Kamis, 12 Februari 2026

Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini

Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini

Equityworld Futures | Berdasarkan kajian teknikal yang disampaikan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, struktur pergerakan harga emas saat ini masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi

Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan indikator Moving Average, mengindikasikan bahwa tren bullish pada XAU/USD justru tetap terjaga dan cenderung menguat.

Hal ini mencerminkan bahwa minat beli investor terhadap emas masih cukup solid, terutama setelah terjadinya koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Andy menilai bahwa tekanan turun yang muncul lebih bersifat sebagai fase konsolidasi atau koreksi teknikal dalam tren naik jangka menengah hingga panjang, bukan sebagai sinyal perubahan arah tren secara menyeluruh.

Lebih lanjut, Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga emas mampu bertahan di atas area support penting, peluang terjadinya penguatan lanjutan masih sangat terbuka.

“Jika dorongan bullish kembali mendominasi pasar dan didukung oleh sentimen global yang kondusif, maka XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance berikutnya di sekitar level 5.232,” kata Andy dalam laporannya, Rabu (11/2/2026).

Apabila harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali berada di bawah tekanan jual, maka penurunan berpotensi mengarah ke area support terdekat di kisaran 4.841, yang menjadi batas penting untuk menjaga kesinambungan tren naik.

Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas saat ini masih dipengaruhi oleh stabilnya nilai tukar dolar AS serta meningkatnya selera risiko di pasar keuangan global. Pada sesi awal perdagangan Asia hari Rabu, harga emas tercatat melemah mendekati level US$ 5.045, seiring pelaku pasar mencoba mengevaluasi apakah harga telah membentuk titik terendah setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sebelumnya.

Indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak relatif datar di area 96,78 turut menjadi faktor yang menahan laju penguatan emas dalam jangka pendek, mengingat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga logam mulia.

Meski demikian, faktor geopolitik masih memberikan dukungan signifikan terhadap harga emas. Ketegangan yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor cenderung tetap mempertahankan eksposur terhadap aset lindung nilai seperti emas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran, serta dinamika diplomatik di kawasan Timur Tengah, menambah ketidakpastian global yang berpotensi membatasi ruang penurunan harga emas lebih dalam.

Selain faktor geopolitik, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati menjelang publikasi laporan ketenagakerjaan dan inflasi. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda diperkirakan menunjukkan penambahan tenaga kerja sekitar 70.000 pada Januari, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di level 4,4 persen. Di sisi lain, data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada akhir pekan ini juga akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan harga emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bullish. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter tetap mendukung, harga emas berpeluang kembali melanjutkan tren penguatan. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar, sehingga investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi dan sentimen global secara cermat.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

 Hubungi Kami

Rabu, 11 Februari 2026

Equityworld Futures | Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons

Equityworld Futures | Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons

Equityworld Futures | Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Fokus pasar tertuju pada serangkaian rilis data.

Equityworld Futures | Harga Emas Loyo Lagi, Gagal Memanfaatkan Kelemahan “Musuh Abadi”
 
Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 11 Februari 2026, harga emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, turun 0,5 persen menjadi USD5.053,80 per troy ons.
 
Sementara harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini tetap stabil di level USD5.040,04. Adapun rekor tertinggi harga emas mencapai USD5.594,82 yang terjadi pada perdagangan 29 Januari 2026.
 
Fokus pasar saat ini tertuju pada serangkaian rilis data, termasuk penjualan ritel Desember, angka indeks harga konsumen Januari, dan laporan penggajian non-pertanian Januari. Data ini diharapkan memberikan sinyal lebih lanjut tentang arah suku bunga Federal Reserve AS.

Pasar pelototi data ekonomi makro AS

 
Anil Deshpande, analis komoditas yang berbasis di Mumbai mengatakan pasar sedang dalam mode menunggu. Serta mengamati menjelang data makro utama Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis akhir pekan ini.
 
"Kejutan apa pun dalam data pekerjaan atau inflasi dapat dengan cepat mengubah ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dan menggerakkan harga logam mulia secara tajam ke salah satu arah," tutur dia.
 
Logam mulia terus mengalami penurunan dari rekor tertingginya yang dicapai pada akhir Januari, setelah reli yang menurut banyak pedagang telah berlangsung terlalu jauh dan terlalu cepat. Reli tersebut memicu aksi ambil untung di seluruh pasar logam mulia.
 
Saat ini, investor memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, dengan penurunan pertama berpotensi terjadi pada Juni. Emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, biasanya diuntungkan dari lingkungan suku bunga yang lebih rendah. 

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Selasa, 10 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS

Equityworld Futures | Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS

Equityworld Futures | Harga emas dan perak melemah pada Selasa (10/2/2026) setelah mencatat penguatan selama dua sesi berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-tiba Naik 2%, Ternyata Gara-gara Dolar

Koreksi terjadi seiring penguatan tipis dolar Amerika Serikat (AS) dari level terendah lebih dari sepekan, sementara pelaku pasar menanti data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan dirilis pekan ini untuk mengukur arah suku bunga. 

Melansir Reuters, harga emas spot turun 1% ke level US$5.016,56 per ons troi pada pukul 00.55 GMT. Sehari sebelumnya, logam mulia ini menguat sekitar 2% setelah dolar AS melemah ke posisi terendah lebih dari sepekan. 

Emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ons pada 29 Januari lalu.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 0,8% ke US$5.041,60 per ons troi.

Harga perak spot turun lebih dalam, yakni 2,5% ke US$81,31 per ons troi, setelah melonjak hampir 7% pada sesi sebelumnya.

Perak juga sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di US$121,64 per ons troi pada 29 Januari.

Penguatan dolar tercermin dari indeks dolar AS yang naik 0,2% dari level terendah lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya.

Dolar yang lebih kuat membuat harga logam mulia berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan.

Di pasar global, indeks saham menguat pada Senin, dengan saham teknologi AS memimpin kenaikan Wall Street, seiring investor memburu saham-saham murah setelah tekanan pasar pekan lalu.

Di Asia, yen Jepang menguat menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilihan umum.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan akibat perlambatan pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas.

Pandangan ini turut mempengaruhi perdebatan kebijakan yang tengah berlangsung di Federal Reserve.

Saat ini, investor memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada 2026, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni.

Lingkungan suku bunga rendah umumnya menguntungkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil.

Pelaku pasar kini menanti laporan nonfarm payrolls AS untuk Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta data inflasi pada Jumat, sebagai petunjuk lanjutan arah kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, harga platinum spot turun 1,6% ke US$2.088,71 per ons troi, sedangkan palladium melemah 1,7% ke US$1.710,68 per ons troi. 

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

 Hubungi Kami

Senin, 09 Februari 2026

Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Berguncang Keras, Pakar Nilai Tren Naik Belum Berakhir

Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Berguncang Keras, Pakar Nilai Tren Naik Belum Berakhir

Equityworld Futures | Pergerakan harga emas dan perak kembali diguncang volatilitas ekstrem setelah aksi jual tajam pada pekan lalu. Meski harga masih berfluktuasi dan berada di bawah level resistensi krusial, para analis menilai fondasi fundamental yang menopang tren jangka panjang logam mulia tetap solid.

Equityworld Futures | Bikin Deg-Degan, Ini Ramalan Terbaru Harga Emas Usai Drama Menegangkan

Dikutip dari Kitco, optimisme tersebut muncul di tengah kondisi pasar yang masih jauh dari stabil. Di tengah gejolak tersebut, emas gagal mempertahankan penguatan di atas US$ 5.000 per ons troi. Harga emas ditutup melesat 3,99% di level US$ 4.961,15 per ons troi pada Jumat (6/2/2026).

Sementara itu, pergerakan perak bahkan lebih liar. Harga perak spot juga belum mampu bertahan di atas US$90 per ons. Meski sempat tertekan oleh aksi jual, Jumat, harga perak ditutup melesat 9,43% di level US$ 78,01 per ons.

Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht menilai, pelaku pasar logam mulia masih mencari arah yang jelas di tengah ketidakpastian global. “Fluktuasi harga kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Namun, untuk jangka menengah, kami menilai harga logam mulia masih memiliki penopang yang kuat,” ujarnya.

Senior Market Analyst Pepperstone Michael Brown mencatat, volatilitas tersirat perak untuk tenor satu bulan kini bahkan melampaui volatilitas Bitcoin. Meski demikian, ia menilai fase konsolidasi dalam rentang lebar justru membuka peluang akumulasi.

“Yang penting, harga spot masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari. Ini menunjukkan momentum masih sedikit berpihak pada kubu bullish,” kata Brown seraya menambahkan, pasar membutuhkan periode pergerakan mendatar untuk memastikan euforia spekulatif yang sebelumnya melanda pasar logam mulia benar-benar mereda.

Hal senada diungkapkan Senior Market Analyst XS.com Rania Gule. Ia menilai volatilitas emas dan perak mencerminkan ketidakpastian mendalam di kalangan investor, yang dipicu kekhawatiran inflasi dan resesi, perubahan ekspektasi kebijakan moneter, serta meningkatnya risiko geopolitik.

Menurut Gule, meski harga emas berpotensi bertahan di bawah US$ 5.000 per ons troi dalam waktu dekat, peluang menuju US$ 6.000 per ons troi hingga akhir tahun masih terbuka.

“Pendorong bullish belum sepenuhnya habis. Namun, investor kini lebih selektif dan berhati-hati. Kenaikan harga ke depan kemungkinan tidak lagi impulsif, melainkan disertai koreksi dan lebih didorong faktor fundamental dibandingkan spekulasi semata,” jelasnya, seraya menegaskan pasar logam mulia saat ini berada dalam fase reposisi, bukan pembalikan tren.

Pandangan optimistis juga datang dari Market Analyst Solomon Global Nick Cawley yang menilai volatilitas saat ini hanya bersifat jangka pendek.

“Saya memperkirakan level US$ 5.000 per ons troi akan kembali ditembus dalam beberapa pekan ke depan, dengan potensi uji ulang area US$ 5.600 per ons troi pada kuartal II. Koreksi pasar setelah reli kuat adalah hal yang sehat, dan secara teknikal prospeknya masih positif,” ujarnya.

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami