Equityworld Futures | Laju Wall Street Terhenti, Saham Teknologi Tekan Indeks Setelah Reli Beberapa Hari
Equityworld Futures | Laju kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS) terhenti pada perdagnagna Kamis (19/2/2026), setelah tiga hari berturut-turut Indeks S&P 500 mencatat kenaikan.
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak Dua Hari Beruntun, Tembus US$4.997/Troy Ons di Tengah Tensi Geopolitik
Pelemahan terjadi akibat turunnya saham teknologi besar, sementara beberapa saham lain justru menguat mengikuti laporan kuartalan yang positif.
Pada pukul 09:43 waktu New York, Dow Jones Industrial Average turun 223,51 poin atau 0,45% ke 49.431,52, S&P 500 melemah 25,10 poin atau 0,36% menjadi 6.856,21, dan Nasdaq Composite kehilangan 131,75 poin atau 0,58% ke 22.621,89.
Saham teknologi kelas berat seperti Apple, Nvidia, dan Meta Platforms kembali melemah setelah sesi sebelumnya mencatat kenaikan. Indeks Semikonduktor Philadelphia turun 1,6%, sedangkan indeks teknologi S&P 500 yang lebih luas turun 0,9%.
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi di sektor teknologi, termasuk perusahaan yang terlibat dalam kecerdasan buatan (AI), meski investasi besar dalam AI sejauh ini belum terbukti secara signifikan mendorong pertumbuhan pendapatan dan laba.
"Bias berubah sangat cepat, dan ini menunjukkan kegelisahan investor secara keseluruhan," kata Kim Forrest, pendiri dan kepala investasi di Bokeh Capital.
Sementara itu, sektor ritel menunjukkan kinerja positif. Saham Walmart naik 2,4% setelah CEO baru John Furner memperkenalkan perkiraan fiskal konservatif untuk 2027 serta rencana pembelian kembali saham senilai US$30 miliar.
DoorDash menguat hampir 2% menyusul prospek nilai pesanan bruto kuartal pertama yang lebih tinggi dari perkiraan Wall Street. EBay naik 3,3% setelah mengumumkan perkiraan pendapatan kuartal pertama yang positif dan rencana akuisisi pasar mode Depop dari Etsy.
Di sisi lain, beberapa perusahaan mengalami tekanan. Carvana turun 4,3% karena gagal memenuhi ekspektasi laba kuartal keempat akibat meningkatnya biaya, sedangkan EPAM Systems merosot 19% karena prospek kuartal pertama yang hati-hati mengecewakan investor.
Sektor energi justru mencatat kenaikan signifikan, dengan indeks energi S&P 500 naik 1,7% didorong naiknya harga minyak mentah di tengah kekhawatiran atas potensi konflik militer antara AS dan Iran. Saham Occidental Petroleum melesat 9,2% setelah melampaui ekspektasi laba kuartal keempat.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah pertemuan Federal Reserve terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan mayoritas sepakat mempertahankan suku bunga tetap.
Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai arah kebijakan akhir tahun ini, dengan beberapa pejabat mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain mendukung penurunan lebih lanjut jika inflasi menurun.
Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee dan Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman dijadwalkan berbicara sepanjang hari.
Data klaim pengangguran mingguan menunjukkan pasar tenaga kerja stabil, dengan jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran turun lebih dari perkiraan.
Investor kini menantikan laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi, indikator inflasi utama Fed, yang akan dirilis Jumat ini sebagai acuan prospek suku bunga.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang turun masih melebihi yang naik, dengan rasio 2 banding 1 di NYSE dan 2,66 banding 1 di Nasdaq. Indeks S&P 500 mencatat 16 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan lima rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 20 rekor tertinggi baru dan 62 rekor terendah baru.
Jumat, 20 Februari 2026
Equityworld Futures | Laju Wall Street Terhenti, Saham Teknologi Tekan Indeks Setelah Reli Beberapa Hari
Kamis, 19 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Mengamuk Lagi: Terbang 2%, Dekati US$ 5000
Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Mengamuk Lagi: Terbang 2%, Dekati US$ 5000
Equityworld Futures | Harga emas dan perak mengganas lagi usai terpuruk dalam dua hari beruntun. Harga emas melonjak lebih dari 2% karena kekhawatiran geopolitik meskipun The Federal Reserve (The Fed) terpecah pendapat mengenai jalur suku bunga.
Equityworld Futures | Harga Emas Diramal Bakal Menguat, Balik Lagi ke Level USD5.000
Pada perdagangan Rabu (18/2/2026), harga emas dunia melonjak 2,09% di US$4.979,07 per troy ons. Penguatan ini mematahkan pelemahan harga emas selama dua hari beruntun.
Pada perdagangan hari ini Kamis (19/2/2026) hingga pukul 06.19 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,06% di posisi US$4.976,2 per troy ons.
Harga emas naik lebih dari 2% pada perdagangan Rabu, karena investor menilai risiko geopolitik yang memanas, bahkan ketika risalah dari pertemuan The Federal Reserve AS bulan Januari menunjukkan para pejabat terpecah pendapat mengenai apakah suku bunga perlu dinaikkan lagi atau harus tetap dipertahankan.
"Ada beberapa kekhawatiran tentang ketegangan geopolitik yang ada baik dengan Iran maupun AS," ujar analis Marex, Edward Meir.
"Kita telah berada dalam kisaran perdagangan yang sangat ketat selama sebagian besar bulan Februari. Anda tidak dapat benar-benar mengatakan ada arah yang jelas pada saat ini." imbuhnya.
Di bidang geopolitik, pembicaraan perdamaian selama dua hari di Jenewa antara Ukraina dan Rusia berakhir pada hari Rabu tanpa terobosan. Gedung Putih juga mengatakan diskusi dengan Iran di Jenewa hanya menghasilkan kemajuan terbatas, dengan kesenjangan yang masih ada dan Teheran diperkirakan akan kembali dengan lebih banyak detail dalam beberapa minggu mendatang.
Risalah dari pertemuan The Fed Januari menunjukkan para pejabat hampir semua sepakat untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan lalu, tetapi tetap terpecah pendapat mengenai prospek, dengan beberapa memperingatkan bahwa suku bunga dapat naik lagi jika inflasi tetap tinggi, sementara yang lain memperdebatkan apakah dan kapan pemotongan lebih lanjut mungkin diperlukan.
"Emas kemungkinan akan kembali ke US$5.000 per troy ons meskipun risalah Fed sedikit hawkish; sebagian besar pasar tidak melihat pergerakan suku bunga hingga Juni," kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen.
Sementara itu, inflasi harga konsumen untuk Januari lebih lemah dari yang diperkirakan, namun pertumbuhan lapangan kerja untuk bulan tersebut melampaui ekspektasi dan tingkat pengangguran turun.
Investor juga akan memperhatikan laporan pengeluaran konsumsi pribadi AS pada hari Jumat, indikator inflasi pilihan The Fed, untuk mendapatkan petunjuk tentang inflasi dan potensi dampaknya terhadap biaya pinjaman.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil, aset safe-haven tradisional, cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Rabu, 18 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Bakal Dapat Momentum dari Sentimen Ini
Equityworld Futures | Harga Emas Bakal Dapat Momentum dari Sentimen Ini
Equityworld Futures | Analis mengaku tetap optimis bahwa harga emas dunia akan kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang, didukung oleh pembelian bank-bank sentral global, meningkatnya sentimen terkait ketidakpastian geopolitik, serta aliran investor ke dalam dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Equityworld Futures | Harga Emas Mengenaskan: Jatuh ke Level US$ 4.800, Terendah 2 Minggu
“Meskipun terjadi volatilitas baru-baru ini, kami tidak berpikir siklus kenaikan ini telah berakhir,” ungkap analis pertambangan di Scotiabank yang dipimpin oleh Tanya Jakusconek, dikutip dari Kitco News, Rabu (18/2/2026).
“Menurut pendapat kami, pendorong historis tetap ada, termasuk ketidakpastian perdagangan yang tinggi, ketegangan geopolitik yang meningkat, yang tampaknya tidak akan berkurang dalam jangka pendek," katanya.
Harga emas spot melemah sekitar 2,7% ke kisaran US$ 4.855,92 per ons pada Selasa sore (17/2), menurut data Trading Economics. Penurunan tersebut memangkas kenaikan year-to-date harga emas menjadi sekitar 13%, setelah lonjakan lebih dari 60% 2025 lalu.
Sejak Jumat (13/2), harga emas dunia telah melemah sekitar 3,5%.
Meski mengalami koreksi, analis mengungkapkan, harga emas masih berpeluang mendapat momentum dari sentimen tentang meningkatnya utang pemerintah federal AS yang memicu kekhawatiran terhadap posisi dolar AS di kalangan investor institusional global dan bank sentral.
"Hal ini, pada gilirannya, memicu de-dolarisasi, atau setidaknya pergeseran preferensi cadangan global," ungkap analis di Jefferies.
Jakusconek juga menilai, dengan sejumlah negara yang terus mengalami defisit anggaran selama lima tahun tanpa adanya pembatasan fiskal yang terlihat, tren kenaikan utang pemerintah di seluruh dunia tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Hal ini yang menjadi pendukung bagi emas untuk melanjutkan reli.
Penyitaan aset Rusia setelah konflik di Ukraina pada tahun 2022, nasionalisme sumber daya yang meluas, dan kebijakan perdagangan yang semakin agresif oleh Presiden AS Donald Trump mendorong investor mencari keamanan dalam aset aman seperti emas, tambah Jakusconek.
Bank sentral, terutama di negara-negara pasar berkembang melihat emas sebagai diversifikasi aset utama dan telah menjadi pembeli bersih yang kuat, secara kolektif memiliki kurang dari 30% logam fisik tersebut, menurut data Scotiabank. Bank-bank tersebut membeli 328 ton emas pada Desember 2025 melalui Dana Moneter Internasional dan sumber data publik lainnya, dibandingkan dengan 345 ton setahun sebelumnya, menurut data World Gold Council.
Jumat, 13 Februari 2026
Equityworld Futures | Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 3% dalam 24 Jam, Balik ke US$4.900
Equityworld Futures | Breaking! Harga Emas Ambruk: Jatuh 3% dalam 24 Jam, Balik ke US$4.900
Equityworld Futures | Harga emas dan perak terjun bebas hingga jatuh ke level terendah dalam satu minggu. Penurunan tajam disebabkan data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat dan tekanan jual emas semakin meningkat.
Equityworld Futures | Harga Emas Berjangka Turun 0,1% Jadi USD5.092
Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), harga emas dunia anjlok 3,13% di level US$4.919,69 per troy ons. Penurunan tersebut membawa emas ke harga terendah seminggu dan mendorong emas menjauh dari level psikologis US$5.000 per troy ons.
Pada perdagangan hari ini Jumat (13/2/2026) hingga pukul 06.45 WIB, harga emas dunia di pasar spot melemah 0,20% di posisi US$4.909,99 per troy ons.
Harga emas jatuh ke level terendah hampir satu minggu pada hari Kamis karena data ketenagakerjaan AS yang kuat meredam harapan penurunan suku bunga The Federal Reserve dalam waktu dekat, dengan penurunan di bawah US$5.000 per troy ons memperdalam kerugian karena tekanan jual meningkat.
"Karena volatilitas yang tinggi sebelumnya, banyak orang akan menempatkan stop loss mereka di bawah US$5.000 per troy ons atau di atas level US$5.100 per troy ons hanya untuk mempertahankan posisi stop loss mereka," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
"Karena pergerakan ke bawah, stop loss tersebut telah terpicu di bawah level US$5.000 per troy ons, dan itu menyebabkan efek berantai, menyebabkan harga anjlok dalam waktu singkat." imbuhnya.
Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan pasar kerja AS memulai tahun 2026 dengan pijakan yang lebih kuat dari yang diperkirakan, memperkuat pandangan bahwa para pembuat kebijakan mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian meningkat sebesar 130.000 pada bulan Januari, setelah revisi penurunan sebesar 48.000 pada bulan Desember, sementara tingkat pengangguran sedikit turun menjadi 4,3%.
Klaim pengangguran awal turun menjadi 227.000 pada minggu yang berakhir pada 7 Februari, data menunjukkan pada hari Kamis.
Kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh memperkuat kepercayaan The Fed terhadap perekonomian, memungkinkan para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna memastikan inflasi terus mereda. Emas batangan, pada gilirannya, tertekan oleh suku bunga tinggi karena sifatnya yang tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini menantikan data inflasi AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
"Tampaknya ekspektasinya adalah inflasi utama akan melambat dari 2,7% menjadi 2,5%, mungkin serendah 2,4%. Hal itu dapat menghidupkan kembali beberapa spekulasi penurunan suku bunga dan kemungkinan akan menguntungkan emas," ujar Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals.
Kamis, 12 Februari 2026
Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini
Equityworld Futures | Kata Ahli soal Nasib Harga Emas, Bisa-bisa Jadi Segini
Equityworld Futures | Berdasarkan kajian teknikal yang disampaikan oleh analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, struktur pergerakan harga emas saat ini masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat.
Equityworld Futures | Harga Emas Turun US$5.058,64 dan Perak Merosot ke US$82,87 pada Kamis (12/2) Pagi
Pola candlestick yang terbentuk, dikombinasikan dengan indikator Moving Average, mengindikasikan bahwa tren bullish pada XAU/USD justru tetap terjaga dan cenderung menguat.
Hal ini mencerminkan bahwa minat beli investor terhadap emas masih cukup solid, terutama setelah terjadinya koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Andy menilai bahwa tekanan turun yang muncul lebih bersifat sebagai fase konsolidasi atau koreksi teknikal dalam tren naik jangka menengah hingga panjang, bukan sebagai sinyal perubahan arah tren secara menyeluruh.
Lebih lanjut, Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga emas mampu bertahan di atas area support penting, peluang terjadinya penguatan lanjutan masih sangat terbuka.
“Jika dorongan bullish kembali mendominasi pasar dan didukung oleh sentimen global yang kondusif, maka XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji area resistance berikutnya di sekitar level 5.232,” kata Andy dalam laporannya, Rabu (11/2/2026).
Apabila harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan dan kembali berada di bawah tekanan jual, maka penurunan berpotensi mengarah ke area support terdekat di kisaran 4.841, yang menjadi batas penting untuk menjaga kesinambungan tren naik.
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas saat ini masih dipengaruhi oleh stabilnya nilai tukar dolar AS serta meningkatnya selera risiko di pasar keuangan global. Pada sesi awal perdagangan Asia hari Rabu, harga emas tercatat melemah mendekati level US$ 5.045, seiring pelaku pasar mencoba mengevaluasi apakah harga telah membentuk titik terendah setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sebelumnya.
Indeks Dolar AS (DXY) yang bergerak relatif datar di area 96,78 turut menjadi faktor yang menahan laju penguatan emas dalam jangka pendek, mengingat hubungan terbalik antara dolar AS dan harga logam mulia.
Meski demikian, faktor geopolitik masih memberikan dukungan signifikan terhadap harga emas. Ketegangan yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor cenderung tetap mempertahankan eksposur terhadap aset lindung nilai seperti emas. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran, serta dinamika diplomatik di kawasan Timur Tengah, menambah ketidakpastian global yang berpotensi membatasi ruang penurunan harga emas lebih dalam.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan mengamati menjelang publikasi laporan ketenagakerjaan dan inflasi. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda diperkirakan menunjukkan penambahan tenaga kerja sekitar 70.000 pada Januari, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di level 4,4 persen. Di sisi lain, data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan dirilis pada akhir pekan ini juga akan menjadi acuan penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Secara keseluruhan, Andy Nugraha menilai bahwa pergerakan harga emas masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bullish. Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter tetap mendukung, harga emas berpeluang kembali melanjutkan tren penguatan. Namun, volatilitas jangka pendek diperkirakan masih akan mewarnai pergerakan pasar, sehingga investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi dan sentimen global secara cermat.
Rabu, 11 Februari 2026
Equityworld Futures | Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons
Equityworld Futures | Meski Tergelincir, Harga Emas Dunia Masih di Atas USD5.000/Ons
Equityworld Futures | Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Fokus pasar tertuju pada serangkaian rilis data.
Equityworld Futures | Harga Emas Loyo Lagi, Gagal Memanfaatkan Kelemahan “Musuh Abadi”
Mengutip Yahoo Finance, Rabu, 11 Februari 2026, harga emas berjangka sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, turun 0,5 persen menjadi USD5.053,80 per troy ons.
Sementara harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini tetap stabil di level USD5.040,04. Adapun rekor tertinggi harga emas mencapai USD5.594,82 yang terjadi pada perdagangan 29 Januari 2026.
Fokus pasar saat ini tertuju pada serangkaian rilis data, termasuk penjualan ritel Desember, angka indeks harga konsumen Januari, dan laporan penggajian non-pertanian Januari. Data ini diharapkan memberikan sinyal lebih lanjut tentang arah suku bunga Federal Reserve AS.
Pasar pelototi data ekonomi makro AS
Anil Deshpande, analis komoditas yang berbasis di Mumbai mengatakan pasar sedang dalam mode menunggu. Serta mengamati menjelang data makro utama Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis akhir pekan ini.
"Kejutan apa pun dalam data pekerjaan atau inflasi dapat dengan cepat mengubah ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dan menggerakkan harga logam mulia secara tajam ke salah satu arah," tutur dia.
Logam mulia terus mengalami penurunan dari rekor tertingginya yang dicapai pada akhir Januari, setelah reli yang menurut banyak pedagang telah berlangsung terlalu jauh dan terlalu cepat. Reli tersebut memicu aksi ambil untung di seluruh pasar logam mulia.
Saat ini, investor memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, dengan penurunan pertama berpotensi terjadi pada Juni. Emas, yang tidak menawarkan imbal hasil, biasanya diuntungkan dari lingkungan suku bunga yang lebih rendah.
Selasa, 10 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS
Equityworld Futures | Harga Emas Turun 1% dan Perak 2,5% Selasa (10/2) Pagi, Seiring Penguatan Dolar AS
Equityworld Futures | Harga emas dan perak melemah pada Selasa (10/2/2026) setelah mencatat penguatan selama dua sesi berturut-turut.
Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-tiba Naik 2%, Ternyata Gara-gara Dolar
Koreksi terjadi seiring penguatan tipis dolar Amerika Serikat (AS) dari level terendah lebih dari sepekan, sementara pelaku pasar menanti data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan dirilis pekan ini untuk mengukur arah suku bunga.
Melansir Reuters, harga emas spot turun 1% ke level US$5.016,56 per ons troi pada pukul 00.55 GMT. Sehari sebelumnya, logam mulia ini menguat sekitar 2% setelah dolar AS melemah ke posisi terendah lebih dari sepekan.
Emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ons pada 29 Januari lalu.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 0,8% ke US$5.041,60 per ons troi.
Harga perak spot turun lebih dalam, yakni 2,5% ke US$81,31 per ons troi, setelah melonjak hampir 7% pada sesi sebelumnya.
Perak juga sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di US$121,64 per ons troi pada 29 Januari.
Penguatan dolar tercermin dari indeks dolar AS yang naik 0,2% dari level terendah lebih dari sepekan pada sesi sebelumnya.
Dolar yang lebih kuat membuat harga logam mulia berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan.
Di pasar global, indeks saham menguat pada Senin, dengan saham teknologi AS memimpin kenaikan Wall Street, seiring investor memburu saham-saham murah setelah tekanan pasar pekan lalu.
Di Asia, yen Jepang menguat menyusul kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilihan umum.
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan bahwa pertumbuhan lapangan kerja AS berpotensi melambat dalam beberapa bulan ke depan akibat perlambatan pertumbuhan angkatan kerja dan peningkatan produktivitas.
Pandangan ini turut mempengaruhi perdebatan kebijakan yang tengah berlangsung di Federal Reserve.
Saat ini, investor memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada 2026, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada Juni.
Lingkungan suku bunga rendah umumnya menguntungkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menanti laporan nonfarm payrolls AS untuk Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta data inflasi pada Jumat, sebagai petunjuk lanjutan arah kebijakan moneter The Fed.
Sementara itu, harga platinum spot turun 1,6% ke US$2.088,71 per ons troi, sedangkan palladium melemah 1,7% ke US$1.710,68 per ons troi.
Senin, 09 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Berguncang Keras, Pakar Nilai Tren Naik Belum Berakhir
Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Berguncang Keras, Pakar Nilai Tren Naik Belum Berakhir
Equityworld Futures | Pergerakan harga emas dan perak kembali diguncang volatilitas ekstrem setelah aksi jual tajam pada pekan lalu. Meski harga masih berfluktuasi dan berada di bawah level resistensi krusial, para analis menilai fondasi fundamental yang menopang tren jangka panjang logam mulia tetap solid.
Equityworld Futures | Bikin Deg-Degan, Ini Ramalan Terbaru Harga Emas Usai Drama Menegangkan
Dikutip dari Kitco, optimisme tersebut muncul di tengah kondisi pasar yang masih jauh dari stabil. Di tengah gejolak tersebut, emas gagal mempertahankan penguatan di atas US$ 5.000 per ons troi. Harga emas ditutup melesat 3,99% di level US$ 4.961,15 per ons troi pada Jumat (6/2/2026).
Sementara itu, pergerakan perak bahkan lebih liar. Harga perak spot juga belum mampu bertahan di atas US$90 per ons. Meski sempat tertekan oleh aksi jual, Jumat, harga perak ditutup melesat 9,43% di level US$ 78,01 per ons.
Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht menilai, pelaku pasar logam mulia masih mencari arah yang jelas di tengah ketidakpastian global. “Fluktuasi harga kemungkinan akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Namun, untuk jangka menengah, kami menilai harga logam mulia masih memiliki penopang yang kuat,” ujarnya.
Senior Market Analyst Pepperstone Michael Brown mencatat, volatilitas tersirat perak untuk tenor satu bulan kini bahkan melampaui volatilitas Bitcoin. Meski demikian, ia menilai fase konsolidasi dalam rentang lebar justru membuka peluang akumulasi.
“Yang penting, harga spot masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari. Ini menunjukkan momentum masih sedikit berpihak pada kubu bullish,” kata Brown seraya menambahkan, pasar membutuhkan periode pergerakan mendatar untuk memastikan euforia spekulatif yang sebelumnya melanda pasar logam mulia benar-benar mereda.
Hal senada diungkapkan Senior Market Analyst XS.com Rania Gule. Ia menilai volatilitas emas dan perak mencerminkan ketidakpastian mendalam di kalangan investor, yang dipicu kekhawatiran inflasi dan resesi, perubahan ekspektasi kebijakan moneter, serta meningkatnya risiko geopolitik.
Menurut Gule, meski harga emas berpotensi bertahan di bawah US$ 5.000 per ons troi dalam waktu dekat, peluang menuju US$ 6.000 per ons troi hingga akhir tahun masih terbuka.
“Pendorong bullish belum sepenuhnya habis. Namun, investor kini lebih selektif dan berhati-hati. Kenaikan harga ke depan kemungkinan tidak lagi impulsif, melainkan disertai koreksi dan lebih didorong faktor fundamental dibandingkan spekulasi semata,” jelasnya, seraya menegaskan pasar logam mulia saat ini berada dalam fase reposisi, bukan pembalikan tren.
Pandangan optimistis juga datang dari Market Analyst Solomon Global Nick Cawley yang menilai volatilitas saat ini hanya bersifat jangka pendek.
“Saya memperkirakan level US$ 5.000 per ons troi akan kembali ditembus dalam beberapa pekan ke depan, dengan potensi uji ulang area US$ 5.600 per ons troi pada kuartal II. Koreksi pasar setelah reli kuat adalah hal yang sehat, dan secara teknikal prospeknya masih positif,” ujarnya.
Jumat, 06 Februari 2026
Equityworld Futures | Kiamat Datang! Harga Emas Ambruk 3%, Perak Jeblok 16% dalam 24 Jam
Equityworld Futures | Kiamat Datang! Harga Emas Ambruk 3%, Perak Jeblok 16% dalam 24 Jam
Equityworld Futures | Kiamat harga emas dan perak terjadi pada Kamis kemarin. Kedua logam mulia ini terjun bebas, bahkan harga perak kembali menyentuh level terburuk sejak Desember 2025. Penguatan dolar menjadi faktor anjloknya harga beberapa komoditas termasuk emas dan perak.
Equityworld Futures | Harga Emas Ambruk Lagi, Saatnya Jual atau Beli?
Pada perdagangan Kamis (5/2/2026), harga emas dunia turun 3,13% di level US$4.860,58 per troy ons. Harga emas kembali ambruk usai penguatan yang terjadi dalam dua hari sebelumnya. Harga penutupan kemarin adalah yang terendah sejak 2 Februari 2025.
Pada perdagangan hari ini Jumat (6/2/2026) hingga pukul 06.35 WIB, harga emas dunia di pasar spot jeblok 1,17% di posisi US$4.750 per troy ons.
Harga emas turun pada perdagangan Kamis, sementara perak merosot hampir 14%, karena dolar yang lebih kuat dan penurunan pasar yang luas mendorong investor untuk melikuidasi kepemilikan logam mulia.
Pada perdagangan Kamis (5/2/2026), harga indeks dolar (DXY) menguat 0,32% di level 97,93. Penguatan ini menjadi kenaikan DXY selama dua hari beruntun, dan menjadi level tertinggi dua minggu. Bahkan dari sisi pasar saham, S&P 500 merosot ke level terendah hampir dua minggu, dan Nasdaq anjlok ke level terendah dalam lebih dari dua bulan.
"Beberapa orang menghadapi masalah margin dan mungkin menutup posisi logam mulia karena kerugian di pasar saham. Secara fundamental, tidak ada yang berubah," ujar Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Logam mulia telah berfluktuasi dalam beberapa sesi terakhir, dengan emas dan perak mencatatkan kerugian tercuram dalam beberapa dekade terakhir pada Jumat lalu setelah mencapai rekor tertinggi.
"Pergerakan seperti itu tidak diperbaiki dalam semalam, dan volatilitas tetap tinggi, pasar biasanya membutuhkan waktu untuk mencerna, yang seringkali menyebabkan penurunan lebih lanjut," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Dari sisi geopolitik, Rusia dan Ukraina menyepakati pertukaran tahanan besar-besaran setelah pembicaraan yang dimediasi AS, dan Presiden Donald Trump mengadakan panggilan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang ia gambarkan sebagai sangat positif meskipun ada ketegangan atas Taiwan, sementara perhatian juga beralih ke pembicaraan AS-Iran yang akan datang di Oman pada hari Jumat.
Logam mulia telah berfluktuasi dalam beberapa sesi terakhir, dengan emas dan perak mencatatkan kerugian tercuram dalam beberapa dekade terakhir pada Jumat lalu setelah mencapai rekor tertinggi.
"Pergerakan seperti itu tidak diperbaiki dalam semalam, dan volatilitas tetap tinggi, pasar biasanya membutuhkan waktu untuk mencerna, yang seringkali menyebabkan penurunan lebih lanjut," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Dari sisi geopolitik, Rusia dan Ukraina menyepakati pertukaran tahanan besar-besaran setelah pembicaraan yang dimediasi AS, dan Presiden Donald Trump mengadakan panggilan telepon dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang ia gambarkan sebagai sangat positif meskipun ada ketegangan atas Taiwan, sementara perhatian juga beralih ke pembicaraan AS-Iran yang akan datang di Oman pada hari Jumat.
Sementara itu, JP Morgan mengatakan dalam sebuah catatan bahwa emas dan perak kemungkinan tidak akan sepenuhnya terpisah.
Namun, valuasi perak yang relatif tinggi membuatnya rentan terhadap koreksi besar dalam sesi yang penuh risiko, bahkan ketika bank tersebut melihat batas bawah jangka pendek yang lebih tinggi sekitar US$75-US$80 per troy ons dan pemulihan menuju US$90 per troy ons tahun depan.
Kamis, 05 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Sudah di Atas US$5.000/Troy Ons, Mau Jual atau Beli?
Equityworld Futures | Harga Emas Sudah di Atas US$5.000/Troy Ons, Mau Jual atau Beli?
Equityworld Futures | Harga emas dunia naik pada perdagangan kemarin. Harga sang logam mulia genap naik dua hari beruntun.
Equityworld Futures | Pesta Pora Lagi! Harga Emas Tahu-Tahu Sudah Tembus US$5.000
Pada Rabu (4/2/2026), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 5.020,2/troy ons. Menguat 1,49% dibandingkan hari sebelumnya.
Harga emas pun resmi naik dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga bertambah 7,73%.
Harga aset ini berhasil bangkit usai koreksi yang teramat dalam. Pada 29 Januari-2 Februari, harga emas ambruk 14,02%.
Jadi, sepertinya investor menilai harga emas sekarang sudah ‘murah’, Aksi borong pun terjadi, sehingga harga emas melambung.
Fidelity International, lembaga keuangan yang banyak melepas emas akhir pekan lalu, sudah berencana untuk membelinya kembali.
“Jika kita melihat koreksi 5% atau 7% terjadi lagi, maka saya akan beli. Secara struktural, sentimen jangka menengah masih positif bagi harga emas untuk melanjutkan reli,” tegas George Efstathopoulos dari Fidelity International, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Rabu, 04 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Saham Tambang Global Ikut Menguat
Equityworld Futures | Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Saham Tambang Global Ikut Menguat
Equityworld Futures | Harga emas dan perak dunia melonjak tajam pada perdagangan Selasa (3/2/2026), setelah mengalami aksi jual hebat pada akhir pekan lalu. Kebangkitan harga logam mulia ini ikut mengangkat saham-saham tambang serta produk reksa dana berbasis logam mulia di berbagai bursa global.
Equityworld Futures | Akhirnya Harga Emas Terbang Lagi Usai Hancur Lebur, Tembus US$4.900
Harga emas spot tercatat melonjak 6,17% ke level US$ 4.947,61 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) melesat 6,87% dan bergerak di kisaran US$ 4.971,01 per ons troi.
Harga perak juga mencatatkan pemulihan signifikan. Harga perak spot melejit 7,95% ke sekitar US$ 85,5 per ons, sedangkan perak berjangka melonjak 10,84% ke level US$ 85,42 per ons.
Dikutip dari CNCB Internasioal, penguatan ini menjadi respons atas kejatuhan tajam sebelumnya. Pada Jumat (30/1/2026), harga emas anjlok hampir 10%, sementara harga perak ambrol hingga 30% dalam satu hari, menjadi penurunan harian terburuk sejak 1980.
Seiring naiknya harga logam mulia, saham-saham pertambangan dan exchange-traded funds (ETF) berbasis emas dan perak yang tercatat di berbagai negara turut mencatatkan penguatan.
Di Bursa London, saham perusahaan tambang besar bergerak positif. Rio Tinto naik 2,2%, Anglo American menguat lebih dari 3%, dan Antofagasta melonjak 2,5%. Fresnillo, produsen perak terbesar dunia sekaligus saham dengan kinerja terbaik di indeks FTSE 100 sepanjang 2025, tercatat naik 3,1%.
Di AS, ETF berbasis perak mencatat lonjakan signifikan menjelang pembukaan pasar. ProShares Ultra Silver ETF melonjak sekitar 15%, sementara abrdn Physical Silver Shares ETF dan iShares Silver Trust (SLV), yang sebelumnya menjadi pusat euforia investor ritel, masing-masing menguat sekitar 8,3%.
Saham-saham perusahaan tambang emas dan perak yang tercatat di AS juga bergerak naik tajam. Endeavour Silver melonjak 7,5% pada perdagangan pra-pasar, Coeur Mining menguat 7,7%, sementara Hecla Mining dan First Majestic Silver masing-masing naik sekitar 8%.
Pemulihan harga ini terjadi di tengah evaluasi investor atas apakah kejatuhan sebelumnya menandai perubahan struktural pasar, atau sekadar reaksi berlebihan terhadap faktor jangka pendek.
Analis Deutsche Bank menilai sejarah menunjukkan pergerakan tersebut lebih dipicu faktor jangka pendek, meski skala aksi jual memang memunculkan pertanyaan baru terkait posisi pasar. Bank tersebut mencatat bahwa meskipun aktivitas spekulatif meningkat dalam beberapa bulan terakhir, faktor tersebut belum cukup menjelaskan besarnya kejatuhan harga pekan lalu.
“Penyesuaian harga logam mulia tampaknya melampaui signifikansi pemicu yang ada. Selain itu, niat investor, baik resmi, institusional, maupun individu, kemungkinan besar tidak berubah menjadi lebih negatif,” tulis Deutsche Bank dalam risetnya.
Selasa, 03 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Runtuh Lagi, Sampai Kapan?
Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Runtuh Lagi, Sampai Kapan?
Equityworld Futures | Harga emas dunia kembali melemah pada awal pekan ini, melanjutkan tekanan tajam yang terjadi setelah aksi jual besar-besaran pada akhir pekan lalu. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS serta perubahan sentimen pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok Parah Lagi, Kebijakan CME Picu Gelombang Jual
Dikutip dari CNBC, Selasa (3/2/2026), harga emas spot tercatat turun lebih dari 4% dan berada di kisaran USD 4.662,43 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas masih tertekan sekitar 1% ke level USD 4.694,60 per ons. Penurunan ini terjadi setelah harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi baru pekan lalu.
Tekanan di pasar logam mulia semakin kuat setelah CME Group menaikkan persyaratan margin pasca aksi jual tajam. Margin kontrak berjangka emas COMEX dinaikkan menjadi 8% dari sebelumnya 6%. Kebijakan ini dinilai mempersempit ruang spekulasi jangka pendek di pasar emas.
Analis CMC Markets, Christopher Forbes, menilai koreksi harga emas saat ini bersifat teknikal dan masih tergolong wajar. Menurutnya, penurunan tersebut merupakan koreksi klasik setelah reli yang luar biasa, bukan sinyal perubahan tren jangka panjang.
“Penurunan harga emas ini adalah koreksi klasik setelah kenaikan yang sangat kuat,” ujar Forbes.
Ia menambahkan, aksi ambil untung, penguatan dolar AS, serta perkembangan geopolitik terbaru dari Washington turut menekan minat beli.
Indeks dolar AS sendiri menguat sekitar 0,8% sejak Kamis lalu. Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar menjadi kurang menarik bagi investor global. Selain itu, prospek kebijakan moneter yang lebih ketat juga meningkatkan daya tarik obligasi pemerintah AS dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dalam jangka pendek, Forbes memperkirakan harga emas masih akan bergerak tinggi namun volatil, sembari pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Senin, 02 Februari 2026
Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok 3,14 Persen ke USD 51,85 Usai Reli Panjang
Equityworld Futures | Harga Emas Anjlok 3,14 Persen ke USD 51,85 Usai Reli Panjang
Equityworld Futures | Harga emas tersungkur pada penutupan perdagangan di New York, Amerika Serikat. Logam mulia itu anjlok 3,14 persen atau 1,68 poin ke level USD 51,85 per unit pada Jumat (30/1) malam waktu setempat.
Equityworld Futures | Harga Emas Koreksi Brutal, Pakar Sebut Ini Bukan Akhir Tren
Berdasarkan data Bloomberg, emas dibuka di USD 51,11. Sementara harga penutupan sebelumnya berada di USD 53,53. Sepanjang hari, harga bergerak di rentang USD 50,09 hingga USD 53,32.
Volume transaksi tercatat 1.132.747 dengan kapitalisasi pasar sekitar USD 1,278 miliar. Dalam 52 minggu terakhir, harga emas bergerak di kisaran USD 19,39–USD 57,66.
Koreksi ini terjadi setelah harga emas naik cukup lama dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan didorong pembelian besar-besaran oleh bank sentral sebagai alternatif dolar AS, serta investor global yang mencari aset aman saat nilai mata uang melemah.
Kenaikan harga emas telah berlangsung dengan lebih pesat dalam beberapa minggu terakhir, didorong oleh gelombang pembelian dari spekulator China.
Saat harga emas melonjak, penasihat perdagangan komoditas yang mengikuti tren pun ikut serta, menambah gejolak pada reli tersebut.
“Sekitar tiga atau empat minggu lalu kami telah mengidentifikasi bahwa ini berubah menjadi perdagangan momentum, bukan perdagangan fundamental,” kata Jay Hatfield , Kepala Investasi di hedge fund Infrastructure Capital Advisors.
Selain itu kekhawatiran atas independensi The Fed dan konfrontasi geopolitik dari Venezuela hingga Iran yang mendominasi berita utama, reli logam mulia menjadi simbol meningkatnya ketidakpercayaan sebagian investor terhadap dolar AS.
Seiring momentum kenaikan harga logam mulia menarik semakin banyak pembeli, demam emas dan perak melanda para pembeli dari Tiongkok hingga Jerman dalam pemandangan yang mengingatkan pada tahun 1979-1980, satu-satunya waktu lain dalam sejarah modern di mana pasar mengalami perubahan harga yang begitu dramatis.
“Untuk ukuran batangan tertentu, stok sudah habis terjual beberapa minggu sebelumnya, namun orang-orang tetap membelinya,” kata Sperzel dari Heraeus, yang mengatakan perusahaannya beroperasi dengan kapasitas maksimal untuk mencoba memenuhi permintaan.
“Orang-orang mengantre berjam-jam di depan toko-toko ini untuk membeli produk,” tambahnya.
Pergerakan harga paling dramatis terjadi pada perak, pasar yang relatif kecil dengan pasokan tahunan hanya senilai USD 98 miliar pada harga saat ini, dibandingkan dengan USD 787 miliar untuk emas.
Pada hari Jumat, iShares Silver Trust, dana yang diperdagangkan di bursa terbesar yang didukung oleh perak yang dikenal dengan kode saham SLV, mencatat volume perdagangan lebih dari USD 40 miliar.