudah beberapa kali melihat kesepakatan gagal tercapai," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Logam mulia tersebut telah turun lebih dari 14% sejak perang dimulai pada akhir Februari. Konflik itu mengganggu lalu lintas maritim di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi.

"Kenaikan harga minyak yang mendorong inflasi lebih tinggi membuat bank sentral berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Karena itu, kondisi tersebut masih menjadi sentimen negatif bagi emas dalam jangka pendek," tutur analis UBS, Giovanni Staunovo.

Meski dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya tertekan saat suku bunga tinggi.

Pelaku pasar kini melihat peluang 58% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin tahun ini, naik dari 48% sehari sebelumnya menurut CME FedWatch Tool.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Rabu, 20 Mei 2026

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Turun Tipis

Equityworld Futures | Harga minyak sedikit turun pada perdagangan awal Asia pada Rabu, 20 Mei 2026, karena pasar menunggu petunjuk lebih lanjut tentang pembicaraan AS-Iran setelah Washington mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi yang sedang berlangsung.

Equityworld Futures | Harga Emas Naik Lagi, Optimisme Deal AS-Iran Redam Kekhawatiran Suku Bunga Tinggi

Dikutip dari Investing.com, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate untuk Juli turun 0,3 persen menjadi USD98,88 per barel. Harga tersebut telah turun sekitar satu persen pada hari Selasa, 19 Mei 2026.

Harga minyak turun pada hari Selasa setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia telah menunda serangan terhadap Iran, dan bahwa negosiasi dengan Teheran berjalan dengan baik.

Trump kemudian mengatakan bahwa perang di Iran akan berakhir "dengan sangat cepat."

Wakil Presiden JD Vance menggemakan komentar Trump, menyatakan bahwa ia percaya Iran ingin membuat kesepakatan.

Lalu lintas di Selat Hormuz masih terganggu
Namun demikian, kerugian minyak mentah dibatasi oleh tanda-tanda gangguan pasokan yang berkelanjutan di Selat Hormuz. Lalu lintas melalui jalur air tersebut tetap berada pada sebagian kecil dari tingkat sebelum perang, yang memengaruhi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Pada hari Senin, AS memperpanjang pengecualian sanksi terhadap minyak Rusia yang diangkut melalui laut, memungkinkan negara-negara yang rentan terhadap gangguan impor minyak untuk mengamankan pasokan.

Iran, dalam proposal perdamaian terbarunya, menyerukan pengakhiran permusuhan di semua lini, penarikan pasukan AS dari kawasan tersebut, dan ganti rugi atas kerusakan akibat perang, demikian dilaporkan media pemerintah pada hari Selasa.

AS sebagian besar menolak proposal Iran sebelumnya, dengan alasan bahwa mengakhiri ambisi nuklir negara itu tetap menjadi tuntutan utama dalam negosiasi apa pun.

Fokus sekarang adalah pada data persediaan AS yang akan datang untuk petunjuk lebih lanjut tentang stok minyak dalam menghadapi gangguan pasokan yang berkelanjutan akibat perang Iran. Data dari American Petroleum Institute menunjukkan penurunan 9,1 juta barel (mb) minggu lalu, jauh lebih besar dari perkiraan penurunan 3,4 mb. 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Selasa, 19 Mei 2026

Equityworld Futures | Pelemahan Dollar AS Katrol Harga Emas Dunia

Equityworld Futures | Pelemahan Dollar AS Katrol Harga Emas Dunia

Equityworld Futures | Nilai komoditas emas dunia mengalami penguatan tipis pada akhir sesi perdagangan Senin (18/5/2026) waktu setempat akibat didorong oleh penurunan indeks mata uang dollar Amerika Serikat. Dilansir dari Money, pertumbuhan harga logam mulia ini berjalan terbatas karena terhambat oleh naiknya harga minyak serta peningkatan imbal hasil obligasi.

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat Terbatas di Tengah Perang Iran dan Lonjakan Imbal Hasil Obligasi

Data dari pasar spot menunjukkan nilai emas naik sebesar 0,2 persen ke angka 4.548,14 dollar AS per ons, setelah sempat merosot ke titik terendah sejak akhir Maret lalu. Di sisi lain, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman Juni justru menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,1 persen menuju level 4.558 dollar AS per ons.

Penyusutan indeks dollar Amerika Serikat sebesar 0,3 persen membuat instrumen ini menjadi lebih terjangkau bagi para investor yang bertransaksi dengan mata uang lainnya. Perubahan nilai tukar ini secara otomatis ikut mendongkrak minat beli pasar terhadap logam mulia tersebut.

"Indeks dollar AS turun ke level terendah pada sesi perdagangan kemarin, dan itu menjadi faktor positif bagi pasar emas," ujar analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Meskipun demikian, ada potensi bahwa tren penguatan instrumen safe haven ini akan mengalami hambatan dalam periode jangka pendek. Wyckoff memproyeksikan bahwa lonjakan imbal hasil obligasi dapat memicu adanya tekanan penurunan lebih lanjut terhadap pergerakan harga.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah secara global dipicu oleh kecemasan pasar terhadap tingkat inflasi menyusul pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang mendongkrak harga energi. Situasi ini memperkuat estimasi bahwa bank sentral dunia akan mempertahankan rezim suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025.

Suku bunga serta imbal hasil obligasi yang merangkak naik biasanya memberikan sentimen negatif bagi emas karena komoditas ini tidak menyediakan imbalan periodik. Pada saat yang sama, harga minyak dunia meroket sekitar 2 persen ke level tertinggi dua pekan karena potensi disrupsi pasokan energi global.

Semenjak pertempuran antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, akumulasi kenaikan harga minyak Brent sudah menyentuh 55 persen, sedangkan emas spot justru terkoreksi 13,8 persen. Penurunan permintaan dari para pelaku pasar juga membuat lembaga keuangan seperti J.P. Morgan merevisi turun proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 dari 5.708 dollar AS menjadi 5.243 dollar AS per ons.

Sementara itu, harga logam mulia alternatif mencatatkan pergerakan yang variatif pada penutupan perdagangan. Perak spot melonjak 1,4 persen ke posisi 77,04 dollar AS per ons, platinum terkoreksi 0,1 persen menjadi 1.972,10 dollar AS per ons, dan palladium menyusut 0,2 persen ke level 1.409,75 dollar AS per ons.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Rabu, 13 Mei 2026

Equityworld Futures | Pasokan Terganggu, Harga Minyak Tembus US$107

Equityworld Futures | Pasokan Terganggu, Harga Minyak Tembus US$107

Equityworld Futures | Harga minyak dunia masih bertahan di zona panas. Perdagangan Rabu pagi (13/5/2026) memang bergerak sedikit melemah, tetapi posisi harga tetap berada di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah pasar terus dihantui ketidakpastian perang Iran dan ancaman gangguan pasokan global.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun di Bawah US$ 4.700 Akibat Kenaikan Inflasi AS

Menurut Refinitiv pada Rabu (13/5/2026) pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent berada di US$107,08 per barel. Posisi ini turun tipis 0,64% dibanding penutupan sebelumnya di US$107,77 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$101,56 per barel, melemah 0,61% dari posisi Selasa di US$102,18 per barel.

Meski terkoreksi pagi ini, reli minyak masih sangat terasa. Dalam tiga sesi perdagangan terakhir saja, Brent sudah melesat hampir 6%, dari US$101,29 per barel pada 8 Mei menjadi di atas US$107 per barel. WTI bahkan melonjak lebih dari US$6 dalam periode yang sama.

Pasar kini semakin pesimistis terhadap peluang damai di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi "life support". Pernyataan itu keluar setelah negosiasi kembali mentok akibat tuntutan Iran yang meminta penghentian perang di seluruh front konflik, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, hingga kompensasi kerusakan perang.

Situasi makin rumit karena Iran mempertegas kontrol atas Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia. Reuters melaporkan Teheran mulai memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut, termasuk membuka kesepakatan pengiriman energi dengan Pakistan dan Irak. Sejumlah negara lain disebut mulai menjajaki pola serupa.

Kondisi itu membuat pelaku pasar khawatir gangguan pasokan akan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan awal. Badan Informasi Energi AS (EIA) kini memperkirakan Selat Hormuz efektif tertutup hingga akhir Mei. Sebelumnya, asumsi penutupan hanya sampai April.

Revisi EIA cukup agresif. Lembaga itu memperkirakan kehilangan pasokan minyak Timur Tengah mencapai 10,8 juta barel per hari pada Mei. Angka tersebut naik dari proyeksi sebelumnya 9,1 juta barel per hari. Secara global, stok minyak dunia diperkirakan menyusut 2,6 juta barel per hari sepanjang tahun ini. Sebulan lalu, estimasinya hanya sekitar 300 ribu barel per hari.

pasar sedang menghadapi tekanan pasokan dalam skala besar. Bahkan Houlihan Lokey memperkirakan kekurangan suplai global bisa mencapai 14 juta barel per hari. Saudi Aramco juga memperingatkan stabilitas pasar minyak kemungkinan baru pulih penuh pada 2027 apabila gangguan ekspor melalui Hormuz terus berlanjut.

Di sisi lain, stok minyak AS ikut menipis. Survei Reuters memperkirakan persediaan minyak mentah Amerika turun sekitar 2,1 juta barel pekan lalu. Persediaan bahan bakar juga diperkirakan ikut menyusut. Kondisi ini mempertebal sentimen bullish di pasar energi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami