Equityworld Futures | Harga Emas Berbalik Naik, Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Equityworld Futures | Harga emas berbalik menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026) setelah sempat tertekan di awal sesi. Pelaku pasar menimbang perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sambil menanti rilis data inflasi AS yang krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Kemunduran Hubungan AS-Iran
Harga emas spot naik 0,1% menjadi US$ 4.717,38 per ons, setelah sebelumnya sempat merosot lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS relatif stagnan di level US$ 4.727,80 per ons. Pergerakan yang cenderung fluktuatif menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global.
Analis pasar di American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan penguatan tipis emas dipicu aksi beli setelah koreksi tajam sebelumnya. Terdapat aksi berburu harga murah serta penyesuaian posisi investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat pekan ini.
Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis Selasa (12/5/2026), disusul Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Rabu (13/5/2026).
Dua data tersebut menjadi perhatian utama karena dapat memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi di ekonomi terbesar dunia itu. Jika inflasi masih tinggi, peluang pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan semakin kecil.
Tekanan geopolitik juga tetap menjadi faktor utama yang menopang harga emas. Penolakan cepat Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian Washington memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu berpotensi berlarut-larut.
Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi vital dunia, yang berpotensi mendorong harga minyak lebih tinggi. Trump kemudian menyebut kondisi gencatan senjata antara kedua negara berada dalam situasi “kritis”, mempertegas ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Ahli strategi pasar senior di RJO Futures Daniel Pavilonis mengatakan perhatian pasar sebagian besar terpusat pada prospek Selat Hormuz. Menurut dia, investor sedang mencerna skenario yang lebih luas, terutama kemungkinan harga energi yang bertahan tinggi apabila akses pelayaran di jalur tersebut terganggu.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan pialang global mulai memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Jika sebelumnya pasar memperkirakan dua kali pemotongan suku bunga, kini proyeksi mulai terbelah antara skenario pelonggaran terbatas dan tidak ada pemangkasan sama sekali hingga 2026. Perubahan ekspektasi tersebut terjadi di tengah risiko inflasi yang masih tinggi serta sikap hati-hati para pembuat kebijakan moneter.
Bagi pasar emas, prospek suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga meningkat karena investor dapat memperoleh return lebih besar dari instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah.